Cegah Resistensi Antimikroba, BBPOM Jakarta Ajak Gunakan Obat dengan Tepat

  • 27 Agt 2026 07:21 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Jakarta mengajak masyarakat menggunakan obat antimikroba secara tepat dan bertanggung jawab untuk mencegah resistensi antimikroba (AMR).

Pencegahan dinilai perlu melibatkan masyarakat karena penggunaan antimikroba yang tidak tepat dan berlebihan dapat membuat obat kehilangan efektivitasnya dalam mengatasi infeksi.

Kepala BBPOM di Jakarta Jeffeta Pradeko Putra mengatakan resistensi antimikroba bukan hanya persoalan tenaga kesehatan atau fasilitas pelayanan kesehatan, melainkan menjadi tanggung jawab bersama. Menurutnya, kesadaran menggunakan antimikroba secara tepat menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan masyarakat.

"Resistensi antimikroba adalah bahaya nyata yang sering kali tidak kita sadari. Ketika obat yang seharusnya mampu mengatasi infeksi mulai kehilangan efektivitasnya, pilihan pengobatan menjadi semakin terbatas. Karena itu, pencegahan harus dimulai dari kesadaran kita untuk menggunakan antimikroba secara tepat dan bertanggung jawab," kata Jeffeta, Rabu 26 Agustus 2026.

Resistensi antimikroba terjadi ketika mikroorganisme tidak lagi merespons obat antimikroba sehingga pengobatan infeksi menjadi lebih sulit. AMR disebut sebagai salah satu ancaman kesehatan masyarakat dan pembangunan global serta kerap disebut sebagai silent pandemic.

Menurut data yang dicantumkan BBPOM Jakarta dengan merujuk badan kesehatan dunia, kematian global akibat resistensi antimikroba diproyeksikan mencapai 10 juta jiwa per tahun. Dampak ekonominya juga disebut dapat mencapai sekitar 100 triliun dolar AS pada 2050.

Jeffeta mengatakan pencegahan AMR membutuhkan kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, sekolah, keluarga, dan generasi muda. Ia juga mengajak masyarakat menjadi agen perubahan dengan menyebarluaskan informasi yang benar mengenai penggunaan antimikroba.

"Pencegahan resistensi antimikroba tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, sekolah, keluarga, dan generasi muda. Mari kita mulai dari langkah sederhana: gunakan obat sesuai aturan dan jangan menggunakan antimikroba secara sembarangan. Bahaya ini nyata, dan saatnya kita cegah bersama," ujar Jeffeta.

Ajakan tersebut disampaikan dalam webinar Selayar Jakarta atau Sosialisasi Edukasi melalui Layar untuk Masyarakat Jakarta Batch 19 bertema “Resistensi Antimikroba: Bahaya Nyata, Saatnya Cegah Bersama”.

Kegiatan yang diselenggarakan secara daring itu diikuti 90 peserta dari Dharma Wanita Persatuan (DWP), Tim Penggerak PKK, sekolah, pramuka, dan organisasi masyarakat lainnya.

Melalui kegiatan tersebut, BBPOM Jakarta mendorong peserta menerapkan penggunaan obat secara tepat dalam kehidupan sehari-hari dan meneruskan informasi tersebut kepada keluarga serta masyarakat.

Keterlibatan berbagai kelompok masyarakat diharapkan membantu mencegah penggunaan antimikroba yang tidak tepat (misuse) maupun berlebihan (overuse). Webinar Selayar Jakarta merupakan bagian dari kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) daring BBPOM Jakarta yang ditujukan untuk menjangkau berbagai lapisan masyarakat.

Pada Batch 19, edukasi difokuskan pada peningkatan pemahaman dan kesadaran masyarakat mengenai penggunaan antimikroba serta pencegahan resistensi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....