Apa itu Toxic Relationship?

  • 06 Jun 2026 14:02 WIB
  •  Jember
Poin Utama
  • MANIPULATIF

RRI.CO.ID Jember - Toxic relationship (hubungan toksik) sering kali tidak disadari, khususnya oleh korban. Sebab, pertengkaran, kesalahpahaman, dan kejenuhan tergolong umum terjadi dalam sebuah hubungan. Namun, yang perlu diperhatikan adalah saat masalah-masalah itu berubah menjadi pola yang berulang, hingga kesehatan mental dan emosional mulai memburuk. Di titik inilah sebuah hubungan dapat berubah menjadi toxic relationship. Apa itu toxic relationship?

Pakar psikologi Dr. Lillian Glass menjelaskan toxic relationship sebagai hubungan yang tidak lagi didasari oleh prinsip saling mendukung dan menghormati satu sama lain.

Toxic relationship terjadi ketika dua orang dalam hubungan tersebut tidak saling mendukung, penuh konflik, saling menjatuhkan, kompetitif, penuh ketidakhormatan, dan tidak ada kebersamaan,” jelas Glass, seperti dikutip dari Good Housekeeping, Selasa, (25/11/2025). Hubungan tidak lagi menjadi ruang aman, tetapi tempat yang membuat salah satu atau kedua pasangan justru merasa tertekan. Psikolog klinis Michaela Thomas memperjelas, istilah toxic bukan berarti sekadar hubungan yang membosankan atau kehilangan gairah. Seorang pelatih seks dan hubungan, Angela Vossen menambahkan, penolakan, tindakan meremehkan, atau ejekan saat seseorang mencoba mengungkapkan perasaannya merupakan sinyal kuat bahwa hubungan sudah tidak sehat.

Tanda toxic relationship yang perlu diwaspadai

Selalu merasa cemas dan takut

Kamu mungkin merasa harus mengukur setiap kata dan tindakan agar tidak memicu kemarahan pasangan.Bahkan pesan sederhana seperti “kamu di mana?” bisa memunculkan rasa panik karena kamu takut reaksi negatif jika jawabanmu tidak sesuai harapannya.

Tidak ada rasa hormat dan sering meremehkan

Hubungan bisa terasa seperti medan perang, bukan tempat pulang jika tidak dilandaskan dengan rasa saling menghormati. Kritik yang menyakitkan, komentar merendahkan, dan diam berhari-hari tanpa mau berdiskusi membuatmu merasa tidak dianggap.

Gaslighting dan manipulasi

Kamu mulai mempertanyakan apa yang kamu pikir benar karena pasangan memutarbalikkan fakta. Dia bisa mengatakan kamu “drama”, padahal kamu hanya mengungkapkan perasaan. Menurut Angela, perilaku ini sudah termasuk gaslighting. “Gaslighting adalah perilaku berbahaya karena membuat korban meragukan realitasnya sendiri hingga kewarasannya,” tambahnya.

Dijauhkan dari keluarga dan teman

Awalnya pasangan kamu mungkin hanya komentar kecil seperti “teman kamu tidak cocok sama kamu”. Hal ini akan membuat kamu merasa bersalah setiap kali ingin bertemu orang terdekat. Alhasil, secara tidak sadar kamu mulai menarik diri dari lingkungan terdekatmu. “Pasangan dapat mengisolasi melalui kritik atau memicu pertengkaran sebelum kamu bersosialisasi sehingga kamu kehilangan jaringan pendukung,” tutur Angela.

Kecemburuan berlebihan dan kontrol

Pasangan yang toksik biasanya ingin tahu lokasi kamu setiap saat, mengatur cara kamu berpakaian, dan menentukan siapa yang boleh atau tidak boleh dekat denganmu. Angela menjelaskan, kontrol yang bermula dari kecemburuan dapat berkembang menjadi kontrol koersif yang serius.

Ledakan emosi yang tidak terduga

Masalah kecil dapat berubah menjadi pertengkaran besar karena pasangan tidak mampu mengatur emosinya dengan baik. Hal ini membuat kamu harus mengalah di berbagai situasi. Kamu mulai membatasi diri agar tidak memicu marahnya, hingga akhirnya kehilangan jati dirimu. “Ketika seseorang mengubah dirinya karena takut reaksi pasangan, hubungan tersebut tidak lagi aman secara emosional,” jelas Thomas.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....