Performa BUMN 2026 Makin Solid Jadi Bukti Kinerja Positif Era Prabowo

  • 11 Agt 2026 23:25 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Kinerja positif sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sepanjang semester pertama 2026 dinilai menjadi salah satu perkembangan penting dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Program konsolidasi dan transformasi BUMN yang dijalankan Danantara disebut mulai menunjukkan hasil, tercermin dari pertumbuhan laba bersih sejumlah perusahaan negara di berbagai sektor strategis.

Managing Partner BUMN Research Group LM FEB UI, Toto Pranoto mengatakan, kinerja positif terutama terlihat pada sejumlah BUMN papan atas yang selama ini menjadi penggerak utama pendapatan dan laba perusahaan negara.

“Menurut saya kinerja solid masih ditunjukkan BUMN blue chips yang sedari dulu menjadi motor penggerak revenue dan profit total BUMN. Misal kinerja Himbara di sektor perbankan, sektor mineral dan hasil tambang, sektor telco dan Pertamina,” ujar Toto melalui keterangan tertulis di Jakarta, Selasa, 11 Agustus 2026.

Menurut Toto, kinerja BUMN di bawah pengelolaan Danantara masih memiliki peluang untuk terus meningkat. Salah satunya melalui proses streamlining atau penataan dan konsolidasi BUMN yang dinilai dapat meningkatkan efisiensi perusahaan negara.

Ia berharap proses tersebut dapat dipercepat sehingga perbaikan kinerja BUMN dapat berlangsung lebih efektif.

“Harapan saya supaya proses streamlining BUMN bisa dipercepat sehingga perbaikan kinerja bisa lebih cepat dilaksanakan,” lanjut Toto.

Berdasarkan laporan keuangan semester I 2026 yang dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya, PT Timah mencatat pertumbuhan laba paling tinggi di antara sejumlah BUMN yang disebutkan.

Perusahaan tambang tersebut membukukan laba bersih Rp2,71 triliun, meningkat 804,7 persen dibandingkan semester I 2025 yang tercatat sekitar Rp300 miliar.

Kinerja positif juga dicatat PT Pupuk Indonesia. Laba bersih perusahaan mencapai Rp8,51 triliun, atau tumbuh 253 persen dibandingkan Rp2,41 triliun pada semester I 2025.

Di sektor semen, PT Semen Indonesia membukukan kenaikan laba sebesar 196,5 persen, dari Rp65,24 miliar menjadi Rp193,46 miliar.

Sementara itu, PT Agrinas Palma Nusantara mencatat pertumbuhan laba sebesar 150 persen menjadi Rp890 miliar. Pertumbuhan tersebut disebut sejalan dengan proses konsolidasi sektor perkebunan strategis yang dikelola BUMN.

Pertumbuhan juga terlihat pada sektor jasa keuangan dan logistik. PT Pegadaian mencatat kenaikan laba 84,6 persen menjadi Rp6,59 triliun, sedangkan PT Pelindo membukukan pertumbuhan 60,4 persen menjadi Rp2,57 triliun.

PTPN IV PalmCo mencatat kenaikan laba 54 persen menjadi Rp3,23 triliun. Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara atau BTN membukukan pertumbuhan laba 40,8 persen menjadi Rp2,40 triliun.

Bank Mandiri juga mencatat pertumbuhan laba sebesar 24,3 persen menjadi Rp30,41 triliun. Kinerja tersebut menunjukkan pertumbuhan tidak hanya terjadi pada BUMN berskala kecil dan menengah, tetapi juga pada perusahaan negara dengan skala usaha besar.

Di sektor energi bersih, PT Pertamina Geothermal Energy mencatat pertumbuhan laba 15,5 persen menjadi 79,61 juta dolar AS.

Selain mencatat pertumbuhan laba, sejumlah BUMN yang sebelumnya mengalami kerugian juga dilaporkan berhasil membalikkan kinerja pada semester pertama tahun ini.

PT Krakatau Steel, misalnya, disebut berhasil berbalik dari kerugian sekitar Rp1,74 triliun menjadi laba sekitar Rp150 miliar hingga Rp185 miliar.

Perubahan kinerja juga terjadi pada PT Kimia Farma. Perusahaan tersebut berbalik dari rugi Rp135,61 miliar menjadi laba Rp54,07 miliar.

Perbaikan kinerja kedua perusahaan tersebut dinilai penting karena Krakatau Steel dan Kimia Farma sebelumnya menghadapi persoalan kinerja dan tekanan keuangan dalam beberapa tahun terakhir.

Rangkaian capaian tersebut menjadi salah satu modal bagi pemerintah dalam melanjutkan transformasi BUMN memasuki tahun kedua pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Konsolidasi perusahaan negara, peningkatan efisiensi, disiplin operasional, serta penguatan tata kelola menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kontribusi BUMN terhadap perekonomian nasional.

Meski demikian, keberlanjutan tren positif tersebut tetap bergantung pada kemampuan perusahaan negara menjaga efisiensi, memperkuat tata kelola, serta memastikan proses konsolidasi menghasilkan kinerja yang berkelanjutan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....