Desa Mengok, Unej, Kemdikbudristek Kolaborasi Hasilkan Produk Eksport
- 13 Des 2025 14:27 WIB
- Jember
KBRN, Jember: Desa Mengok, Kecamatan Pujer, Kabupaten Bondowoso, memasuki fase baru dalam perjalanan mewujudkan Desa Berdaya 2025.
Desa yang dikenal sebagai sentra bambu terbesar di Bondowoso ini mulai menata potensi lokalnya menjadi kekuatan ekonomi kerakyatan yang profesional, mandiri, dan berkelanjutan.
Dengan kolaborasi antara Desa Mengok, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdiktisaintek RI), serta tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Jember (UNEJ), kini menjadikan desa tersebut sebagai desa yang memiliki kemampuan mengelola potensi lokal secara modern, sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.

Menurut Ketua Tim Pengabdian UNEJ Mohammad Ubaidillah, Melalui Hibah Pemberdayaan Desa Binaan Tahun 2025, tim menghadirkan inovasi teknologi pengolahan bambu menjadi arang dan briket berorientasi ekspor, menggunakan alat pirolisis berbasis anaerob-kondensasi serta mesin CNC terpadu.
“Selama ini masyarakat hanya melihat bambu sebagai bahan bangunan seperti pagar dan kayu bakar, Program yang berlangsung sepanjang September–Desember 2025 ini menghasilkan dampak nyata. Selain penguatan kelembagaan, kedua KUB kini telah memiliki pra-perjanjian transaksi produk arang bambu dengan perusahaan terafiliasi ekspor ke Jepang dan Timur Tengah. Hal ini menjadi tonggak penting bagi ekonomi kolektif desa,”katanya melalui keterangan tertulis kepada RRI, Sabtu (13/12/2025).

Ubaidillah menerangkan melalui rangkaian survei, FGD, sosialisasi, dan pelatihan partisipatif, tim UNEJ memperkenalkan konsep formal governance dan manajemen operasional modern berbasis lean manufacturing.
Pelatihan penggunaan alat pirolisis generasi baru membuat proses produksi lebih efisien, bersih, dan menghasilkan produk turunan bernilai tinggi.
Ketua KUB Mengok Jaya, Bahrul Effendi mengungkapkan Sebelum pendampingan, dua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Kartika Jaya dan Mengok Jaya masih bekerja secara tradisional tanpa struktur organisasi, AD/ART, atau sistem produksi yang tertata.
“Kami dulu bekerja berdasarkan kebiasaan, bukan rencana, Sekarang kami bisa memproduksi lebih banyak, bahkan memiliki produk turunan. Dulu produksi butuh waktu seharian, sekarang hanya lima jam,” ujarnya.
Penerapan sistem produksi dua shift membuat kapasitas meningkat tanpa menambah biaya operasional. Pencapaian ini mendapat apresiasi masyarakat dan pemerintah desa.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, terutama Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan serta tim pelaksana pengabdian Universitas Jember. Hibah ini benar-benar mengubah cara kami bekerja,” tambahnya.
Program pengabdian Kepada masyarakat ini diketuai oleh Mohammad Ubaidillah bersama Rachmat Udhi Prabowo, Ika Purnamasari, dan Ahmad Sauqi.
Keberhasilan ini merupakan program pemberdayaan tidak hanya bertumpu pada teknologi, tetapi juga perubahan pola pikir, penguatan kelembagaan, serta pendampingan berkelanjutan.
Dari Desa Mengok, lahir inspirasi baru bahwa potensi lokal dapat menjadi kekuatan global melalui pendekatan sustainable livelihood dan agrosociopreneurship.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....