Perkuat Ketahanan Energi, PLN EPI Targetkan Serap 10 Juta Ton Biomassa pada 2030
- 19 Jun 2026 16:47 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menargetkan penyerapan biomassa untuk kebutuhan pembangkit listrik mencapai 10 juta ton pada 2030, sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung pencapaian target Net Zero Emissions (NZE) 2060. Target tersebut hampir tiga kali lipat dibandingkan sasaran penyerapan biomassa pada 2026 yang dipatok sekitar 3,65 juta ton.
Komitmen tersebut disampaikan Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, dalam audiensi bersama Dewan Energi Nasional (DEN) di Jakarta, Jumat. 19 Juni 2026. Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah anggota DEN, antara lain Satya Widya Yudha, Johni Jonathan Numberi, Mohamad Fadhil Hasan, Sripeni Inten Cahyani, Muhammad Kholid Syeirazi, Surono, Unggul Priyanto, dan Saleh Abdurrahman.
Hokkop mengatakan Indonesia memiliki potensi biomassa dari limbah agro yang mencapai sekitar 80 juta ton per tahun. Namun, pemanfaatannya baru sekitar 20 juta ton, sementara sebagian besar justru dimanfaatkan untuk kebutuhan ekspor dan industri.
“Pada 2025, PLN hanya menyerap sekitar 2,35 juta ton biomassa untuk kebutuhan pembangkit. Sementara ekspor biomassa sudah mencapai sekitar 8,5 juta ton dan sisanya dimanfaatkan sektor industri. Ini menunjukkan potensi bioenergi nasional masih sangat besar untuk dioptimalkan bagi kepentingan domestik,” ujar Hokkop.
Menurut dia, pencapaian target penyerapan 10 juta ton biomassa pada 2030 diperkirakan mampu menghasilkan nilai ekonomi hampir Rp4 triliun serta menurunkan emisi sekitar 11 juta ton karbon ekuivalen.
Selain biomassa, PLN EPI juga mulai mempercepat pengembangan Compressed Biomethane Gas (CBG) yang berasal dari limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME). Indonesia tercatat memiliki hampir 3.000 pabrik kelapa sawit yang menghasilkan sekitar 130 juta metrik ton POME setiap tahun.
Hokkop mengungkapkan, uji coba pemanfaatan CBG telah dilakukan pada salah satu pembangkit milik PT Nusantara Power dengan hasil yang menjanjikan. “Kami berharap kalau biomassa bisa menggantikan sekitar 10 persen kebutuhan energi PLTU, maka CBG juga bisa menggantikan sekitar 10 persen kebutuhan energi di PLTG, PLTMG maupun PLTGU,” katanya.
PLN EPI juga mulai mengembangkan biohidrogen sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan energi bersih yang terus meningkat, baik di pasar domestik maupun global.
“Kami melihat biohidrogen menjadi salah satu peluang besar ke depan karena permintaan global mulai meningkat. Potensinya berasal dari biomassa maupun limbah organik yang sangat melimpah di Indonesia,” kata Hokkop.
Anggota Dewan Energi Nasional, Johni Jonathan Numberi, menilai biomassa akan menjadi salah satu sumber energi penting dalam bauran energi nasional menuju NZE 2060. Menurut dia, keberadaan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang masih memiliki umur operasi panjang membuat program cofiring biomassa menjadi solusi strategis untuk menekan emisi tanpa mengganggu keandalan pasokan listrik.
“PLTU kita rata-rata memiliki umur operasi yang panjang. Karena itu, cofiring biomassa menjadi langkah penting untuk mengurangi emisi sekaligus menjaga keandalan pasokan listrik nasional,” ujarnya.
Pengembangan bioenergi, lanjut Johni, membutuhkan dukungan lintas sektor karena tidak hanya melibatkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), tetapi juga sektor pertanian, kehutanan, industri, hingga keuangan.
Dari sisi ekonomi, PLN EPI memperkirakan pengembangan bioenergi hingga 2030 dapat menghasilkan pendapatan sekitar Rp5,1 triliun, tambahan penerimaan negara Rp670 miliar, pemanfaatan limbah hingga 20 juta ton, serta menciptakan sekitar 150 ribu lapangan kerja hijau.
Saat ini PLN EPI telah mengembangkan fasilitas produksi biomassa di Tasikmalaya dan Ciamis melalui kolaborasi dengan petani, koperasi, BUMDes, UMKM, BUMD, dan mitra swasta. Untuk memenuhi target biomassa tahun lalu, perusahaan bekerja sama dengan sekitar 150 mitra di berbagai daerah.
Meski memiliki prospek besar, Hokkop mengakui pengembangan bioenergi masih menghadapi tantangan, terutama terkait kepastian harga dan penguatan ekosistem industri. Karena itu, PLN EPI mengusulkan pembentukan Indonesian Bioenergy Index (IBI) sebagai acuan harga nasional bioenergi.
Dalam rapat tersebut, Ketua sidang DEN Satya Widya Yudha menyampaikan tiga langkah tindak lanjut untuk mempercepat pengembangan industri bioenergi nasional, yakni mendorong dukungan kebijakan lintas sektor, menyinkronkan pembangunan infrastruktur energi dan logistik biomassa, serta membentuk forum koordinasi strategis dari hulu hingga hilir guna memastikan implementasi kebijakan berjalan efektif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....