Limbah Sawit Jadi Energi Strategis, PLN EPI Dorong CBG Kurangi Ketergantungan LNG
- 15 Jun 2026 22:00 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mendorong pengembangan Compressed Biomethane Gas (CBG) berbasis limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) sebagai solusi untuk mempercepat transisi energi sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor gas alam cair (liquefied natural gas atau LNG). Potensi besar limbah sawit dinilai dapat menjadi sumber energi rendah karbon yang mampu mendukung target dekarbonisasi nasional.
Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan Indonesia memiliki sumber daya yang sangat besar untuk mengembangkan biomethane dari sektor kelapa sawit. Menurutnya, pemanfaatan limbah sawit menjadi energi tidak hanya membantu menekan emisi gas rumah kaca, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional berbasis sumber daya domestik.
“Kalau industri sawit ini bisa kita manfaatkan untuk kepentingan energi ekonomi, potensinya sangat besar. Sumbernya ada, teknologinya ada, pembiayaannya ada. Tinggal bagaimana kita membangun skema bisnis yang tepat sehingga bisa segera diimplementasikan,” kata Hokkop melalui keterangan tertulis, Senin, 15 Juni 2026.
Ia menjelaskan Indonesia memiliki sekitar 3.000 pabrik kelapa sawit dengan potensi limbah cair mencapai sekitar 130 juta meter kubik per tahun. Namun hingga kini sebagian besar limbah tersebut belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber energi.
Di sisi lain, limbah POME menjadi salah satu penyumbang emisi metana terbesar dari sektor industri. PLN EPI memperkirakan emisi yang dihasilkan dari limbah sawit mencapai sekitar 20 juta ton setara karbon dioksida (CO2e) setiap tahun.
“Kita melihat sumber emisi dari POME ini mencapai sekitar 20 juta ton karbon ekuivalen. Hampir 90 persen sebenarnya bisa diselesaikan melalui utilisasi menjadi sumber energi baru,” ujarnya.
Menurut Hokkop, pengembangan CBG dapat berkontribusi terhadap pencapaian target bauran energi baru terbarukan (EBT) nasional sebesar 44 hingga 48 persen pada 2030 sekaligus mendukung target Net Zero Emissions (NZE) pada 2060. Karena itu, PLN EPI tengah membangun ekosistem biomethane yang terintegrasi mulai dari pasokan bahan baku, fasilitas produksi, hingga penciptaan pasar.
Dalam model bisnis tersebut, PLN EPI akan berperan sebagai agregator dan offtaker yang menghubungkan pabrik kelapa sawit, penyedia teknologi, lembaga pembiayaan, sektor industri, hingga pembangkit listrik.
“Produksi saja CBG-nya, nanti kami beli dan kami distribusikan ke pembangkit. Kami siap menjadi agregator sehingga investasi di sektor ini bisa berjalan lebih cepat,” kata Hokkop.
Salah satu proyek yang tengah dipersiapkan adalah penerapan cofiring CBG di PLTGU Belawan. Untuk satu turbin gas berkapasitas 130 megawatt dengan tingkat cofiring 2,5 persen dibutuhkan sekitar 450 MMBTUD Bio-CBG yang berasal dari pemanfaatan sekitar 330 ribu meter kubik POME per tahun.
Pihaknya memperkirakan kebutuhan empat turbin di PLTGU Belawan memerlukan empat fasilitas CBG dengan total investasi sekitar US$20 juta. Implementasi proyek tersebut berpotensi menghindari emisi hingga 500 ribu ton CO2e serta menjadi model awal integrasi biomethane ke dalam sistem ketenagalistrikan nasional.
Secara nasional, peluang pengembangan CBG juga dinilai sangat besar. Dari total kapasitas pembangkit berbasis gas sebesar 18,4 gigawatt, kebutuhan biomethane untuk skema cofiring 2,5 persen diperkirakan mencapai sekitar 60.000 MMBTUD dengan melibatkan sekitar 200 pabrik kelapa sawit. Potensi pengurangan emisi yang dihasilkan dapat mencapai sekitar 14 juta ton CO2e.
“Selain manfaat lingkungan, proyek biomethane juga menjanjikan nilai ekonomi yang signifikan. Berdasarkan simulasi PLN EPI, satu proyek CBG dapat menghasilkan nilai ekonomi hingga Rp1,7 triliun sekaligus menurunkan emisi sekitar 700 ribu ton CO2e,” katanya.
PLN EPI menargetkan pengembangan bisnis CBG secara bertahap hingga 2030. Dalam peta jalan perusahaan, kapasitas produksi CBG ditargetkan meningkat dari 1.000 MMBtu pada 2026 menjadi 2.957 BBTU pada 2030, yang didukung pembangunan tiga fasilitas CBG untuk memasok kebutuhan pembangkit dan program dedieselisasi nasional.
Hokkop menegaskan bioenergi memiliki peran strategis dalam menjembatani kebutuhan transisi energi, ketahanan energi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Menurutnya, limbah sawit yang selama ini menjadi sumber emisi dapat diubah menjadi sumber energi bernilai tambah yang mendukung kemandirian energi Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....