Mahasiswa UNEJ Rancang Telemedicine Lintas Negara

  • 08 Apr 2026 22:59 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Di tengah derasnya arus digitalisasi, sektor kesehatan masih menyisakan satu persoalan klasik: akses. Bagi masyarakat di wilayah terpencil, layanan medis berkualitas kerap terasa jauh—bukan hanya secara geografis, tetapi juga dari sisi sistem dan integrasi data. Dari kegelisahan itulah, sebuah gagasan besar lahir dari seorang mahasiswa.

Adalah Patricia Naomi Manik, mahasiswa D3 Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Jember Kampus Lumajang, yang menggagas konsep platform kesehatan digital global. Melalui esainya bertajuk Global Smart Health: Integrated Digital Health Platform for Electronic Medical Records and Cross-Border Telemedicine, Patricia menawarkan solusi untuk menghapus batas geografis dalam layanan medis.

Dalam bayangannya, dunia kesehatan tak lagi terfragmentasi oleh negara atau wilayah. Data pasien tersimpan secara digital dalam sistem Electronic Medical Records (EMR) yang terintegrasi secara internasional. Dengan begitu, seorang pasien di daerah terpencil sekalipun dapat berkonsultasi, mendapatkan diagnosis, hingga tindak lanjut pengobatan dari tenaga medis di berbagai belahan dunia.

“Platform ini memungkinkan data kesehatan pasien tersimpan secara aman dan dapat diakses oleh tenaga kesehatan yang berwenang di berbagai negara,” jelas Patricia Rabu, 8 April 2026.

Gagasan tersebut bukan sekadar soal teknologi, tetapi juga tentang keadilan akses. Ia melihat bahwa ketimpangan layanan kesehatan masih menjadi tantangan besar, terutama di daerah yang minim fasilitas. Teknologi, menurutnya, harus hadir sebagai jembatan bukan sekadar inovasi, tetapi solusi nyata.

Melalui sistem yang ia rancang, proses pelayanan kesehatan diharapkan menjadi lebih cepat, efisien, dan terintegrasi. Pertukaran informasi medis dapat berlangsung tanpa hambatan, sekaligus membuka ruang kolaborasi global antar tenaga kesehatan—hal yang sangat krusial dalam menghadapi krisis seperti pandemi.

Bagi Patricia, kemajuan teknologi digital seharusnya mampu menghadirkan layanan kesehatan yang lebih manusiawi dan inklusif. “Pelayanan kesehatan harus bisa diakses siapa saja, di mana saja, tanpa terhalang jarak,” ujarnya.

Gagasan visioner ini pun mendapat pengakuan di tingkat internasional. Pada Februari 2026, Patricia meraih Juara Harapan 2 dalam Kompetisi Esai Internasional yang diselenggarakan oleh Universitas Noor Huda Mustofa. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa ide-ide besar dapat lahir dari ruang-ruang sederhana bahkan dari bangku kuliah di daerah.

Namun bagi Patricia, kemenangan bukanlah tujuan akhir. Ia melihat setiap kompetisi sebagai ruang belajar dan kesempatan memperluas perspektif.

“Saya ingin terus menambah pengalaman dan membangun relasi dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang,” tuturnya.

Di tengah dunia yang semakin terkoneksi, gagasan Patricia menjadi pengingat bahwa masa depan layanan kesehatan bukan hanya soal kecanggihan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana teknologi itu mampu menjangkau lebih banyak manusia tanpa batas.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....