Optimalkan Biomassa, PLN EPI Dorong Transisi Energi tanpa Deforestasi

  • 10 Sep 2026 16:23 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menargetkan pemanfaatan biomassa mencapai 3,4 juta ton pada 2026 untuk mendukung program co-firing di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Langkah tersebut menjadi bagian dari percepatan transisi energi nasional dengan menegaskan penggunaan biomassa dilakukan tanpa mendorong praktik deforestasi.

Komitmen tersebut disampaikan Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir dalam Panel Discussion #1: Driving Sustainable Forest Development through Biomass and Resilient Forest Management pada rangkaian Sweden-Indonesia Sustainability Partnership (SISP) Forestry Industry Session di Park Hyatt Jakarta.

Hokkop mengatakan pemanfaatan biomassa PLN meningkat dari sekitar 2,5 juta ton pada tahun lalu menjadi target 3,4 juta ton pada tahun ini sebagai bagian dari diversifikasi sumber energi nasional.

“Tahun lalu kami baru mencapai sekitar 2,5 juta ton. Tahun ini kami akan mencapai sekitar 3,4 juta ton biomassa untuk disediakan kepada seluruh perusahaan kami,” ujar Hokkop, melalui keterangan tertulis, Kamis, 10 September 2026.

Menurutnya, Indonesia memiliki potensi biomassa yang jauh lebih besar dibandingkan yang telah dimanfaatkan saat ini. Berdasarkan data PLN EPI bersama pelaku industri, potensi biomassa nasional dari sektor industri mencapai sekitar 80 juta ton per tahun, namun baru sekitar 20 juta ton yang telah dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.

Meski porsi biomassa yang digunakan PLN masih relatif kecil, Hokkop menilai pencapaian tersebut menempatkan perusahaan sebagai salah satu pengguna biomassa co-firing terbesar di Asia.

PLN EPI menegaskan peningkatan penggunaan biomassa dilakukan dengan prinsip keberlanjutan. Sekitar 70 persen biomassa yang digunakan berasal dari material residu, seperti limbah industri kehutanan, industri kertas, dan sektor agro, sehingga tidak bergantung pada pembukaan hutan baru.

Untuk memastikan rantai pasok tetap berkelanjutan, perusahaan menerapkan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA) dalam mengevaluasi setiap sumber biomassa dan mewajibkan mitra menyampaikan data asal bahan baku.

“Kami sudah membuat kalkulasi menggunakan LCA. Kami memilih partner dengan meminta mereka memenuhi semua data dari sumber biomassa. Kami anti deforestasi,” ujar Hokkop.

Lebih lanjut Hokkop menjelaskan, selain mendukung transisi energi, PLN EPI menilai pengembangan biomassa dapat menjadi penggerak ekonomi daerah. Saat ini perusahaan telah menggandeng sekitar 140 perusahaan dalam ekosistem biomassa di berbagai wilayah Indonesia.

Apabila pemanfaatan biomassa ditingkatkan hingga sekitar 8 juta ton, ekosistem tersebut diperkirakan mampu menciptakan sekitar 750 ribu lapangan kerja, mulai dari penyediaan bahan baku, pengolahan, transportasi, logistik, hingga sektor pendukung lainnya.

Hokkop menambahkan peluang pengembangan biomassa masih sangat terbuka karena dari potensi sekitar 80 juta ton per tahun, masih terdapat sekitar 60 juta ton yang belum dimanfaatkan. Menurutnya, pengembangan biomassa perlu dibangun sebagai ekosistem terintegrasi dari hulu hingga hilir agar tidak hanya memperkuat pasokan energi, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi industri dalam negeri dan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....