Perluas Transisi Energi, PLN EPI Kembangkan Biomassa Jadi BioCNG dan Hidrogen
- 07 Sep 2026 19:42 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperluas pemanfaatan biomassa menjadi bahan baku BioCNG (Compressed Biomethane Gas) dan hidrogen hijau sebagai bagian dari strategi mempercepat transisi energi sekaligus mengejar target net zero emission 2060.
Langkah tersebut diumumkan dalam ajang The 12th IndoEBTKE ConEx 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Senin, 7 September 2026, melalui dua kerja sama strategis yang memperkuat pengembangan bioenergi di luar program co-firing pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan selama ini biomassa telah dimanfaatkan sebagai pengganti sebagian batubara pada PLTU. Namun, pengembangannya kini diarahkan untuk menghasilkan produk energi terbarukan bernilai tambah lebih tinggi.
“Pada dasarnya konsepnya adalah co-firing. Bahan-bahan hayati kita kumpulkan, kita ambil, kemudian kita deploy ke pembangkit milik kita,” kata Hokkop.
Menurut dia, PLTU menjadi pembangkit yang paling siap memanfaatkan biomassa karena karakteristik bahan bakarnya memungkinkan substitusi sebagian penggunaan batubara. Meski demikian, PLN EPI telah menyiapkan peta jalan hingga 2030 untuk memperluas pemanfaatan biomassa ke berbagai sektor energi.
Salah satu pengembangan itu diwujudkan melalui kerja sama PLN EPI dengan PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas) dan PT Kis Biofuels Indonesia untuk mengembangkan BioCNG berbasis limbah organik, termasuk Palm Oil Mill Effluent (POME) dan limbah peternakan.
Dalam skema tersebut, limbah organik diolah menjadi biometana yang kemudian dikompresi menjadi BioCNG, sementara PGN Gagas akan berperan sebagai penyerap atau off-taker produk tersebut.
“Metananya kita ambil, kemudian kita ciptakan reaktor dan segalanya. Tentunya dengan kerja sama dengan pihak teknologi, baru nanti kita bisa bertransaksi dengan PT Gagas,” ujar Hokkop.
Selain BioCNG, PLN EPI juga mengembangkan ekosistem hidrogen hijau melalui kerja sama dengan CISRI HY&POR Technology Co., Ltd. dan PT Pupuk Kujang Cikampek. Hokkop menjelaskan proses gasifikasi biomassa menghasilkan gas yang mengandung hidrogen, kemudian hidrogen tersebut ditangkap untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku industri.
“Kita tahu kalau biomassa sudah digasifikasi, tentu ada hidrogen yang lepas di situ. Itu ditangkap dan akan dipakai oleh Pupuk Kujang sebagai off-taker,” katanya.
Ia menilai keberadaan off-taker menjadi faktor penting agar pengembangan bioenergi tidak berhenti pada tahap produksi, tetapi mampu membangun rantai pasok industri yang berkelanjutan.
Saat ini PLN EPI terus mengembangkan pemanfaatan biomassa dari berbagai residu pertanian, perkebunan, dan limbah organik sebagai bagian dari diversifikasi energi primer nasional. Selain mendukung program co-firing di pembangkit PLN, biomassa juga diarahkan menjadi bahan baku berbagai produk energi rendah karbon yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Melalui pengembangan BioCNG dan hidrogen hijau, PLN EPI berharap dapat membangun ekosistem bioenergi yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, meningkatkan nilai tambah biomassa nasional, memperkuat ketahanan energi, serta mempercepat transisi menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....