SHEnergy Fest, Suarakan Hak Perempuan Disabilitas Melalui Perspektif Inklusif
- 23 Mei 2026 19:44 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Kebijakan transisi energi nasional seringkali baru menyentuh permukaan aspek teknologis dan makroekonomi, namun kerap melupakan aspek kemanusiaan yang mendasar. Bergerak dari keresahan tersebut, SHEnergy Fest 2026 hadir sebagai ruang kolaboratif multipihak untuk menyuarakan gerakan perempuan dalam mewujudkan kedaulatan dan transisi energi yang adil serta inklusif di Indonesia.
SHEnergy Fest 2026 merupakan platform kolaboratif yang mempertemukan berbagai organisasi masyarakat sipil, aktivis, akademisi, dan perwakilan komunitas perempuan. Festival ini didedikasikan untuk mengarusutamakan perspektif gender dan inklusi sosial (GEDSI) dalam narasi iklim dan transisi energi di Indonesia, guna memastikan terciptanya kedaulatan energi yang adil bagi seluruh lapisan masyarakat.
Sebagai bagian dari rangkaian festival tersebut, turut digelar Workshop Inklusivitas Transisi Energi, pada Sabtu 23 Mei 2026, di Ruang Sastra dan Multimedia Rukiah Kertapati, Lantai 2 Gedung Trisno Soemardjo, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Kegiatan tersebut berlangsung secara interaktif, mulai pukul 10.00-12.00 WIB. Kegiatan berlangsung dengan mengupas tuntas alasan transisi energi tidak boleh berjalan dengan meninggalkan kelompok marginal, khususnya perempuan disabilitas.
Transisi Energi Bukan Sekadar Ganti Teknologi, Melainkan Perubahan Pola Hidup
Ketua II Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI), Bidang Advokasi dan Peningkatan Kesadaran, Rina Prasaran, hadir sebagai pemantik diskusi, membedah realitas lapangan secara mendalam, namun dikemas dengan santai dan berbobot. Dalam paparannya, Rina menekankan bahwa transisi ke energi bersih bukan sekadar urusan mengganti mesin atau infrastruktur, melainkan sebuah transformasi sosial.
"Transisi energi itu bukan sekadar urusan mengganti teknologi, melainkan tentang mengubah pola pikir dan hidup masyarakat. Sayangnya, proses ini sering kali mengabaikan hambatan interseksional yang dihadapi oleh perempuan disabilitas," ujar Rina.
Ia menyoroti berbagai tantangan berlapis yang dialami perempuan disabilitas. Mulai dari beban biaya hidup ekstra, hingga ketergantungan esensial pada energi. Sebagai contoh, banyak penyandang disabilitas yang membutuhkan pasokan listrik konstan tanpa putus untuk alat bantu medis atau terapi, di tengah aksesibilitas transportasi publik berbasis energi bersih yang belum sepenuhnya ramah disabilitas.
Untuk mengatasi ketimpangan tersebut, HWDI mendesak penerapan empat pilar keadilan. Pertama, keadilan distributif, yakni pembagian beban dan manfaat transisi energi yang merata. Termasuk subsidi yang tepat sasaran bagi kelompok rentan. Kedua, keadilan prosedural, yakni keterlibatan aktif perempuan disabilitas dalam setiap proses pengambilan kebijakan energi dari hulu ke hilir.
Ketiga, keadilan rekognisi, yakni pengakuan terhadap kebutuhan khusus dan kapasitas kelompok disabilitas. Keempat, keadilan Remedial, yakni paya pemulihan dan perlindungan bagi mereka yang terdampak oleh perubahan sistem energi.
Mendobrak Hambatan Informasi Melalui Bahasa Isyarat
Selain mendiskusikan substansi kebijakan, workshop ini juga mempraktikkan esensi dari inklusivitas itu sendiri. Salah satu hambatan utama yang dihadapi kelompok disabilitas dalam isu transisi energi adalah minimnya informasi yang aksesibel, termasuk ketiadaan istilah-istilah lingkungan dalam bahasa isyarat.
Merespons tantangan tersebut, sesi kedua workshop dilanjutkan dengan kelas interaktif Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) yang dipandu oleh Nissi Felicia dari Feminis Themis. Seluruh peserta diajak untuk belajar dan mempraktikkan kosa kata isyarat yang berkaitan erat dengan core perjuangan hari ini, seperti istilah seputar "energi", "kesetaraan", dan "hukum".
Suasana ruang sastra menjadi begitu hidup saat para peserta yang datang dari berbagai latar belakang, saling mempraktikkan gerakan tangan mereka. Sesi ini membuktikan bahwa membangun kesadaran inklusivitas bisa dilakukan secara menyenangkan, menyentuh, sekaligus memberikan dampak pengetahuan yang nyata.
Melalui sinergi materi advokasi kebijakan dari HWDI dan penguatan akses komunikasi bersama Feminis Themis, Workshop Inklusivitas Transisi Energi di SHEnergy Fest 2026 ini berhasil mengirimkan pesan kuat ke publik, yaitu transisi energi hanya bisa disebut berhasil, jika tidak ada satu orang pun yang tertinggal di belakang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....