Akses Ekonomi Disabilitas dan OYPMK di Jember Masih Menjadi Tantangan
- 29 Sep 2026 07:33 WIB
- Jember
Video
RRI.CO.ID, Jember - Akses terhadap mata pencaharian dan penguatan ekonomi masih menjadi persoalan yang dihadapi anak dan remaja penyandang disabilitas serta Orang yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) di Kabupaten Jember.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Sinergi Lintas Sektor: Membangun Dukungan Nyata bagi Wirausaha Muda Disabilitas Jember”, yang digelar di Aula Bakorwil V Jember, Selasa (22/9/2026).
Koordinator Tanoker dan Perpenca KUBIK 2.0, Sutopo, mengatakan akses terhadap mata pencaharian dan penguatan ekonomi bagi penyandang disabilitas dan OYPMK masih menghadapi berbagai tantangan.
Menurutnya, isu tersebut belum sepenuhnya menjadi prioritas dalam agenda pembangunan daerah. Ia juga menyebut implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Jember Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas masih perlu diperkuat.
“Stigma sosial masih membatasi akses pendidikan, interaksi sosial, dan kemandirian ekonomi mereka,” ujar Sutopo.
Sutopo menyebut berdasarkan data Dinas Sosial tahun 2024, terdapat lebih dari 7.000 penyandang disabilitas di Kabupaten Jember. Sementara itu, pendataan KUBIK di delapan desa mencatat 232 orang muda dengan disabilitas.
Ia menambahkan, berdasarkan data BPS Jawa Timur 2023, Jember juga termasuk daerah dengan kasus kusta yang cukup tinggi di Jawa Timur.
Untuk memperkuat kemandirian ekonomi, Program KUBIK 2.0 yang merupakan kelompok usaha bisnis inklusif mendorong pengembangan wirausaha muda disabilitas melalui pendekatan sosial dan emosional serta twin track approach.
Program yang berlangsung Januari 2026 hingga Desember 2028 tersebut menyasar 25 calon pengusaha muda di tiga kecamatan, yakni Ledokombo, Silo, dan Arjasa, yang mencakup delapan desa.
Sejumlah sektor usaha yang dikembangkan meliputi agribisnis dan olahan hasil pertanian, seperti kopi bubuk, keripik singkong dan pisang, serta produk pangan kemasan berbasis hasil kebun.Selain itu, terdapat sektor peternakan dan budidaya skala rumah tangga, seperti ayam kampung, budidaya jamur tiram, dan hidroponik sederhana.
Sektor lainnya mencakup kerajinan dan produk kreatif lokal, termasuk kerajinan tangan, anyaman, sulam, serta pengembangan produk khas desa. Program juga membuka peluang di bidang digital dan remote microwork, seperti pengelolaan toko daring, desain, reseller, hingga pembuatan konten promosi produk lokal.
Melalui FGD tersebut, KUBIK 2.0 mendorong sinergi lintas sektor agar dukungan terhadap wirausaha muda penyandang disabilitas dan OYPMK dapat dilakukan secara berkelanjutan, termasuk melalui penguatan akses pelatihan, pendampingan, pemasaran, dan jejaring usaha.
Penulis : Gea Debora
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....