Mengukur Jejak Emansipasi: Sudah Sejauh Mana Kita Melangkah
- 22 Apr 2026 13:39 WIB
- Jember
RRI,CO.ID, Lumajang- Peringatan Hari Kartini di Gedung PWRI Pasirian, Rabu (22/4/2026), berlangsung sederhana namun sarat makna. Mengusung semangat kebersamaan melalui senam sehat bersama, kegiatan ini menjadi ruang refleksi tentang makna emansipasi perempuan di era modern.
Ustad Gatot Sudjono yang mewakili Ketua PWRI Pasirian menegaskan bahwa Hari Kartini bukan sekadar seremonial mengenakan kebaya, melainkan momentum untuk mengingat titik awal perubahan besar bagi perempuan Indonesia.
“Surat-surat Kartini pada tahun 1900-an membuka mata banyak orang bahwa perempuan juga berhak berpikir, berpendidikan, dan menentukan masa depannya. Kesetaraan yang kita nikmati hari ini tidak datang tiba-tiba, ada yang merintisnya,” ujarnya.
Menurutnya, peringatan Hari Kartini juga menjadi pengingat lintas generasi. Meski RA Kartini telah wafat pada 1904, gagasan dan pemikirannya terus hidup dan relevan hingga kini. Ia menambahkan, momentum ini juga patut dijadikan cermin evaluasi: sejauh mana emansipasi perempuan telah berjalan dan memberi dampak nyata dalam kehidupan sosial.
Menjawab pertanyaan seputar kekhawatiran tergesernya peran pria akibat emansipasi, Gatot menegaskan bahwa tujuan emansipasi bukan mengganti dominasi pria dengan dominasi wanita.
“Emansipasi itu tentang kesetaraan kesempatan.Dulu pria identik sebagai pencari nafkah dan wanita mengurus rumah.Sekarang banyak keluarga dengan pola dual income.Dalam parenting dan pekerjaan rumah tangga pun, pembagian peran bukan penurunan derajat, melainkan pembagian beban yang lebih ideal,” jelasnya.
Ia juga menyinggung soal budaya patriarki yang masih berkembang di sejumlah daerah. Menurutnya, patriarki dan emansipasi ibarat dua arus yang saling tarik-menarik.
“Emansipasi makin kencang, tapi patriarki tidak langsung hilang. Bentuknya berubah,Dulu suami kepala keluarga sebagai pengambil keputusan tunggal,sekarang banyak rumah tangga mengedepankan diskusi dan berbagi peran.Jadi patriarki belum mati, tapi bukan lagi satu-satunya aturan main,” ungkapnya.
Lebih jauh, Gatot menggambarkan bahwa emansipasi mendorong budaya patriarki untuk bernegosiasi ulang. Hak istimewa mulai dikurangi, tanggung jawab dibagi, dan relasi diarahkan pada model yang lebih kolaboratif dibandingkan hierarkis.
“Andai patriarki itu tembok,maka emansipasi lebih sering membuat pintu dan jendela agar sirkulasi lebih adil,” pungkasnya.
Peringatan Hari Kartini di PWRI Pasirian pun menjadi bukti bahwa semangat perjuangan perempuan tidak berhenti pada simbol, tetapi terus bergerak dalam dialog,refleksi, dan perubahan nyata di tengah masyarakat.(Vend)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....