Hutan Kembali Hijau, Benarkah Ekosistem Sudah Pulih?.

  • 21 Sep 2026 14:07 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Kebakaran Hutan Kalimantan, Kerusakan Tak Sekadar Pohon Terbakar
  • Membaca Jejak Kebakaran Hutan di Kalimantan
  • Hutan Kembali Hijau, Benarkah Ekosistem Sudah Pulih?

RRI.CO.ID, Jakarta - Kebakaran hutan di Kalimantan meninggalkan persoalan yang jauh lebih kompleks dibandingkan sekadar hamparan pepohonan yang terbakar. Dampaknya dapat menjalar ke tanah, sumber air, habitat satwa, hingga keseimbangan ekosistem yang tidak selalu dapat dilihat secara kasatmata.

Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam program Green Radio RRI bersama komunitas Pusaka Indonesia, yang menghadirkan Denny Riswana, Koordinator Bidang Akademi Bumi Lestari, sebagai narasumber.

Program yang dipandu Ananta Satria Bagita dengan Nining Yuningsih sebagai pengarah acara tersebut membahas dua hal utama, yakni membaca tingkat kerusakan akibat kebakaran hutan dan memahami proses pemulihan ekosistem pascakebakaran.

Denny Riswana menjelaskan, salah satu hal penting dalam membaca dampak kebakaran hutan adalah melihat kerusakan yang tidak langsung terlihat oleh mata.

Menurutnya, kebakaran dapat mengganggu berbagai komponen ekosistem. Selain vegetasi, organisme yang hidup di dalam tanah, kualitas air, habitat satwa, serta hubungan antarorganisme juga dapat terdampak.

“Kalau kita hanya melihat pohon yang terbakar, kita belum melihat keseluruhan kerusakannya. Ada tanah, air, habitat satwa, dan organisme yang juga menjadi bagian dari ekosistem dan ikut terdampak,” ujar Denny.

Karena itu, tingkat keparahan kebakaran tidak semata-mata diukur dari luas lahan yang terbakar atau jumlah pohon yang hangus. Kondisi tanah, perubahan vegetasi, keberadaan satwa, serta kemampuan kawasan tersebut untuk kembali menjalankan fungsi ekologisnya menjadi bagian penting dalam melihat dampak kebakaran.

Fokus kedua yang disoroti Denny adalah proses pemulihan hutan. Ia menegaskan, menanam kembali pohon bukan satu-satunya ukuran keberhasilan pemulihan.

Kawasan yang sebelumnya terbakar memang dapat kembali terlihat hijau setelah tumbuhnya vegetasi. Namun, kondisi tersebut belum otomatis menunjukkan bahwa ekosistem telah kembali seperti sebelum kebakaran.

“Menanam pohon itu penting, tetapi pemulihan hutan tidak berhenti pada penanaman. Hutan yang terlihat hijau kembali belum tentu fungsi ekosistemnya sudah pulih,” katanya.

Pemulihan, lanjutnya, perlu mempertimbangkan kesesuaian jenis vegetasi, kondisi tanah, ketersediaan air, serta kembalinya habitat dan keanekaragaman hayati. Dengan demikian, tujuan pemulihan bukan sekadar membuat kawasan terlihat hijau, tetapi mengembalikan fungsi ekologis hutan secara bertahap.

Melalui Green Radio, RRI bersama komunitas Pusaka Indonesia mengajak masyarakat melihat kebakaran hutan secara lebih menyeluruh. Api yang padam bukan berarti persoalan selesai, karena jejak kerusakan ekologis dapat berlangsung jauh lebih lama dan membutuhkan proses pemulihan yang berkelanjutan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....