Aparatur Pemdes Pundungsari Beri Teladan Ketahanan Pangan Lewat Budidaya Cabai
- 23 Jul 2026 09:10 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Lumajang- Ketahanan pangan tidak selalu dimulai dari program berskala besar. Di Desa Pundungsari, Kecamatan Tempursari, langkah itu justru berawal dari keteladanan seorang aparatur desa. Sekretaris Desa (Sekdes) Pundungsari, Abdul Rohman memanfaatkan lahan yang sebelumnya kurang terawat menjadi kebun cabai produktif yang kini tidak hanya menopang ekonomi keluarga, tetapi juga menjadi tempat belajar bagi warga hingga menginspirasi munculnya budidaya cabai di lingkungan desa.
Di sela tugasnya memberikan pelayanan kepada masyarakat, Abdul Rohman tetap menyempatkan diri merawat kebun sejak pukul 05.30 WIB sebelum berangkat ke balai desa. Aktivitas tersebut dilanjutkan sepulang kerja hingga sore hari, serta pada akhir pekan. Baginya, menjadi aparatur desa bukan alasan untuk berhenti produktif, melainkan kesempatan memberi contoh kepada masyarakat.
"Motivasi awalnya adalah untuk mencari penghasilan tambahan sekaligus memanfaatkan lahan kebun yang dulunya kurang terawat. Alhamdulillah, sekarang juga bisa menjadi tempat belajar bagi warga," ungkapnya, Rabu (22/7/2026).
Kebun yang berada di Dusun Sukosari, jalur Danglo, memiliki luas sekitar 3.000 meter persegi, dengan 1.200 meter persegi di antaranya dimanfaatkan untuk budidaya 750 batang cabai rawit hijau varietas Rajo. Di lahan tersebut, Abdul menerapkan budidaya secara intensif menggunakan mulsa plastik, pemupukan berimbang, serta perawatan rutin melalui penyemprotan insektisida dan fungisida. Meski belum memiliki sumur bor maupun mesin diesel, pengairan tetap dilakukan secara manual menggunakan sistem kocor.
Saat tanaman memasuki masa produksi, kebun tersebut diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 30 kilogram cabai rawit hijau setiap minggu. Seluruh hasil panen dipasarkan ke sejumlah warung makan di sekitar Desa Pundungsari sehingga turut membantu memenuhi kebutuhan cabai segar bagi pelaku usaha kuliner setempat.
Prospek ekonomi komoditas cabai pun masih cukup menjanjikan. Berdasarkan data Harga Komoditas pada Portal Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Lumajang per 22 Juli 2026, harga cabai rawit hijau di tingkat petani tercatat sebesar Rp26.000 per kilogram, sedangkan harga di tingkat pasar mencapai Rp37.000 per kilogram. Kondisi tersebut menunjukkan budidaya cabai masih memiliki peluang ekonomi yang baik apabila dikelola secara optimal, sekaligus berpotensi membantu menjaga ketersediaan pasokan cabai di tingkat lokal.
Lebih dari sekadar menghasilkan panen, kebun tersebut kini berkembang menjadi ruang belajar bagi masyarakat. Beberapa warga, di antaranya Bonari, rutin datang untuk mempelajari teknik budidaya cabai rawit hijau, mulai dari pengolahan lahan, pemupukan, hingga perawatan tanaman. Bahkan, sejumlah warga telah mulai menanam cabai di kebun mereka masing-masing, meskipun masih memerlukan pendampingan agar teknik budidayanya semakin optimal.
"Saya berharap semakin banyak warga yang berani mencoba menanam cabai. Kalau ilmunya sudah dipahami bersama, saya optimistis budidaya cabai bisa berkembang dan menjadi salah satu penguat ketahanan pangan di Desa Pundungsari," ujar Abdul Rohman.
Menurutnya, pengalaman tersebut dapat menjadi modal awal bagi desa untuk mengembangkan program ketahanan pangan berbasis budidaya cabai. Apabila semakin banyak warga menguasai teknik budidaya yang baik, Desa Pundungsari tidak hanya mampu memperkuat kemandirian pangan, tetapi juga membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat melalui komoditas hortikultura.
Keteladanan yang ditunjukkan Abdul Rohman membuktikan bahwa pembangunan desa tidak hanya lahir dari kebijakan, tetapi juga dari aksi nyata yang mampu menggerakkan masyarakat. Dari sebuah kebun cabai sederhana tumbuh ruang belajar, peluang usaha, serta harapan baru bagi terwujudnya ketahanan pangan Desa Pundungsari yang berkelanjutan. (MC Diskominfo Kab. Lumajang/KIM Desa Pundungsari/An-m)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....