Potensi Biomassa Indonesia Capai 83,4 Juta Ton Per Tahun

  • 06 Sep 2026 09:51 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Potensi biomassa Indonesia diperkirakan mencapai 83,4 juta ton per tahun, dengan sebaran terbesar berada di Sumatra, Kalimantan, dan Jawa. PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menyatakan potensi tersebut menjadi dasar pengembangan rantai pasok energi hayati untuk mendukung ketahanan energi dan transisi menuju energi rendah karbon.

Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan sebagian besar sumber biomassa berasal dari residu pertanian, perkebunan, kehutanan, hingga limbah perkotaan yang lokasinya berdekatan dengan pembangkit listrik milik PLN.

“Semua sumber biomassa itu ada di dekat titik-titik pembangkit milik PLN. Potensi ini harus kita bangun menjadi sebuah ekosistem agar memberikan nilai tambah,” kata Hokkop dalam ASPEBINDO Bioenergy Business Summit 2026 di Jakarta, Sabtu, 5 September 2026.

PLN EPI mencatat Sumatra memiliki potensi biomassa terbesar sekitar 42,8 juta ton per tahun, disusul Kalimantan 18,9 juta ton dan Jawa 13,1 juta ton. Sumber bahan baku tersebut mencakup residu kelapa sawit, kayu, sekam padi, tebu, jagung, hingga sampah perkotaan.

Untuk memanfaatkan potensi tersebut, perusahaan memetakan sumber biomassa berdasarkan kedekatannya dengan pembangkit listrik serta menerapkan sistem rantai pasok bertingkat melalui konsep sub-hub, hub, dan main hub.

Dalam skema tersebut, sub-hub berfungsi sebagai titik pengumpulan bahan baku, hub menjadi pusat produksi, penyimpanan, dan pengendalian mutu, sedangkan main hub mengintegrasikan proses produksi, pencampuran, penyimpanan, hingga distribusi biomassa ke pembangkit maupun pengguna lain.

Hokkop mengatakan pengembangan rantai pasok tersebut juga melibatkan pelaku usaha lokal. Saat ini PLN EPI bekerja sama dengan hampir 200 pemasok biomassa, sekitar 80 persen di antaranya merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Ekonomi sirkularnya berjalan. Pasokan biomassa rata-rata berasal dari kolaborasi antara mitra UMKM dengan masyarakat di desa,” ujarnya.

Hokkop menjelaskan, pengembangan biomassa tidak hanya diarahkan untuk mendukung program co-firing pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), tetapi juga menjadi bagian dari pengembangan energi hayati lainnya.

Dalam peta jalan 2026–2030, pihaknya menargetkan penggunaan biomassa meningkat dari 3,7 juta ton pada 2026 menjadi 10 juta ton pada 2030. Selain itu, perusahaan mengembangkan compressed biogas (CBG), pengelolaan sampah, bio-charcoal, dan program dedieselization.

“Perusahaan juga menjajaki pemanfaatan biohidrogen melalui proses gasifikasi untuk memenuhi kebutuhan industri, termasuk sebagai bahan baku produksi amonia,” ujarnya.

Menurut proyeksi perusahaan, pengembangan berbagai lini energi hayati tersebut berpotensi memanfaatkan hingga 20 juta ton limbah setiap tahun, mengurangi emisi sekitar 12 juta ton setara karbon dioksida (CO₂e), serta menciptakan sekitar 150 ribu lapangan kerja hijau.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....