Kenali Peer Pressure Remaja dan Cara Menghadapinya

  • 16 Sep 2026 16:25 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Tekanan dari lingkungan pertemanan atau peer pressure menjadi salah satu hal yang kerap dihadapi remaja dalam kehidupan sehari-hari. Pengaruh tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari ajakan secara langsung hingga dorongan dari dalam diri untuk mengikuti gaya hidup maupun kebiasaan kelompok. Hal tersebut dibahas dalam program Jaga Malam Pro 2 RRI Jember bersama pengurus Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) “Jendela” SMA Negeri 4 Jember pada Senin, 14 September 2026.

Dalam dialog tersebut dijelaskan bahwa peer pressure merupakan dorongan dari lingkungan teman sebaya yang membuat seseorang merasa perlu berpikir atau bertindak sesuai dengan kelompoknya. Menurut pengurus PIK-R “Jendela” SMA Negeri 4 Jember, masa remaja menjadi periode yang cukup rentan terhadap tekanan sebaya karena berada dalam proses pencarian jati diri. Pada fase ini, remaja mulai mengeksplorasi minat dan bakat sekaligus mencari penerimaan dari lingkungan sosial. Kondisi tersebut juga dapat diperkuat oleh fenomena fear of missing out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal dari tren atau aktivitas yang dilakukan teman-temannya.

Dalam dialog tersebut, peer pressure dibedakan menjadi lima bentuk. Pertama, direct pressure atau tekanan langsung berupa ajakan maupun paksaan secara verbal. Kedua, indirect pressure, ketika seseorang merasa perlu mengikuti gaya hidup kelompok meskipun tidak ada ajakan secara langsung. Ketiga, internalized pressure, yakni tekanan yang muncul dari dalam diri setelah membandingkan diri dengan kondisi sosial teman. Selain itu, terdapat positive peer pressure yang memberikan pengaruh baik, seperti mengajak belajar bersama atau melakukan kegiatan positif. Sebaliknya, negative peer pressure dapat mendorong seseorang melakukan tindakan yang berisiko, misalnya membolos atau mengikuti kebiasaan yang merugikan diri sendiri.

Tekanan sebaya yang negatif juga dapat memberikan dampak pada berbagai aspek kehidupan remaja. Dari sisi kesehatan, perilaku berisiko dapat berkembang menjadi kebiasaan yang tidak sehat. Secara psikologis, seseorang dapat mengalami kecemasan, penyesalan, rasa bersalah, hingga menurunnya kepercayaan diri. Sementara secara sosial dan akademik, tekanan tersebut berpotensi memicu konflik dengan keluarga, mengganggu hubungan sosial, menurunkan fokus belajar, hingga memengaruhi prestasi. Untuk menghadapinya, remaja perlu membangun kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi yang asertif. Pengurus PIK-R “Jendela” menekankan pentingnya keberanian mengatakan tidak terhadap ajakan negatif serta mempertimbangkan konsekuensi sebelum mengambil keputusan. Dengan begitu, keputusan yang diambil tidak semata-mata didasarkan pada keinginan mendapatkan pengakuan dari lingkungan.

Peran keluarga dan sekolah juga dinilai penting dalam mencegah dampak negatif peer pressure. Keluarga dapat membangun komunikasi terbuka tanpa menghakimi, mengenali lingkungan pertemanan anak, serta menjadi contoh dalam mengambil keputusan. Sementara sekolah dan PIK-R dapat menyediakan edukasi, pelatihan komunikasi asertif, hingga membentuk konselor sebaya sebagai ruang bagi remaja untuk berbagi cerita dan mendapatkan dukungan. Pengurus PIK-R “Jendela” SMA Negeri 4 Jember menyampaikan bahwa peer pressure merupakan bagian dari kehidupan sosial yang sulit sepenuhnya dihindari, terlebih di tengah perkembangan lingkungan digital. Karena itu, remaja perlu memiliki kemampuan untuk menyaring pengaruh dari lingkungan dan tetap berpegang pada prinsip dalam menentukan pilihan.

Melalui edukasi dan dukungan dari lingkungan terdekat, remaja diharapkan mampu membedakan pengaruh yang membawa manfaat dan tekanan yang justru dapat merugikan. Kemampuan berkata tidak, berpikir kritis, serta tidak bergantung sepenuhnya pada validasi dari orang lain menjadi bagian penting dalam menghadapi tekanan sebaya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....