Pesan Anti Perundungan Dari Enam Siswa SD, Berhenti Ejek Nama Orang Tua
- 14 Agt 2026 07:18 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Enam siswa Sekolah Dasar Negeri Pondok Labu 02 Jakarta berdiri bergantian di depan kamera sambil menunjukkan secarik kertas berisi pesan tentang anti-perundungan. Mereka adalah Gazel (Kelas 1), Khadija (Kelas 1), Naufal (Kelas 4), Kiandra (Kelas 4), Alula (Kelas 4), dan Falih (Kelas 4).
Dengan wajah tulus, mereka mengajak teman-temannya berhenti mengejek nama orang tua. Pesan-pesan itu ditulis lugas, mulai dari ajakan tidak menormalisasi ejekan orang tua hingga mengajak siswa menghargai teman dan orang tua.
Pesan itu ternyata mendapat perhatian luas setelah video kampanye yang pertama kali diunggah melalui akun Instagram resmi sekolah ditonton lebih dari 224 ribu kali, mendapat lebih dari delapan ribu tanda suka dan ratusan komentar.
Video tersebut juga kembali dibagikan sejumlah akun media massa sehingga pesan keenam siswa itu beresonansi lebih luas. RRI Jakarta berkesempatan mengujungi sekolah tersebut di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan.
Redaksi bertemu Kepala Sekolah, Dedien Yudha Pratama yang menjadi “motor” kampanye anti perundungan itu. Dedien mengatakan kebiasaan mengejek nama orang tua tidak semestinya dianggap sebagai candaan biasa.
Menurutnya, candaan tersebut dapat berubah menjadi perundungan verbal ketika membuat anak merasa terluka. "Situasi tidak selamanya bisa bercanda. Kadang ada anak yang mungkin lagi sensitif, kita tidak tahu dia di rumah seperti apa," kata Dedien, Kamis 13 Agustus 2026.

Menurut Dedien, perundungan verbal yang dianggap sepele dapat berdampak pada kondisi anak, mulai dari berkurangnya rasa percaya diri hingga perubahan perilaku. "Anak yang sebelumnya ceria dapat menjadi pendiam, takut datang ke sekolah untuk bertemu teman-temannya, bahkan kehilangan fokus dalam belajar," ujarnya.
Apa Yang Dilakukan Bila Terjadi Perundungan?
Sekolah, kata Dedien, mendorong siswa untuk menyampaikan kepada guru apabila merasa tidak nyaman dengan perlakuan temannya. Guru kemudian menyampaikan laporan tersebut kepada pihak sekolah untuk ditinjau dan ditangani sesuai dengan kondisi yang terjadi.
"Anak-anak di sini memang rutin diberikan edukasi. Ketika ada rasa tidak nyaman sama temannya, silakan sampaikan ke gurunya. Kalaupun terjadi, akan ditindak tegas sesuai dengan aturan yang sudah dikeluarkan Kemendikdasmen," ucap Dedien.
Di sisi lain, Dedien meminta guru membangun hubungan yang membuat siswa merasa nyaman untuk bercerita. "Di mana ada rasa nyaman untuk mereka cerita sama gurunya. Karena kalau sama gurunya saja tidak nyaman, gimana mereka bisa mau cerita?", katanya.
Kebiasaan yang sudah dianggap lumrah tidak berarti benar. Dedien menilai kebiasaan mengejek nama orang tua justru perlu dihentikan karena setiap anak berhak diperlakukan dengan rasa hormat.
"Kita bangun lagi rasa kemanusiaan, sense of humanity mereka, memperlakukan teman dengan selayaknya teman, tidak menggunakan bahasa yang kasar atau menyakiti, terus sayang sama temannya juga," kata Dedien.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....