Puter Kayun Boyolangu: Napak Tilas Janji Leluhur di Ujung Syawal
- 30 Mar 2026 19:27 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Banyuwangi – Pagi di Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Banyuwangi, terasa lebih semarak pada setiap 10 Syawal. Denting lonceng kuda dan derap roda dokar menjadi penanda dimulainya Ritual Puter Kayun, sebuah tradisi turun-temurun yang sarat makna napak tilas dan penghormatan kepada leluhur.
Dua dokar (delman dalam bahasa Osing) berhias megah tampak bersiap di tengah kampung. Ukiran warna-warni dan ornamen khas Banyuwangi menghiasi badan delman, menjadikannya bukan sekadar alat transportasi, melainkan simbol perjalanan spiritual. Di sampingnya, para kusir berdiri siap, salah satunya Abdul Mufid (65), yang telah puluhan tahun setia menjaga profesinya.
“Saya sudah jadi kusir sejak 1971. Setiap tahun ikut Puter Kayun. Yang terpenting dari tradisi ini adalah napak tilasnya,” ujar Mufid dengan mata berbinar,. Senin 30 Maret 2026.
Puter Kayun bukan sekadar arak-arakan. Ia adalah janji yang terus dijaga warga Boyolangu kepada leluhur mereka, khususnya Ki Buyut Jaksa, sosok yang dipercaya berjasa membuka akses jalan di kawasan utara Banyuwangi.
Ketua Panitia sekaligus tokoh pemuda Boyolangu, Risyal Alfani, menuturkan kisah yang hidup di tengah masyarakat. Konon, saat masa penjajahan, wilayah utara Banyuwangi terhalang gundukan batu besar yang sulit ditembus.
“Belanda meminta bantuan Ki Buyut Jaksa untuk membuka jalan. Setelah bersemedi di Gunung Silangu, beliau berhasil membongkar batu tersebut. Dari situlah muncul nama Watu Dodol, yang artinya batu yang dibongkar,” tutur Risyal.
Sejak saat itu, Ki Buyut Jaksa berpesan agar keturunannya terus melakukan napak tilas ke Pantai Watu Dodol sebagai bentuk penghormatan atas perjuangannya. Tradisi itu kemudian diwujudkan melalui perjalanan menggunakan dokar, sesuai profesi mayoritas warga Boyolangu di masa lalu.
Namun tahun ini, rute perjalanan sedikit berbeda. Jika biasanya iring-iringan dokar menuju Pantai Watu Dodol, kali ini perjalanan hanya berputar di kawasan kota. Kepadatan arus kendaraan menuju Pelabuhan Ketapang membuat rombongan harus menyesuaikan.
Meski demikian, semangat warga tak surut. Beberapa warga bahkan tetap berusaha mengikuti iring-iringan dengan sepeda motor, menembus kemacetan demi menjadi bagian dari tradisi.
“Biasanya kami ikut rombongan dengan mobil, tapi sekarang pakai motor supaya bisa tetap ikut,” ujar salah satu warga.
Bagi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Puter Kayun bukan hanya ritual budaya, tetapi juga bagian dari kekayaan pariwisata daerah. Tradisi ini dinilai mampu menarik perhatian wisatawan sekaligus menjaga identitas lokal.
“Banyuwangi berkomitmen melestarikan tradisi lokal, termasuk Puter Kayun. Selain menjaga nilai budaya, ini juga menjadi daya tarik wisata,” kata Pelaksana Tugas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Hartono.
Ritual Puter Kayun sendiri merupakan puncak dari rangkaian Boyolangu Traditional Culture. Sebelumnya, warga menggelar Lebaran Kopat pada 7 Syawal, dilanjutkan tradisi Kebo-Keboan pada 9 Syawal, sebelum akhirnya mencapai puncak napak tilas di hari ke-10.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....