Sejarah Layangan dari China hingga Nusantara
- 30 Sep 2025 15:16 WIB
- Jember
KBRN, Jember: Layangan diyakini pertama kali muncul di China kuno sekitar lebih dari 2.000 sampai 3.000 tahun lalu. Bambu, sutra, dan kemudian kertas digunakan sebagai bahan pembuatannya. Penemuan awal sering dipakai untuk eksperimen militer atau penggunaan praktis seperti mengukur jarak atau mengetahui arah angin.
Dikutip dari Chinahighlights.com, sejarah mencatat bahwa filosof Mozi dan tukang kayu Lu Ban dari China dikaitkan dengan penciptaan layangan. Mereka menggunakan bahan bambu ringan dan kain atau kertas yang fleksibel sebagai sayap layangan agar mudah terbang. Layangan pertama ini sering berbentuk datar dan tanpa ekor dengan desain sederhana yang memanfaatkan struktur bingkai yang lentur dan ringan.
Selain sebagai permainan, layangan di masa kuno China memiliki fungsi militer dan ilmiah. Sejumlah dokumen mencatat bahwa layangan digunakan untuk mengirim pesan, mengukur jarak, atau bahkan untuk militer sebagai alat pengintai. Misalnya, General Han Xin memakai layangan untuk memperkirakan jarak tembakan atau pengintaian ketika mengepung benteng musuh.
Sebagai tradisi budaya, layangan mulai menyebar ke banyak wilayah Asia dari Korea, Jepang, India, Asia Tenggara dan akhirnya ke Eropa. Dalam penyebarannya, bentuk dan fungsi layangan berubah sesuai budaya setempat: ada layangan perang, layangan festival, hingga layangan yang hanya untuk kesenangan dan festival tertentu.
Di Indonesia, layangan juga telah lama dikenal. Tradisi membuat dan menerbangkan layangan sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, terutama di pedesaan atau saat musim angin kuat. Desain, bahan, dan bentuknya dipengaruhi budaya lokal, tetapi inti filosofi dan kesenangannya mirip dengan asal-usulnya di Asia Timur.
Jejak sejarah layangan menunjukkan bahwa sebelum dijadikan sebagai mainan, layangan adalah bukti kreativitas manusia dalam memanfaatkan angin, bahan ringan, dan kemampuan menghasilkan bentuk terbang. Dari eksperimen militer hingga hiburan anak-anak, layangan tetap bertahan sebagai warisan budaya global.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....