Pemprov Jakarta Perkuat Pencegahan Stunting melalui Pendekatan Siklus Hidup

  • 22 Agt 2026 22:13 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperkuat upaya pencegahan stunting melalui pendekatan siklus hidup, mulai dari remaja dan calon pengantin hingga masa kehamilan, menyusui, bayi, dan balita. Pendekatan tersebut dilakukan untuk mencegah gangguan pertumbuhan dan perkembangan sejak dini.

"Intervensi harus dilakukan secara berkesinambungan menggunakan pendekatan siklus hidup yaitu sejak masa remaja, calon pengantin, kemudian kehamilan, persalinan, kemudian masa menyusui hingga periode bayi dan balita," kata Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Dinas PPAPP DKI Jakarta Leni Yunengsih dalam tayangan YouTube, dikutip Sabtu 22 Agustus 2026.

Leni menjelaskan stunting merupakan kondisi yang menunjukkan adanya gangguan pertumbuhan dan perkembangan akibat kekurangan gizi serta berbagai faktor lain yang berlangsung dalam jangka panjang. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada anak, tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan belajar, produktivitas, kesehatan, dan kualitas sumber daya manusia di masa depan.

"Dampaknya tidak hanya dirasakan pada anak-anak, tetapi dapat memengaruhi kemampuan belajar, kemudian produktivitas, kemudian kesehatan, dan kualitas sumber daya manusia di masa depan," ujar Leni.

Upaya pencegahan tersebut dilakukan melalui Pekan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting atau Genting, dengan memverifikasi keluarga sasaran dan mengidentifikasi kebutuhan intervensi sesuai kondisi masing-masing keluarga. Intervensi yang diberikan mencakup kebutuhan seperti rumah layak huni, akses air bersih, jamban sehat, nutrisi, pemberdayaan ekonomi keluarga, dan edukasi.

Dinas PPAPP DKI Jakarta juga meningkatkan kapasitas kader Posyandu agar dapat mendampingi keluarga dalam upaya pencegahan stunting. Upaya tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Percepatan Penurunan Stunting dalam rangka Pekan Genting yang ditayangkan melalui akun YouTube Dinas PPAPP DKI Jakarta pada Jumat 21 Agustus 2026.

"Gerakan ini merupakan gerakan bersama yang mendorong keterlibatan orang tua asuh, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan keluarga yang berisiko stunting mendapat intervensi sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya," ujar Leni.

Sementara itu, dokter spesialis anak Kurniawan Satria Denta dalam acara yang sama mengatakan pencegahan stunting juga membutuhkan pemantauan tumbuh kembang anak secara rutin melalui Posyandu agar masalah dapat dikenali dan ditangani sedini mungkin. Menurutnya, kader memiliki peran penting dalam memastikan evaluasi dan pemantauan tumbuh kembang anak dilakukan secara rutin.

"Jadi semakin cepat dikenali dan ditangani, semakin besar peluang perbaikan. Ini adalah prinsip kenapa kita harus Posyandu rutin itu di sini," kata Kurniawan, dalam tayangan YouTube, dikutip Sabtu 22 Agustus 2026.

Merujuk data status gizi di Jakarta pada 2025, sebanyak seitar 19.591 orang termasuk dalam kategori stunting. Pemprov DKI menargetkan prevalensi stunting turun menjadi 15 persen pada tahun ini dan 14,2 persen pada 2027.

Adapun sejumlah langkah untuk mencegah stunting dapat dilakukan sejak remaja melalui skrining anemia dan konsumsi tablet tambah darah, pemeriksaan kehamilan minimal enam kali, serta pemenuhan gizi seimbang terutama protein hewani.

Pencegahan juga dilakukan melalui pemberian ASI eksklusif, imunisasi lengkap, makanan pendamping ASI bergizi, dan pemantauan tumbuh kembang di Posyandu selama 1.000 hari pertama kehidupan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....