Semangat Paskah Ekologis, Aksi Nyata Menjaga Bum

  • 31 Mar 2026 20:16 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember- Memasuki pekan Pra-Paskah menjadi momentum penting bagi gereja-gereja di Indonesia, tidak hanya dalam perayaan liturgi, tetapi juga dalam menghadirkan aksi nyata untuk merawat lingkungan. Seiring meningkatnya kesadaran ekologis, banyak gereja mulai mengintegrasikan tema Paskah Ekologis atau Pertobatan Ekologis sebagai respons atas persoalan sampah, khususnya limbah plastik yang dihasilkan dari aktivitas jemaat. Gereja juga memanfaatkan momentum Paskah untuk meningkatkan literasi lingkungan, terutama bagi anak-anak dan remaja. Edukasi ini diwujudkan melalui ajakan memilah sampah sejak dari sumbernya. Paskah pun dimaknai tidak hanya sebagai perayaan spiritual, tetapi juga sebagai momen pertobatan ekologis yang mendorong perubahan perilaku umat dalam menjaga ciptaan.

Hal ini juga mengemuka dalam program siaran Green Radio bertajuk Gereja dan Sampah, pada Sabtu, 28 Maret 2026. Valleria Grossitudinis Castitas, S.Sos., dari Seksi Lingkungan Hidup Gereja Katolik St. Yusup Jember, menyampaikan bahwa upaya merawat lingkungan harus dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten. Sebagai pegiat lingkungan yang kini fokus pada pembuatan eco enzyme, ia menilai pengelolaan sampah organik dapat menjadi solusi nyata sekaligus sarana edukasi bagi umat.

Menjelang Paskah, berbagai kegiatan biasanya dilakukan secara rutin oleh jemaat bersama Orang Muda Katolik (OMK) dan warga sekitar. Salah satunya adalah aksi karya bakti membersihkan area gereja dan lingkungan sekitarnya. Kegiatan ini tidak hanya menjadi bentuk kepedulian sosial, tetapi juga sarana edukasi untuk menanamkan tanggung jawab terhadap kelestarian alam.

Sementara itu, Dina Putu Ayu K., S.Pd., jemaat GPdI Ekklesia Jember, menegaskan bahwa perubahan perilaku tidak cukup hanya disampaikan melalui imbauan, tetapi harus diwujudkan dalam praktik sehari-hari. Bersama suaminya, Pendeta Dr. Marciano A. Waani, M.Th., ia aktif mengedukasi masyarakat dengan memberi contoh langsung, seperti membiasakan pemilahan sampah dari rumah tangga sebagai bagian dari gaya hidup berkelanjutan.

Dina Putu yang juga seorang guru Biologi di SMA Katolik Santo Paulus Jember menyampaikan, "Sudah saatnya kita melihat gereja bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga pusat nilai, termasuk tanggung jawab kita terhadap lingkungan. Di tengah meningkatnya persoalan sampah, sudah saatnya iman tidak hanya diucapkan, tetapi juga diwujudkan lewat aksi nyata menjaga bumi."ujarnya.

Menurut Pendeta Marciano, Dosen Sekolah Tinggi Alkitab Jember, "Gereja memiliki peran strategis dalam membentuk kesadaran ekologis umat. Bahwa iman tidak hanya diwujudkan dalam ibadah, tetapi juga dalam tanggung jawab menjaga ciptaan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan spiritual. Saatnya menjadi pelopor gerakan pengelolaan sampah yang bijak, mengubah kebiasaan kecil yang bisa berdampak besar. Karena merawat ciptaan, sejatinya adalah bagian dari iman itu sendiri,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....