Mewujudkan Pendidikan Inklusif Bersama RBD Rintisan SLB Perpenca Jember

  • 30 Jul 2026 06:51 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember: Semangat mewujudkan pendidikan yang inklusif dan tanpa batas terus digaungkan melalui hadirnya Rumah Belajar Disabilitas (RBD), sebuah inisiatif rintisan yang digagas bersama Sekolah Luar Biasa (SLB) di bawah naungan Persatuan Penyandang Disabilitas dan Center Advokasi (PERPENCA) Jember. Program ini lahir dari keprihatinan sekaligus harapan besar agar anak-anak penyandang disabilitas di wilayah pedesaan mendapatkan akses pendidikan yang setara, tanpa harus terkendala jarak, stigma, maupun keterbatasan fasilitas. Melalui pendekatan yang lebih dekat dengan komunitas, Rumah Belajar Disabilitas hadir sebagai ruang belajar alternatif yang ramah, terbuka, dan berpihak pada kebutuhan setiap individu.

Di Kecamatan Panti, geliat pendidikan inklusif ini tampak nyata melalui RBD Harapan Mutiara. Rukoyyah, Ketua RBD Harapan Mutiara Panti yang juga merupakan mahasiswa Pendidikan Luar Biasa (PLB) Universitas PGRI Argopuro (UNIPAR) Jember, menuturkan bahwa kehadiran rumah belajar ini menjadi jembatan penting antara teori yang dipelajari di bangku kuliah dengan praktik nyata di lapangan.

"Kami ingin anak-anak disabilitas di sini merasa bahwa belajar itu hak mereka, bukan sesuatu yang harus diperjuangkan sendirian," ujarnya, 29 Juli 2026.

Pernyataan tersebut turut diperkuat oleh Muhammad Rohim, S.Pd., salah seorang pengajar di RBD tersebut yang juga menjabat sebagai Koordinator Kecamatan (KORCAM) PERPENCA Panti. Menurutnya, sinergi antara mahasiswa, tenaga pendidik, dan organisasi disabilitas menjadi kunci keberlanjutan program ini di tingkat akar rumput.

Semangat serupa juga tumbuh di Kecamatan Rambipuji melalui RBD Tunas Bangsa. Imam Syafi'i, Ketuanya menyampaikan bahwa pihaknya berkomitmen menghadirkan metode pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik dan kemampuan masing-masing anak.

"Setiap anak punya cara belajarnya sendiri, dan tugas kami adalah menemukan cara itu bersama mereka," katanya.

Hal ini didukung penuh oleh Waqiatul Imtihanah, S.Pd., pengajar Rumah Belajar Disabilitas Tunas Bangsa Rambipuji yang juga menjabat sebagai Ketua INDIRA (Ikatan Perempuan Disabilitas Mandiri dan Berkarya). Ia menekankan pentingnya pemberdayaan perempuan disabilitas agar tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi pelaku aktif dalam gerakan pendidikan inklusif.

Dukungan terhadap keberlangsungan Rumah Belajar Disabilitas juga datang dari tokoh penggerak disabilitas setempat Eko Puji Purwanto yang akrab disapa Ayah Antok. Ia menyatakan bahwa kehadiran rumah belajar berbasis komunitas seperti ini merupakan langkah strategis dalam memutus rantai keterbatasan akses pendidikan bagi penyandang disabilitas di pelosok desa.

"Pendidikan inklusif tidak cukup hanya menjadi wacana, tetapi harus diwujudkan lewat aksi nyata seperti yang dilakukan teman-teman di Panti dan Rambipuji ini," katanya, seraya berharap semakin banyak pihak yang tergerak untuk mendirikan rumah belajar serupa di wilayah lain.

Melalui kolaborasi antara mahasiswa PLB UNIPAR Jember, tenaga pengajar, serta organisasi seperti PERPENCA dan INDIRA, Rumah Belajar Disabilitas di Panti dan Rambipuji membuktikan bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar konsep, melainkan gerakan yang dapat diwujudkan dari tingkat komunitas terkecil. Inisiatif rintisan ini diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi di berbagai daerah lain, sehingga cita-cita Belajar Tanpa Batas bagi seluruh anak bangsa, tanpa terkecuali, dapat benar-benar terwujud secara merata dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....