Lebaran Kopat Boyolangu: Hangatnya Ketupat, Eratnya Kebersamaan

  • 29 Mar 2026 22:22 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Banyuwangi – Malam di Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, Kabupaten Banyuwangi, terasa berbeda pada Jumat, 28 Maret 2026. Aroma ketupat yang baru matang bercampur dengan suara tawa warga menciptakan suasana hangat yang hanya hadir setahun sekali, saat tradisi Lebaran Kopat digelar.

Sejak sore hari, denyut kehidupan di kampung itu mulai terasa lebih cepat. Di dapur-dapur rumah warga, tangan-tangan terampil sibuk menganyam janur dan memasak ketupat. Sementara di halaman rumah, anak-anak berlarian mengenakan baju koko dan kopiah, dengan sarung yang dililit santai di pinggang atau disampirkan di bahu.

Tak sekadar tradisi makan bersama, Lebaran Kopat menjadi momen penting bagi warga Boyolangu untuk merajut kembali kebersamaan. Di teras-teras rumah, keluarga besar berkumpul, saling berbagi cerita setelah sebulan penuh menjalani ibadah Ramadan.

Saat azan Magrib berkumandang, suasana berubah menjadi lebih khidmat. Warga mulai menyajikan hidangan ketupat lengkap dengan sayur dan lauk pauk khas. Tak ada sekat, semua duduk bersama, menikmati hidangan sederhana yang sarat makna.

Keriuhan yang sempat mengisi sudut-sudut kampung seketika mereda ketika doa bersama dipanjatkan. Kepala-kepala tertunduk, tangan-tangan terangkat, mengalirkan rasa syukur atas nikmat dan kebersamaan yang masih bisa dirasakan.

Usai doa, tawa kembali pecah. Ketupat yang sejak siang dipersiapkan akhirnya disantap bersama. Lebih dari sekadar mengenyangkan, momen ini menjadi pengikat hubungan sosial yang mungkin sempat renggang oleh kesibukan sehari-hari.

Malam kian larut, namun semangat warga tak surut. Selepas salat Isya, panggung sederhana di sudut kampung mulai ramai. Para remaja Boyolangu menampilkan tarian khas Banyuwangi dengan penuh percaya diri, disambut tepuk tangan meriah dari warga yang memadati area.

Di sisi lain, geliat ekonomi lokal ikut terasa. Deretan pelapak UMKM menjajakan aneka makanan dan minuman, memanfaatkan ramainya pengunjung yang datang tidak hanya dari Boyolangu, tetapi juga dari berbagai penjuru Banyuwangi.

Ketua Panitia, Risyal Alfani, menyebut tradisi ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan warisan budaya yang harus terus dijaga.

“Bersyukur bisa berjumpa kembali di Boyolangu Traditional Culture. Kami bangga masyarakat masih peduli menjaga tradisi ini,” ungkapnya.

Sebelum puncak Lebaran Kopat, warga juga menggelar Qhotmil Qur’an dan ziarah ke petilasan Ki Buyut Jaksa. Ritual tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur yang diyakini berjasa dalam perjalanan sejarah wilayah Boyolangu.

Tradisi ini pun menjadi bagian dari rangkaian besar Boyolangu Traditional Culture, yang berlanjut dengan pertunjukan barong lokal, pawai Kebo-Keboan, hingga tradisi Puter Kayun.

Di tengah arus modernisasi, Lebaran Kopat di Boyolangu menjadi pengingat bahwa kebersamaan, gotong royong, dan nilai budaya masih hidup dan tumbuh di tengah masyarakat. Ketupat mungkin sederhana, namun di baliknya tersimpan makna yang begitu dalam—tentang syukur, kebersamaan, dan identitas yang terus dijaga lintas generasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....