Peluk Hanngat Ibu di Sekolah Rakyat Banyuwangi
- 20 Okt 2025 21:38 WIB
- Jember
KBRN, Banyuwangi: Suara lembut lagu “Ibu” bergema di aula sederhana Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) Banyuwangi, sore itu. Di antara puluhan anak yang duduk rapi, seorang bocah perempuan bernama Naura (7 tahun) mulai terisak, matanya yang bening perlahan basah, lalu air mata jatuh membasahi pipinya.
“Ibuk… Ibuk…” lirihnya, membuat suasana mendadak hening.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, yang berada di tengah acara, spontan menghampiri dan memeluknya erat. Tidak ada kata-kata panjang, hanya pelukan dan elusan lembut di pundak kecil itu. Namun dari situ, seisi ruangan tahu: pelukan itu adalah bahasa cinta seorang ibu yang dirindukan.
Naura sudah lebih dua bulan tinggal di asrama Sekolah Rakyat, sekolah berasrama yang menampung anak-anak dari keluarga kurang mampu. Di tempat skolah yang merupakan program Asta Cita Pressiden Prabowo yang berlokasi di Desa Licin itu, kini ada 125 siswa dari jenjang SD hingga SMA. Mereka belajar, bermain, dan tinggal bersama, jauh dari keluarga.
Bagi anak-anak seusia Naura, rindu menjadi tamu yang sering datang tiba-tiba. Apalagi ketika lagu bertema kasih sayang ibu dinyanyikan dengan sepenuh hati.
Beberapa siswa lain pun ikut meneteskan air mata. Bahkan Ipuk tampak menyeka pipinya yang basah. Para kepala OPD yang mendampingi ikut terdiam, larut dalam suasana haru yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
“Saat ini kalian sedang berjuang. Sekolah ini menjadi bekal untuk masa depan kalian. Jadi tetap sabar dan semangat belajar. Nikmati semua prosesnya,” ujar Bupati Ipuk dengan suara bergetar.
Ia menegaskan, kerinduan yang mereka rasakan bukanlah kelemahan, melainkan bagian dari perjalanan besar menuju masa depan yang lebih baik. “Kami tahu kalian rindu rumah, rindu orang tua. Tapi yakinlah, apa yang kalian perjuangkan saat ini akan dinikmati nanti,” katanya.
Sekolah Rakyat Banyuwangi dibangun sebagai bentuk keberpihakan pemerintah daerah kepada anak-anak kurang mampu agar bisa terus bersekolah. Semua kebutuhan makan, tempat tinggal, dan perlengkapan belajar ditanggung oleh Pemkab.
Dalam kunjungannya, Bupati Ipuk memastikan seluruh proses pembelajaran berjalan baik. Ia juga meninjau kondisi asrama dan fasilitas pendidikan yang digunakan para siswa.
“Kami ingin memastikan Sekolah Rakyat ini benar-benar menjadi ruang tumbuh bagi anak-anak kita. Tempat mereka belajar, berproses, dan menata masa depan,” ujar Bupati Ipuk.
Bagi Hasyiela Zahra, siswi kelas 10 SMA, Sekolah Rakyat adalah tempat yang menumbuhkan rasa kekeluargaan. Menurutnya bersekolah Sekolah Rakyat sangat menyenagkan, selain semua kebutuhan sudah dipenuhi, banyak teman baru yang sudah menjadi saudara sendiri.
“Senang sekali, di sini kebutuhan makan dan pendidikan dijamin. Kami juga punya banyak teman baru, bahkan seperti saudara sendiri,” kata Zahra, Senin (20/10/2025).
Hal yang sama juga diungkapkan Erlangga Frenky. Siwwa kelas 2 SMP itu mengaku Sekolah Rakyat sangat membantu keluarganya.
“Semua fasilitas gratis. Bisa meringankan beban orang tua. Tempatnya juga nyaman dan menyenangkan,” ungkap Erlangga.
Sore itu, setelah lagu selesai dinyanyikan, anak-anak kembali tertawa. Naura duduk di pangkuan Ipuk sambil tersenyum malu. Tak ada lagi air mata hanya sisa haru yang hangat.
Di balik kejadian sederhana itu, tergambar makna besar: Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan kekuatan, kasih sayang, dan harapan.
Pelukan Bupati Ipuk kepada Naura menjadi simbol janji bahwa setiap anak Banyuwangi, tanpa terkecuali, berhak merasakan kasih sayang, pendidikan, dan masa depan yang lebih baik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....