MPLS Hari Pertama Disambut Antusias, Sekolah Bangun Adaptasi Anak sejak Awal

  • 13 Jul 2026 12:32 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • MPLS Ramah 2026 di Jakarta tidak hanya mengenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga membangun karakter, kecerdasan emosional, dan budaya sekolah yang aman.
  • Surat Edaran Nomor 70/SE/2026 melarang perpeloncoan, pungutan, keterlibatan alumni, serta aktivitas yang tidak edukatif selama MPLS.
  • Kepala sekolah, orang tua, dan pemerintah diminta berkolaborasi agar hari pertama sekolah menjadi pengalaman positif bagi seluruh peserta didik.

RRI.CO.ID, Jakarta – Antusiasme orang tua mengantar anak pada hari pertama sekolah menjadi pemandangan yang mewarnai pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah di Jakarta, Senin, 13 Juli 2026. Di balik ramainya halaman sekolah, kegiatan tersebut bukan sekadar memperkenalkan ruang kelas, tetapi menjadi tahap awal membangun rasa aman, kepercayaan diri, serta karakter peserta didik sebelum memasuki proses belajar mengajar.

Pelaksanaan MPLS tahun ajaran 2026/2027 mengacu pada Surat Edaran Nomor 70/SE/2026 yang menekankan prinsip sekolah ramah anak. Aturan tersebut melarang perpeloncoan, pungutan, keterlibatan alumni sebagai penyelenggara, hingga penggunaan atribut yang tidak memiliki nilai edukatif.

Foto: ilustrasi/beritajakarta.id

Orang Tua Dampingi Anak Beradaptasi

Suasana tersebut terlihat di SDN Karet 04 Jakarta yang tahun ini menerima dua rombongan belajar dengan total 64 murid baru. Sejak pagi, halaman sekolah dipenuhi kendaraan orang tua yang mengantar anak mereka mengikuti hari pertama MPLS.

Kepala SDN Karet 04 Jakarta, Hulwani, mengatakan tingginya antusiasme orang tua membuat area parkir sekolah jauh lebih padat dibanding hari-hari biasa. Petugas sekolah bahkan harus mengatur lalu lintas kendaraan agar kegiatan tetap berlangsung tertib.

"Alhamdulillah berjalan dengan lancar. Antusias orang tua sangat tinggi mengantar putra-putrinya ke sekolah. Ruangan penuh, parkiran juga penuh karena hari ini kami menerima dua kelas dengan total 64 siswa baru," ujar Hulwani kepada Radio 91,2 FM Pro1 RRI Jakarta, Senin, 13 Juli 2026.

Menurut Hulwani, kehadiran orang tua pada hari-hari pertama sekolah justru menjadi bagian penting dari proses adaptasi anak. Karena itu, sekolah memberikan keleluasaan bagi orang tua untuk tetap mendampingi putra-putrinya selama masa MPLS apabila masih merasa cemas berada di lingkungan baru.

"Selama lima hari MPLS orang tua boleh menemani apabila anak masih takut atau belum percaya diri. Tujuannya agar anak tidak stres menghadapi lingkungan baru. Setelah MPLS selesai, anak mulai belajar mandiri," ucapnya.

Materi MPLS Tak Lagi Sekadar Kenalan Sekolah

MPLS tahun ini tidak hanya berisi pengenalan ruang kelas, guru, maupun tata tertib sekolah. Pemerintah menambahkan sejumlah materi yang berkaitan dengan pembentukan karakter, kepedulian terhadap lingkungan, hingga budaya hidup sehat.

Di SDN Karet 04 Jakarta, salah satu materi baru yang diberikan kepada peserta didik adalah edukasi mengenai pemilahan sampah. Anak-anak diperkenalkan pada jenis sampah organik, anorganik, dan limbah berbahaya agar terbiasa menjaga kebersihan lingkungan sejak dini.

"Sekarang ada materi cara memilah sampah. Anak-anak dikenalkan mana sampah organik, anorganik, dan sampah berbahaya. Mereka belajar membuang sampah sesuai jenisnya," kata Hulwani.

Selain itu, sekolah juga menanamkan budaya sekolah yang bebas dari kekerasan dan perundungan. Seluruh kegiatan MPLS dirancang agar peserta didik merasa nyaman, diterima, dan bahagia selama menjalani masa pengenalan.

"Selama MPLS semua siswa harus bahagia. Tidak boleh ada bullying. Orang tua bahagia, guru juga harus bahagia supaya proses belajar dimulai dengan suasana yang positif," ujarnya.

Tema utama yang diusung dalam MPLS kali ini adalah "Jaga Sekolah Bersih, Aman, dan Nyaman". (Foto: beritajakarta.id)

Adaptasi Anak Menentukan Proses Belajar

Ketua Subkelompok Perlindungan Khusus Anak Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DPPAPP) Provinsi DKI Jakarta, Rizka Arofani, menilai keberhasilan MPLS tidak diukur dari seberapa cepat anak mengenal lingkungan sekolah. Yang lebih penting, kata dia, adalah bagaimana sekolah mampu menciptakan rasa aman sehingga anak percaya diri untuk belajar dan bersosialisasi.

"Apabila proses adaptasi berlangsung dengan baik, anak akan lebih mudah membangun rasa percaya diri, berani berinteraksi dengan guru maupun teman, serta memiliki motivasi yang lebih tinggi untuk mengikuti kegiatan belajar," ujar Rizka kepada Radio 91,2 FM Pro1 RRI Jakarta.

Menurut Rizka, hari pertama sekolah merupakan masa transisi yang wajar memunculkan berbagai emosi pada anak. Ada yang antusias bertemu teman baru, namun tidak sedikit yang merasa takut, cemas, malu, bahkan menangis karena harus berpisah sementara dengan orang tua.

Karena itu, ia mengingatkan orang tua maupun guru untuk tidak menghakimi respons emosional anak. Dukungan yang hangat justru menjadi kunci agar proses adaptasi berjalan lebih cepat.

"Jangan mengatakan anak cengeng atau membandingkan dengan orang lain. Orang tua perlu memvalidasi emosi anak agar mereka merasa didengar dan aman," ucap Rizka.

Ia menambahkan pengalaman positif pada hari-hari pertama sekolah akan menjadi fondasi penting bagi kesehatan mental, semangat belajar, dan kemampuan anak membangun hubungan sosial di kemudian hari.

MPLS Ramah tidak hanya mengenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga membangun kecerdasan emosional, empati, dan rasa aman bagi peserta didik. Rizka Arofani (kanan) selaku Ketua Subkelompok Perlindungan Khusus Anak DPPAPP DKI Jakarta, menilai pengalaman positif pada hari pertama sekolah menjadi bekal penting bagi perkembangan sosial dan mental anak. (Foto: tangkapan layar Ig @rripro1jakarta)
Cegah Bullying Dimulai Sejak Hari Pertama

Rizka juga menilai MPLS menjadi momentum penting untuk menanamkan kecerdasan emosional kepada peserta didik. Menurutnya, anak yang mampu mengenali dan mengelola emosinya akan lebih mudah menghargai orang lain, berempati, serta menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.

Sebaliknya, anak yang tidak memiliki kemampuan tersebut berisiko menjadi pelaku maupun korban perundungan. Karena itu, pendidikan karakter harus dibangun secara bersama antara keluarga dan sekolah.

"Keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari kemampuan akademik. Anak yang memiliki kecerdasan emosional yang baik akan lebih siap menghadapi tantangan kehidupan, mampu membangun hubungan sosial yang sehat, serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan," kata Rizka.

MBG Kembali Berjalan dan Sekolah Diawasi

Hari pertama sekolah juga menjadi awal kembali bergulirnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Karet 04 Jakarta setelah libur semester. Sekolah memanfaatkan momentum tersebut untuk memberikan sosialisasi kepada orang tua mengenai pentingnya membiasakan anak mengonsumsi makanan bergizi.

Hulwani mengakui pada awal pelaksanaan program masih banyak siswa yang merasa makanan bergizi memiliki cita rasa berbeda karena penggunaan garam dan penyedap dikurangi. Namun, melalui pembiasaan, peserta didik mulai memahami manfaat makanan sehat.

"Kami sampaikan kepada orang tua bahwa tujuan MBG adalah membiasakan anak makan makanan bergizi. Memang awalnya mereka bilang rasanya hambar, tetapi lama-kelamaan anak mulai terbiasa," ucapnya.

Ia memastikan selama pelaksanaan MPLS tidak ada pungutan maupun keterlibatan alumni sebagai penyelenggara kegiatan. Seluruh proses mengikuti ketentuan yang ditetapkan pemerintah.

"Alhamdulillah sekolah kami tidak ada pungutan sama sekali. Semua mengikuti aturan pemerintah bahwa sekolah negeri tidak boleh membebankan biaya kepada peserta didik selama MPLS," katanya.

Hulwani menambahkan pelaksanaan MPLS juga diawasi langsung oleh Dinas Pendidikan DKI Jakarta melalui kegiatan monitoring dan evaluasi (monev). Petugas dijadwalkan mengunjungi sekolah-sekolah untuk memastikan seluruh kegiatan berlangsung sesuai prinsip sekolah ramah anak.

"Ada monitoring dari Dinas Pendidikan. Petugas datang ke sekolah untuk memantau pelaksanaan MPLS agar sesuai aturan dan benar-benar menjadi kegiatan yang aman bagi peserta didik," ujar Hulwani.

google-preference
Audio
Putar Audio

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....