Festival Kue Bulan Jadi Ruang Belajar dan Toleransi

  • 29 Sep 2026 18:38 WIB
  •  Jember
Video

RRI.CO.ID, Jember - Tradisi dan budaya tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga dapat menjadi ruang belajar bagi generasi muda untuk memahami keberagaman. Semangat tersebut tergambar dalam kegiatan Festival Kue Bulan yang digelar di Vihara Jagatnata Maitreya Jember. Kegiatan ini mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kabupaten Jember sekaligus menjadi ruang edukasi mengenai pentingnya menjaga tradisi dan budaya.

Penanggung jawab Vihara Jagatnata Maitreya Jember, Adi Wijaya, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran generasi muda bahwa kehidupan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari tradisi dan budaya.

“Yaitu hidup tidak lepas daripada tradisi dan budaya. Harapannya kita, Jagatnata Vihara Maitreya malam hari ini mengumpulkan para mahasiswa se-Kabupaten Jember untuk memberikan suatu edukasi bahwa budaya tradisi itu butuh dilestarikan,” ujar Adi Wijaya.

Bagi para mahasiswa, Festival Kue Bulan juga menjadi pengalaman belajar di luar ruang kelas. Dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Jember, Setyowati Karyaningtyas, mengajak mahasiswa semester lima dan tujuh untuk menjadikan kegiatan tersebut sebagai laboratorium sosial.

Menurutnya, nilai-nilai Pancasila, seperti toleransi dan persatuan, tidak cukup hanya dipelajari secara formal melalui pembelajaran di kelas. Nilai tersebut perlu diimplementasikan secara langsung dalam kehidupan masyarakat.

“Hari ini saya mengajak mahasiswa saya untuk memperingati Festival Kue Bulan sekaligus laboratorium sosial, di mana kita bisa implementasikan nilai-nilai Pancasila yang mengandung toleransi, persatuan, dan sekaligus sebagai harmonisasi bahwa keberagaman itu digunakan sebagai sarana untuk persatuan,” jelasnya.

Setyowati menilai, pengalaman langsung berinteraksi dalam lingkungan yang beragam dapat membantu mahasiswa memahami esensi Pendidikan Kewarganegaraan secara lebih nyata. Ia menyebut, sebagian mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut merupakan mahasiswa semester awal yang selama ini lebih banyak memperoleh pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan secara formal sejak jenjang pendidikan sebelumnya.

“Selama dari PAUD sampai SMA mereka hanya belajar PKN itu secara formal saja, tidak secara implementasinya, tidak secara esensinya. Jadi di sini adalah laboratorium, ternyata bagaimana negara demokrasi itu bisa merajut sebuah keberagaman untuk persatuan bagi tujuan bangsa,” katanya.

Pengalaman berinteraksi dengan tradisi dan praktik keagamaan yang berbeda juga dirasakan langsung oleh mahasiswa Universitas Jember, Ruben Alexander Manihuruk. Menurut Ruben, Festival Kue Bulan menjadi ruang perjumpaan yang membuka kesempatan bagi peserta untuk mengenal secara langsung tradisi dan ritual keagamaan yang berbeda.

Ia menilai, keterbukaan untuk saling mengenalkan tradisi dan cara beribadah dapat menjadi bagian dari proses membangun toleransi di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

“Melalui kegiatan ini merupakan sebuah pembuka bagi toleransi di Indonesia. Karena dengan adanya acara ini, kita diberikan suatu pemahaman bahwa agama yang berbeda dengan agama lain itu menunjukkan kebiasaan atau adat istiadat mereka dan menurut kepercayaan tadi, bagaimana mereka berdoa, bagaimana ritual seperti itu, dan dari mana mereka berdoa,” ujar Ruben Alexander Manihuruk, mahasiswa Universitas Jember.

Ruben berharap pengalaman tersebut dapat mendorong masyarakat untuk semakin terbuka dalam mengenal tradisi dan praktik ibadah dari kelompok lain. Menurutnya, saling memahami menjadi salah satu cara untuk melihat pentingnya adat istiadat dan ritual keagamaan dalam kehidupan masing-masing kelompok.

“Saya harap ke depannya masyarakat Indonesia dapat menerapkan hal-hal yang sama, tidak hanya dengan agama satu dengan agama yang lain. Kita penting untuk menunjukkan bagaimana kita beribadah, kita menerapkan adat istiadat kepada orang lain agar mereka bisa memahami penting dan bergunanya adat istiadat dan ritual ibadah itu kepada orang lain,” lanjutnya.

Sementara itu, anggota Peace Leader dan komunitas Bahai, Agnes, memandang keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut sebagai bagian dari proses menanamkan nilai cinta terhadap keberagaman. Menurutnya, generasi muda memiliki peran penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang menjunjung persatuan dan menghindari kebencian akibat perbedaan.

“Ini suatu kebanggaan yang bisa kita dapatkan bersama anak-anak mahasiswa karena mereka akan mengemas di depan masa, khususnya di dunia, bagaimana mereka menerima keberagaman ini dengan penuh cinta dan kesatuan,” ujar Agnes.

Ia berharap semangat tersebut dapat terus berlanjut meski mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan terus berganti. Dengan demikian, nilai toleransi, persatuan, dan penghargaan terhadap keberagaman dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Festival Kue Bulan akhirnya tidak sekadar menjadi perayaan tradisi, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan. Di tengah keberagaman latar belakang, mahasiswa diajak melihat bahwa tradisi dan budaya dapat menjadi jembatan untuk saling mengenal, memahami, dan memperkuat persatuan.

Saya menempatkan statemen Ruben setelah bagian Setyowati, karena secara alur berita menjadi jembatan dari konsep “laboratorium sosial” menuju pengalaman langsung mahasiswa.

Penulis : Gea Debora

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....