Jejak Langkah Hotijatul Munauwaroh Menjadi Sis Duta Kampus

  • 12 Feb 2026 22:38 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Di balik layar laptop yang dipenuhi barisan kode dan algoritma, Hotijatul Munauwaroh terbiasa berbicara dengan logika. Mahasiswa Semester 4 Program Studi Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Jember itu menghabiskan hari-harinya di antara sistem, pemrograman, dan dinamika organisasi. Namun siapa sangka, dari ruang-ruang teknis itu, ia melangkah ke panggung representasi publik dan dinobatkan sebagai Juara 1 Sis Duta Kampus Unmuh Jember 5.0.

Bagi Hotijatul, kemenangan ini bukan sekadar selempang dan mahkota. Ia adalah simbol perjalanan keluar dari zona nyaman. Sebelum namanya diumumkan sebagai pemenang, hari-hari Hotijatul sudah diisi dengan agenda yang nyaris tanpa jeda. Di Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HUMANIKA), ia dipercaya menjadi Ketua Divisi Sumber Daya Manusia peran yang menuntutnya mengelola dinamika karakter dan kepemimpinan, bukan sekadar perangkat lunak.

Ia memimpin Management Training dan LKMM 2025 sebagai ketua panitia, menjadi sekretaris makrab, hingga presidium sarasehan. Di saat yang sama, ia tetap menjaga identitas akademiknya dengan mengikuti berbagai kompetisi dan meraih medali perak KMM dan PKMM.

Keputusan mengikuti Duta Kampus 5.0 lahir bukan dari ambisi popularitas, melainkan dari keinginan bertumbuh. Ia menyadari ada sisi dirinya yang belum sepenuhnya terasah.

“Saya terbiasa berpikir dengan data dan logika. Tapi saya ingin belajar berbicara, menyampaikan gagasan, dan berdampak lebih luas,” ujar Hotijatul Rabu, 11 Februari 2026.

Ajang Duta Kampus menjadi ruang pembuktian bahwa mahasiswa teknik pun mampu berdiri di panggung komunikasi publik. Namun prosesnya tidak mudah. Jadwal kuliah, tanggung jawab organisasi, dan persiapan kompetisi kerap bertabrakan. Rasa ragu sempat hadir, terutama ketika melihat peserta lain tampil penuh percaya diri.

Satu hal yang membuatnya bertahan adalah prinsip tanggung jawab. Baginya, setiap langkah yang sudah dimulai harus dituntaskan dengan sungguh-sungguh.

Titik Balik di Sesi Presentasi

Momentum penentu datang saat sesi presentasi gagasan. Di hadapan dewan juri, Hotijatul memaparkan ide tentang digitalisasi kampus dan dampaknya bagi mahasiswa. Di titik itulah ia menemukan irisan kuat antara disiplin ilmunya dan visi besar Kampus 5.0.

“Di situ saya sadar, latar belakang saya bukan kelemahan. Itu nilai tambah,” ujarnya.

Teknik Informatika tidak lagi berada di pinggir cerita, melainkan menjadi fondasi gagasan yang ia tawarkan. Teknologi baginya bukan hanya alat, tetapi instrumen pemberdayaan.

Bagi Hotijatul, Kampus 5.0 adalah harmonisasi antara teknologi dan nilai kemanusiaan. Teknologi harus hadir untuk menyelesaikan persoalan sosial, memperkuat peran mahasiswa, dan membawa manfaat nyata bagi masyarakat.

Pasca kemenangan, perubahan paling terasa adalah cara ia memandang dirinya sendiri. Jika sebelumnya ia lebih nyaman “berbicara” melalui sistem dan kode, kini ia belajar menyampaikan ide secara persuasif dan inklusif. Dukungan dari orang-orang terdekat ia syukuri, namun ia memilih untuk tidak cepat berpuas diri.

Ke depan, ia membawa gagasan “UM Jember Digital Impact Hub”, sebuah wadah kolaborasi yang memungkinkan mahasiswa menyalurkan kreativitas digital untuk memberikan dampak nyata bagi kampus dan masyarakat.

“Jangan batasi diri sebelum mencoba,” pesannya.

Dari barisan kode hingga panggung representasi kampus, Hotijatul Munauwaroh membuktikan bahwa keberanian melangkah bisa membuka pintu menuju versi diri yang lebih utuh—bahwa perempuan teknik pun mampu berdiri di garis depan perubahan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....