Pendapatan KAI Group Tembus 17,96 Triliun, Laba Usaha Semester I 2026 Naik

  • 03 Agt 2026 16:41 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (Persero), disingkat KAI membukukan pendapatan sebesar Rp17,96 triliun pada Semester I 2026 berdasarkan laporan keuangan KAI Group (unaudited), dikutip dari siaran pers melalui Antara, Senin 3 Agustus 2026.

Nilai tersebut meningkat 6,61 persen dibandingkan Semester I 2025 sebesar Rp16,85 triliun, sementara laba usaha naik 25,79 persen menjadi Rp4,66 triliun dari sebelumnya Rp3,71 triliun.

Laba bruto KAI Group juga meningkat 18,81 persen dari Rp5,72 triliun menjadi Rp6,79 triliun. Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan capaian tersebut menunjukkan kegiatan bisnis utama KAI Group terus menguat seiring pertumbuhan layanan.

"Pertumbuhan pendapatan dan laba usaha menjadi modal penting bagi KAI untuk menjaga keselamatan perjalanan, kesiapan sarana dan prasarana, serta kualitas pelayanan kepada masyarakat. Kinerja bisnis yang kuat juga mendukung keberlanjutan pengembangan layanan penumpang dan barang," kata Anne, sebagaimana dikutip dari siaran pers.

Sepanjang Semester I 2026, KAI Group melayani 258.993.359 pelanggan atau meningkat 7,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 240.805.920 pelanggan.

Pelayanan tersebut mencakup layanan Public Service Obligation (PSO), KA Perintis, penugasan pemerintah, serta layanan komersial. Berdasarkan pengelompokan volume pada entitas dan layanan yang menjalankan PSO, KA Perintis, atau penugasan pemerintah, tercatat sebanyak 235.137.908 pelanggan (90,79 persen dari total pelanggan KAI Group).

Anne mengatakan angka tersebut menunjukkan besarnya peran KAI Group dalam menyediakan transportasi publik sehingga masyarakat dapat memperoleh layanan kereta api dengan tarif terjangkau dan menjangkau berbagai wilayah.

"Kepercayaan Pemerintah melalui PSO, KA Perintis, dan berbagai penugasan memberi ruang bagi KAI untuk melayani masyarakat secara lebih luas. KAI menjaga agar layanan tersebut tetap selamat, andal, tertib, dan sesuai kebutuhan pelanggan," ujar Anne.

Selain layanan penumpang, angkutan barang juga menjadi penopang bisnis KAI dengan volume mencapai 32.498.043 ton sepanjang Semester I 2026. Jumlah tersebut terdiri atas 26.534.095 ton batu bara dan 5.963.948 ton komoditas nonbatu bara.

Layanan angkutan barang tersebut mendukung distribusi komoditas strategis untuk kebutuhan energi, industri, perkebunan, peti kemas, semen, bahan bakar, serta berbagai kebutuhan logistik lainnya.

Menurut Anne, kapasitas angkut yang besar dan jadwal perjalanan yang terencana membantu kelancaran rantai pasok nasional. Penguatan layanan barang juga dilakukan melalui penambahan sarana dengan kedatangan 1.080 gerbong datar hingga Semester I 2026 untuk meningkatkan kapasitas angkutan di Sumatra.

KAI juga mengembangkan layanan KA Brumbung Cargo dengan kapasitas hingga 800 ton per rangkaian, sementara angkutan peti kemas mencapai sekitar 2,62 juta ton sebagai bagian dari pengembangan distribusi berbasis rel yang terhubung dengan pusat industri dan logistik.

"Layanan barang memiliki peran penting dalam mendukung kegiatan ekonomi nasional. Penguatan sarana dan layanan terus dilakukan agar kereta api dapat melayani kebutuhan dunia usaha secara lebih efisien sekaligus membantu menjaga kelancaran distribusi komoditas strategis," kata Anne.

Dari sisi posisi keuangan, total aset KAI Group per 30 Juni 2026 tercatat sebesar Rp104,79 triliun. Total liabilitas mencapai Rp65,11 triliun atau turun dibandingkan posisi 31 Desember 2025 sebesar Rp66,14 triliun, sedangkan total ekuitas meningkat dari Rp39,29 triliun menjadi Rp39,69 triliun.

Aset lancar KAI Group meningkat dari Rp19,40 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp21,04 triliun per 30 Juni 2026. Pada saat yang sama, kewajiban jangka pendek turun dari Rp16,20 triliun menjadi Rp15,17 triliun sehingga aset lancar perusahaan tetap berada di atas kewajiban jangka pendek.

Pada Semester I 2026, KAI Group membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp842,69 miliar dan laba tahun berjalan sebesar Rp314,03 miliar.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Semester I 2025 yang mencatat laba sebelum pajak Rp1,86 triliun dan laba tahun berjalan Rp1,18 triliun karena peningkatan pencatatan bagian rugi bersih dari perusahaan asosiasi dan usaha patungan dari Rp948,20 miliar menjadi Rp3,00 triliun.

Anne mengatakan, KAI menyatakan terus menyelaraskan transformasi perusahaan dengan agenda transformasi BUMN bersama Danantara Indonesia melalui peningkatan produktivitas, efisiensi operasi, tata kelola, modernisasi sarana dan layanan, pemanfaatan teknologi, sinergi dalam ekosistem BUMN, serta pengembangan sumber daya manusia.

"Transformasi dan sinergi bersama Danantara mendorong KAI untuk semakin disiplin dalam meningkatkan produktivitas, memperkuat tata kelola, dan mengembangkan kompetensi pekerja," ujar Anne.

"Setiap penguatan kinerja perusahaan diarahkan kembali untuk menghadirkan layanan transportasi yang selamat, andal, mudah diakses, serta memberi manfaat bagi masyarakat dan perekonomian nasional," kata Anne, menutup pernyataannya dalam siaran pers.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....