Suasana Haru Warnai Peresmian Sekolah Rakyat Muncar Banyuwangi

  • 01 Okt 2025 08:20 WIB
  •  Jember

KBRN, Banyuwangi: Suasana haru mewarnai pembukaan Sekolah Rakyat di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Muncar, Selasa (30/9/2025). Di sekolah rakyat kedua di Banyuwangi ini ada 73 anak dari berbagai latar belakang resmi menempuh pendidikan berasrama di sekolah gratis yang digagas Presiden Prabowo Subianto.

Di antara riuh suasana, momen menyentuh datang dari Nur Wahidah (50), ibu tunanetra asal Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar. Air matanya menetes saat disapa Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani yang hadir meresmikan sekolah tersebut.

Dengan suara lirih, Wahidah menceritakan kehidupannya. Ia memiliki empat anak. Anak sulungnya telah meninggal, anak kedua bekerja, anak ketiga masih SMA, sementara yang diantar ke Sekolah Rakyat adalah Rehan Meizi, si bungsu yang kini duduk di kelas 5 SD.

“Sudah sembilan tahun saya kehilangan penglihatan. Untuk hidup, saya hanya bisa bekerja sebagai tukang pijat. Dengan adanya Sekolah Rakyat ini, saya merasa sangat terbantu. Semoga anak saya bisa maju, berkembang, dan menjadi orang yang sukses kelak,” ungkap Wahidah, Selasa (30/9/2025).

Mendengar itu, Bupati Ipuk menguatkan. “Tetaplah semangat ngih Bu. InsyaAllah anak-anak ibu bisa menggapai cita-citanya. Bapak Presiden melalui Sekolah Rakyat ini ingin semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan,” kata Bupati Ipuk.

Bupati Ipuk juga menegaskan, kehadiran Sekolah Rakyat di Banyuwangi diharapkan menjadi momentum baru dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif. Menurutnya, pemerintah daerah siap mendukung keberlangsungan sekolah ini agar benar-benar memberi manfaat bagi anak-anak kurang mampu.

“Kami di Banyuwangi ingin memastikan setiap anak, apapun latar belakangnya, punya peluang untuk sekolah dan meraih masa depan yang lebih baik. Sekolah Rakyat ini bukan hanya soal bangunan dan fasilitas, tetapi soal harapan yang nyata bagi keluarga,” ujar Bupati Ipuk.

Semangat serupa juga terpancar dari Yesi, siswi SMA asal Siliragung. Sebelumnya ia sempat bersekolah di Tulungagung, lalu pulang ke Banyuwangi untuk merawat neneknya yang sakit.

“Awalnya saya mau sekolah di SMK PGRI, lalu saya direkomendasikan pendeta saya bahwa ada sekolah program presiden. Karena kami kurang mampu, akhirnya saya memutuskan sekolah di sini,” kata Yesi.

Yesi bertekad bersungguh-sungguh belajar agar kelak bisa melanjutkan kuliah dengan cita-cita menjadi psikolog. Ia juga menekuni seni, terutama menyanyi dan menari.

Bupati Ipuk pun mendoakan agar cita-cita Yesi dan siswa lain dapat terwujud. “Semoga apa pun cita-cita kalian bisa diwujudkan. Belajarlah dengan sungguh-sungguh, jadikan Sekolah Rakyat ini langkah awal mewujudkan harapan di masa depan,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....