Mata Minus hingga Diabetes, CKG Ungkap Kesehatan Pelajar

  • 19 Nov 2025 12:42 WIB
  •  Jember

KBRN, Jember: Di sebuah pagi tanggal 15 September 2025 halaman SMA Negeri 2 Jember dipenuhi langkah-langkah cepat siswa kelas X yang berseragam rapi. Dari luar, suasana tampak rutin seperti hari-hari sebelumnya. Namun di dalam ruang kelas yang disulap menjadi tempat pemeriksaan kesehatan ratusan cerita baru tentang tubuh, rasa cemas, dan harapan sedang ditulis ulang oleh sebuah program sederhana CKG, Cek Kesehatan Gratis.

Bagi siswa, CKG bukan sekadar pemeriksaan. Ia adalah pengalaman pertama mereka mengenali tubuh sendiri, memahami risiko yang mungkin bersembunyi di balik aktivitas belajar yang padat, dan menemukan jawaban atas keluhan yang selama ini mereka anggap remeh. Namun bagi sekolah, CKG telah membuka realitas yang lebih besar ada masalah kesehatan remaja yang tak terlihat, dan selama ini terabaikan.

Temuan Mengejutkan dari 1.128 Siswa

Kepala SMA Negeri 2 Jember, Dora Indriana, masih mengingat jelas wajah-wajah para siswa saat menerima hasil pemeriksaan.

“Dari 1.128 siswa, ada dua anak yang baru kami ketahui mengidap diabetes. Ini bukan hal kecil. Ini alarm penting bagi kami,” ujarnya dengan mata yang tampak menahan kekhawatiran sekaligus kelegaan, Rabu (19/11/2025).

Diabetes pada remaja bukan sekadar angka statistik; ia adalah ancaman sunyi yang bisa mengganggu konsentrasi belajar, stamina, hingga kondisi psikologis. Tanpa CKG, dua anak ini mungkin masih beraktivitas seperti biasa tanpa tahu bahwa gula darah mereka telah menunggu untuk meledak.

“Kami langsung menghubungkan mereka dengan klinik sekolah dan puskesmas untuk pemantauan rutin. Anak-anak itu awalnya takut, tapi mereka justru terlihat lebih lega karena merasa diperhatikan,” tambah Dora.

CKG tak hanya menemukan diabetes. Keluhan-keluhan lain pun bermunculan salah satunya adalah mata minus

Kesadaran Baru dari Para Pelajar

Bagi sebagian siswa, CKG menjadi titik balik.

Zahra Inka Arief adalah salah satunya dirinya baru mengetahui jika matanya minus 1 selepas memgikuti CKG

“Saya kira saya sehat sekali ternyata mata saya minus, Tapi saya bersyukur, karena tanpa CKG mungkin saya akan terus memaksakan membaca tanpa tahu penyebab mata lelah.”ujarnya.

Hasil pemeriksaan yang keluar hanya dalam seminggu membuat siswa merasa dihargai. Mereka tidak lagi sekadar menjadi objek pemeriksaan, tetapi mitra dalam menjaga kesehatan.

Sementara itu, Indra Amadani, teman sekelas Zahra, merasakan manfaat berbeda.

“Saya sehat, Alhamdulillah. Tapi saya sedih melihat ada teman yang ternyata punya penyakit yang tidak disadari. CKG ini harus terus ada. Bukan hanya kelas X, tapi seluruh siswa,” tegasnya.

Pengakuan sederhana itu menyimpan pesan kuat: remaja sebenarnya ingin didengar dan dilibatkan dalam isu kesehatan mereka sendiri.

Di Balik Angka, Ada Risiko yang Lebih Besar

Temuan diabetes pada dua siswa bukan hanya kebetulan. Investigasi kecil tim puskesmas menunjukkan pola yang perlu diwaspadai

kenaikan konsumsi minuman manis di kalangan siswa,

kurangnya literasi gizi, pola makan tidak teratur,minimnya aktivitas fisik karena tugas akademik yang menumpuk.

Nitalia Febri Susanti, perawat wilayah Puskesmas Sumbesari yang menangani tindak lanjut CKG menegaskan, bila ditemukan masalah kesehatan, puskesmas siap melakukan rujukan berjenjang.

“Ada sistem rujukan terintegrasi. Jika butuh fasilitas lebih lengkap, siswa bisa diarahkan ke rumah sakit. untuk tindak lanjut,” jelasnya.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa CKG bukan program seremonial. Ia adalah bagian dari kerangka kesehatan masyarakat yang seharusnya menjadi standar di seluruh sekolah.

Guru pun Merasakan Dampaknya

Para guru mengaku perubahan terasa nyata. Siswa yang biasanya tampak mengantuk ternyata anemia.

Yang sering tidak fokus ternyata rabun jauh.

Dan yang mudah marah ternyata gulanya tinggi.

Hasil CKG memberi guru konteks baru untuk memahami murid mereka sesuatu yang sering hilang dalam hiruk pikuk akademik.

“Siswa jadi lebih percaya diri setelah tahu kondisi tubuhnya. Mereka lebih jujur menyampaikan keluhan,” ungkap M Husnul Amin salah satu guru olahraga.

Sekolah Belajar, Siswa Berubah, Sistem Berbenah

Efek CKG kini beresonansi di seluruh SMA Negeri 2 Jember. Siswa mulai membicarakan gaya hidup sehat, membawa air putih lebih banyak, memilih jajanan lebih cermat, hingga mengingatkan teman agar tidak sering mengonsumsi minuman manis.

Kesadaran itu tumbuh bukan dari doktrin, tetapi dari pengalaman pribadi yang menyentuh langsung kehidupan mereka.

Di balik itu, sekolah belajar bahwa kesehatan adalah fondasi utama keberhasilan pendidikan. Tanpa tubuh yang sehat, prestasi hanyalah mimpi yang rapuh.

Harapan yang Mengalir dari Ruang Kela

Satu pesan muncul dari hampir semua pihak yaitu CKG harus diperluas. Bukan hanya untuk siswa baru, tetapi seluruh jenjang kelas XI dan XII.Mereka ingin kesehatan tidak lagi menjadi isu sampingan, melainkan bagian dari kurikulum kehidupan, bagian dari masa depan mereka.

Penutup, Tubuh yang Dibaca, Harapan yang Tumbuh

Program CKG di SMA Negeri 2 Jember membuktikan satu hal bahwa di balik rutinitas sekolah, ada tubuh-tubuh muda yang diam-diam menyimpan cerita.

Ada risiko yang tersembunyi, Ada rasa takut yang tak terucapkan, Dan ada harapan yang tidak boleh dibiarkan redup.CKG bukan hanya pemeriksaan kesehatan.

Ia adalah perjalanan emosional bagi para siswa perjalanan untuk mengenal diri, menerima kenyataan, dan menata ulang kebiasaan mereka. Di tangan sekolah dan tenaga kesehatan, program seperti ini bukan saja menyelamatkan masa muda tetapi juga masa depan bangsa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....