Menyulam Makna lewat Warna dan Huruf

  • 31 Jul 2026 11:39 WIB
  •  Jember
Video

RRI.CO.ID,Jember – Puluhan karya seni menghiasi Gedung Nusantara, Jember, Jawa Timur, dalam sebuah pameran lukisan yang menghadirkan beragam tema, mulai dari kaligrafi hingga karya-karya bernuansa sosial dan budaya. Kegiatan yang diselenggarakan oleh GP Ansor Kencong ini tidak hanya menjadi ajang memamerkan karya seni, tetapi juga mengajak masyarakat untuk lebih mengenal dan menghargai dunia seni rupa.

Sebanyak 90 lukisan dipamerkan dalam kegiatan tersebut. Rangkaian acara sebelumnya juga diisi dengan lomba melukis tingkat Jawa-Bali yang diikuti sekitar 90 peserta dari berbagai daerah, di antaranya Yogyakarta, Sleman, Surabaya, Banyuwangi, Palembang, hingga Sumatera Barat.

Pelaksana pameran sekaligus pelukis, Susmiadi, mengatakan pameran ini bertujuan mendekatkan seni kepada masyarakat sekaligus menumbuhkan apresiasi terhadap karya para seniman.

"Kami mengadakan pameran ini untuk mengenalkan kepada masyarakat bahwa di sini ada pameran lukisan. Harapannya masyarakat Jember semakin menghargai seni, karena tanpa seni kehidupan terasa kurang bermakna," ujar Susmiadi Jumat (31/7/2026).

Dedikasi Susmiadi terhadap dunia seni telah berlangsung cukup lama. Saat masih bekerja di Dinas Pariwisata, ia aktif menggagas berbagai kegiatan seni, mulai dari lomba desain mural tingkat nasional, lomba melukis langsung di Pantai Payangan, hingga Pasar Seni Lukis Indonesia pada 2017 di Warung Kembang, Jember, yang melibatkan pelukis dari berbagai daerah di Indonesia.

Salah satu karya yang menarik perhatian pengunjung mengangkat kisah bangkitnya kehidupan setelah pandemi Covid-19. Lukisan tersebut menampilkan seekor ayam yang berkokok sebelum matahari terbit dengan latar matahari yang muncul dari gapura bergaya Majapahit. Di dalamnya juga terdapat simbol masker yang dibakar sebagai representasi berakhirnya masa pandemi dan lahirnya harapan baru.

Keunikan karya tersebut terletak pada penggunaan limbah bulu ayam kampung sebagai material utama. Bulu-bulu yang umumnya dianggap tidak bernilai diolah menjadi tekstur yang memperkuat karakter objek dalam lukisan.

"Pembuatan lukisan ini memakan waktu sekitar 20 hari. Yang paling lama adalah menyusun bulu ayam satu per satu. Saya mencoba memanfaatkan bahan yang tidak terpakai atau limbah, yaitu bulu ayam kampung," jelas Susmiadi.

Melalui kreativitas dan pemanfaatan material daur ulang, pameran ini menunjukkan bahwa seni tidak hanya menjadi media ekspresi, tetapi juga sarana edukasi, pelestarian budaya, serta penyampaian pesan tentang harapan, ketahanan, dan kepedulian terhadap lingkungan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....