Strategi Persma Hadapi Pencurian Karya di Era Medsos
- 30 Agt 2026 15:34 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Fenomena pencurian karya atau pencatutan konten jurnalistik di media sosial menjadi tantangan krusial bagi Pers Mahasiswa (Persma). Isu ini mengemuka dalam program Ngumpul JAGA MALAM PRO 2 RRI JEMBER bertajuk "Ketika Karya Dicomot dan Viral, Bagaimana Persma Menjaga Eksistensinya di Era Medsos" pada Kamis 27 Agustus 2026.
Bendahara Umum UKM Pers Kampus (UKMPK) Tegalboto Universitas Jember, Nabila Siti Nur Hamidah, menegaskan bahwa pengunggahan ulang karya jurnalistik tanpa mencantumkan kredit yang jelas merupakan masalah serius. Fenomena akun-akun besar yang mengambil karya secara sepihak dan memodifikasinya demi mengejar engagement atau viralitas dinilai sangat merugikan pihak pembuat berita asli.
“Ini persoalan utamanya tadi yaitu tidak mencantumkan sumber dengan jelas. Ini bukan cuma soal kurang sopan, tetapi sudah masuk ke ranah pelanggaran hak cipta dan hak moral pencipta,” ujarnya.
Ia menilai fenomena akun-akun besar yang mengambil konten jurnalistik, kemudian mengunggah ulang dengan sedikit modifikasi demi mengejar popularitas dan engagement, merugikan pihak yang telah melakukan proses peliputan dan produksi berita secara profesional.
Di sisi lain, Staf Redaktur Artistik UKMPK Tegalboto, Nurma Yunita (Nita) menyoroti pentingnya kemampuan Persma dalam beradaptasi terhadap perubahan pola konsumsi informasi masyarakat. Menurutnya, audiens saat ini cenderung lebih menyukai konten yang ringkas, visual, dan mudah dipahami.
Meski demikian, adaptasi tersebut tidak boleh menghilangkan esensi jurnalistik yang menjadi identitas utama Persma. Ia menekankan bahwa media mahasiswa harus tetap mempertahankan akurasi, verifikasi, serta etika jurnalistik dalam setiap karya yang dipublikasikan.
“Persma yang ideal itu Persma yang bisa mengikuti perkembangan zaman, tetapi tanpa menghilangkan identitas dari jurnalistik itu sendiri,” kata Nurma.
Menurutnya, pemanfaatan media sosial dapat menjadi peluang bagi Persma untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Namun, strategi penyajian informasi perlu disesuaikan dengan karakteristik platform digital agar pesan yang disampaikan tetap efektif dan menarik bagi generasi muda.
Dalam dialog tersebut, kedua narasumber juga mengajak masyarakat, khususnya mahasiswa, untuk lebih kritis dalam menelusuri sumber informasi yang beredar di media sosial. Kesadaran untuk menghargai karya jurnalistik dinilai penting guna mencegah penyebaran misinformasi sekaligus melindungi hak para pembuat konten.
Mereka berharap pelaku media sosial dapat menerapkan etika digital dengan mencantumkan kredit dan tautan sumber asli ketika membagikan ulang karya jurnalistik. Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk penghargaan terhadap proses peliputan serta upaya menjaga ekosistem informasi yang sehat di ruang digital.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....