Tren “Ikan Besi” Viral di Media Sosial: Benarkah Bisa Meningkatkan Kadar Zat Besi?

  • 12 Apr 2026 14:07 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Di tengah maraknya tips kesehatan di media sosial, muncul tren unik yang menarik perhatian, memasukkan benda berbentuk ikan dari besi yang sering disebut lucky iron fish ke dalam masakan untuk meningkatkan kadar zat besi tubuh. Tren ini ramai dibicarakan di berbagai platform, namun para ahli mengingatkan bahwa efektivitasnya tidak sesederhana yang terlihat sebagaimana diulas dalam laporan Women’s Health.

Praktiknya cukup sederhana. Sebuah “ikan besi” kecil dimasukkan ke dalam air mendidih atau masakan seperti sup, kari, atau teh, biasanya bersama bahan asam seperti perasan lemon. Tujuannya adalah agar sebagian kecil zat besi larut ke dalam makanan dan kemudian dikonsumsi.

Secara teori, metode ini memang memiliki dasar ilmiah. Zat besi dari logam dapat larut dalam cairan, terutama jika dipanaskan bersama bahan asam. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa teknik serupa termasuk penggunaan alat masak berbahan besi yang dapat membantu meningkatkan kadar hemoglobin dalam jangka pendek, khususnya pada populasi dengan defisiensi zat besi.

Namun, para ahli menekankan bahwa bukti ilmiah yang ada masih terbatas. Efektivitasnya sangat bergantung pada banyak faktor, seperti lama pemanasan, jumlah cairan, hingga kondisi tubuh individu. Selain itu, sebagian studi yang mendukung metode ini dinilai belum cukup kuat atau memiliki keterbatasan tertentu.

Zat besi sendiri merupakan nutrisi penting bagi tubuh. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan kelelahan, pusing, hingga gangguan kesehatan serius jika tidak ditangani. Karena itu, metode alternatif seperti “ikan besi” memang terlihat menarik, terutama bagi mereka yang ingin meningkatkan asupan zat besi secara alami.

Meski demikian, pendekatan ini bukan tanpa risiko. Karena sulit mengukur berapa banyak zat besi yang benar-benar terserap, pengguna bisa saja mendapatkan terlalu sedikit atau justru berlebihan. Kelebihan zat besi dalam tubuh dapat memicu masalah kesehatan, termasuk kerusakan organ seperti hati dan jantung.

Para pakar menyarankan agar siapa pun yang ingin mencoba metode ini terlebih dahulu memeriksa kondisi kesehatannya, terutama kadar zat besi dalam darah. Penggunaan “ikan besi” bisa dipertimbangkan sebagai pelengkap, tetapi bukan pengganti pengobatan medis atau suplemen yang diresepkan dokter.

Sebagai alternatif yang lebih terukur, konsumsi makanan kaya zat besi seperti daging, kacang-kacangan, dan sayuran hijau tetap menjadi pilihan utama. Mengombinasikannya dengan vitamin C juga diketahui dapat membantu penyerapan zat besi secara lebih optimal.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana tren kesehatan di media sosial bisa berangkat dari konsep ilmiah, tetapi tetap memerlukan pemahaman yang lebih dalam sebelum diterapkan secara luas seperti disoroti dalam laporan Women’s Health.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....