FOMO dan Tekanan Sosial Membuat Gen Z Mudah Membandingkan Diri
- 16 Sep 2026 14:31 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Kebebasan di era digital memberikan banyak ruang bagi generasi muda untuk berekspresi, belajar, dan membangun relasi. Namun di sisi lain, derasnya informasi dan paparan pencapaian orang lain di media sosial juga dapat memunculkan tekanan sosial, rasa tertinggal, hingga kecenderungan membandingkan diri.
Kamelya Dinana sebagai perwakilan dari Ikatan Mahasiswa Alumni Salafiyah Syafi'iyah (IKMASS) Jember, menilai generasi Z saat ini memang memiliki kebebasan yang lebih luas, tetapi kebebasan tersebut tidak selalu membuat mereka terbebas dari tekanan. Salah satu bentuk tekanan yang sering muncul berasal dari kebiasaan melihat kehidupan orang lain melalui media sosial.
“Gen Z ini sekarang kebanyakan kelihatannya baik-baik aja, kayak udah merdeka-merdeka. Maksudnya tidak dijajah oleh negara-negara, tetapi dijajah oleh psikologinya, psikisnya sendiri,” ujar Kamelya dalam program Jaga Malam Pro 2 Jember, Selasa, 4 Agustus 2026.
Menurutnya, melihat pencapaian orang lain secara terus-menerus dapat membuat seseorang merasa minder dan mempertanyakan pencapaian dirinya sendiri.
“Ketika misalkan melihat medsos orang-orang udah pada sukses, eh dia minder, insecure, ‘Kok aku masih gini-gini aja ya?” lanjutnya.
Sementara itu, Khoirotun Nisa yang juga sebagai bagian dari IKMASS Jember, melihat fenomena tersebut semakin dekat dengan kehidupan anak muda karena penggunaan media sosial telah menjadi bagian dari keseharian. Pada rentang usia sekitar 19 hingga 25 tahun, misalnya, aktivitas scrolling dan mengikuti tren media sosial menjadi hal yang cukup umum.
Ia menyebut munculnya tren di TikTok maupun platform lainnya terkadang membuat seseorang merasa harus ikut agar tidak dianggap tertinggal.
“Kalau misalnya ada tren TikTok ini kita enggak ikutin kan dianggap kudet gitu ya. Nah, jadi kayak ini dekat banget bahkan kita sendiri yang ngalamin,” kata Nisa dalam program yang sama.
Kamelya menjelaskan bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan Fear of Missing Out (FOMO) atau rasa takut tertinggal. Ketika seseorang melihat pencapaian orang lain, muncul keinginan untuk mengikuti pencapaian tersebut agar tidak merasa tertinggal. Namun, menurutnya, setiap orang memiliki perjalanan dan waktu yang berbeda.
“Perjalanan hidup setiap manusia kan beda-beda, punya waktunya, beda-beda suksesnya,” jelas Kamelya.
Tekanan tersebut dapat semakin terasa ketika kebiasaan membandingkan diri berlangsung terus-menerus. Kamelya mengatakan, kondisi yang awalnya berupa overthinking dan rasa tidak percaya diri dapat berkembang menjadi stres, kecemasan, hingga hilangnya motivasi.
Sementara Nisa menambahkan bahwa terlalu banyak melihat kehidupan orang lain juga dapat membuat seseorang kehilangan arah dan bahkan menjauh dari rencana yang sebelumnya telah dibuat.
“Jadi karena kebanyakan scrolling itu terlena, nah jadinya kayak sudah melenceng dari perencanaan awal gara-gara gangguan-gangguan dari luar,” ungkap Nisa.
Meski demikian, Nisa menilai media sosial bukan satu-satunya sumber tekanan sosial yang dirasakan Gen Z. Menurutnya, tuntutan dari keluarga, lingkungan pertemanan, dunia pendidikan, maupun masyarakat sebenarnya sudah ada sejak sebelum era media sosial.
Media sosial kemudian membuat pencapaian orang lain semakin mudah terlihat sehingga tekanan tersebut terasa lebih kuat.
| Baca juga: Cek Fakta Informasi Gunung Semeru |
“Bukan yang utama sih, Kak. Cuma yang memperbesar sebenarnya tuntutan yang sudah ada sejak dulu,” kata Nisa.
Ia mencontohkan standar sosial seperti anggapan bahwa seseorang pada usia tertentu harus sudah memiliki pasangan, rumah, pekerjaan mapan, atau kendaraan. Ketika seseorang belum mencapai standar tersebut, ia dapat merasa gagal meskipun sebenarnya telah berusaha keras.
“Standar itu yang bikin kita merasa, ‘Aduh gimana ya, gimana ya,’ jadi yang benar yang disebutkan Kamel tadi kayak overthinking berlebihan,” ujarnya.
Kamelya menambahkan bahwa persoalan juga dapat muncul ketika seseorang terlalu bergantung pada validasi media sosial. Jumlah likes, followers, dan views kemudian dianggap sebagai ukuran keberhasilan maupun nilai diri.
Padahal, menurutnya, angka-angka tersebut hanya menunjukkan interaksi di media sosial dan bukan ukuran atas seberapa berharga atau berpotensinya seseorang.
“Nilai diri kita itu enggak bisa kita tentukan dari jumlah likes, jumlah followers,” tegas Kamelya.
Karena itu, refleksi terhadap tekanan sosial di era digital tidak berarti harus meninggalkan media sosial sepenuhnya. Yang menjadi perhatian adalah cara seseorang menggunakan media sosial dan bagaimana menyikapi informasi yang ditemui.
Bagi Gen Z, kemampuan memahami bahwa setiap orang memiliki proses dan waktu masing-masing menjadi salah satu bagian penting untuk menghadapi tekanan sosial yang muncul di ruang digital.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....