Jejak Ilmiah Yogurt di Tangan Dosen Polije

  • 03 Mar 2026 23:02 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember- Ramadhan tak hanya identik dengan kurma dan kolak. Dalam beberapa tahun terakhir, yogurt semakin banyak dipilih sebagai menu berbuka puasa. Rasanya yang segar, teksturnya yang lembut, serta kandungan probiotiknya menjadikan minuman fermentasi ini alternatif sehat setelah hampir 14 jam menahan lapar dan dahaga. Namun, di balik satu cup yogurt yang tersaji di meja buka puasa, ada proses ilmiah panjang yang bekerja secara presisi.

Dosen Program Studi Teknologi Industri Pangan Politeknik Negeri Jember, Irene Ratri Andia Sasmita, S.TP., M.P., menjelaskan bahwa pembuatan yogurt bukan sekadar proses mencampur susu dan bakteri, melainkan rangkaian tahapan yang terstandar dan terkontrol ketat.

“Bulan Ramadhan adalah momen menjaga kesehatan sekaligus meningkatkan kualitas konsumsi pangan. Yogurt menjadi pilihan karena kaya probiotik. Namun, di balik satu cup yogurt terdapat proses ilmiah yang terkontrol ketat,” ujar Ratri, Selasa, 3 Maret 2026.

Proses produksi yogurt diawali dari standarisasi susu segar. Pada tahap ini, kadar lemak dan total padatan diatur agar menghasilkan tekstur yang konsisten. Standarisasi penting untuk memastikan setiap batch yogurt memiliki kualitas yang sama. Setelah itu, susu dipasteurisasi pada suhu 80–90 derajat Celsius selama 5–10 menit. Tahap ini krusial karena berfungsi membunuh mikroorganisme patogen sekaligus membantu pembentukan tekstur kental khas yogurt.

“Keamanan pangan dimulai dari tahap pasteurisasi. Ini fondasi utama sebelum masuk ke proses fermentasi,” jelas Irene.

Susu yang telah dipasteurisasi kemudian didinginkan hingga suhu sekitar 45 derajat Celsius. Pada suhu inilah dua bakteri asam laktat, yakni Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus, ditambahkan untuk memulai proses fermentasi. Selama 4–6 jam, kedua bakteri tersebut bekerja mengubah laktosa menjadi asam laktat. Proses ini menurunkan pH susu hingga sekitar 4,5 dan membentuk tekstur gel yang lembut serta rasa asam segar yang khas.

“Pengendalian suhu dan waktu sangat menentukan kualitas akhir produk. Sedikit saja meleset, hasilnya bisa berbeda,” katanya.

Ketika tingkat keasaman yang diinginkan tercapai, fermentasi harus segera dihentikan dengan menurunkan suhu hingga 4 derajat Celsius. Pendinginan ini berfungsi menjaga stabilitas rasa dan tekstur.

Tahap akhir adalah pengemasan secara higienis serta penyimpanan dalam rantai dingin (cold chain) agar mutu produk tetap terjaga hingga dikonsumsi masyarakat.

Menurut Irene, pembelajaran di laboratorium menjadi kunci untuk memastikan produk fermentasi aman, berkualitas, dan bernilai gizi tinggi.

“Di balik setiap sendok yogurt, ada sains yang bekerja. Melalui pembelajaran di laboratorium, kami memastikan produk fermentasi aman dan berkualitas hingga sampai ke meja buka puasa,” pungkasnya.

Di bulan yang identik dengan refleksi dan perbaikan diri, pilihan makanan pun menjadi bagian dari ikhtiar menjaga kesehatan. Yogurt bukan sekadar tren berbuka, tetapi hasil kolaborasi ilmu pengetahuan, ketelitian, dan komitmen pada keamanan pangan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....