Ini Empat Jenis Rempah dengan Kandungan Antioksidan yang Baik bagi Tubuh

  • 21 Sep 2026 19:39 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Kayu manis mengandung antioksidan tinggi yang membantu melawan peradangan dan melindungi sel dari kerusakan radikal bebas.
  • Selain kayu manis, rempah-rempah lain seperti cengkeh, kunyit, oregano, dan jahe juga memiliki kandungan antioksidan yang cukup tinggi.
  • Rempah-rempah dengan antioksidan tinggi dapat dijadikan bagian dari pola makan sehari-hari untuk menjaga kesehatan tubuh.

RRI.CO.ID, Jakarta – Kayu manis selama ini banyak dikenal sebagai rempah, yang memiliki kandungan antioksidan tinggi. Senyawa itu berperan dalam membantu melawan peradangan, serta melindungi sel dari kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh radikal bebas.

Selain kayu manis, sejumlah rempah lain juga memiliki kandungan antioksidan yang cukup tinggi, dan dapat menjadi bagian dari pola makan sehari-hari. Beberapa di antaranya adalah cengkeh, kunyit, oregano, dan jahe.

Ahli diet integratif dan fungsional yang berbasis di Long Beach, California, Seema Shah, mengatakan dalam siaran Health, Rabu, 16 September 2026, bahwa cengkeh dalam bentuk bubuk, mempunyai nilai kapasitas penyerapan radikal oksigen (ORAC) yang tinggi. Kandungan antioksidan dalam cengkeh antara lain eugenol, flavonoid, dan asam galat.

Penelitian pada 2025 menunjukkan antioksidan yang terdapat dalam polong cengkeh, dapat memberikan efek lebih kuat pada dosis tertentu, dibandingkan beberapa antioksidan lain. Termasuk asam askorbat dan beta-karoten.

Penelitian itu juga menemukan, eugenol mampu berikatan dengan enzim yang terdapat pada bakteri. Temuan itu menunjukkan adanya potensi aktivitas antibakteri dari senyawa itu. Cengkeh juga dikaitkan dengan kemampuan membantu mengendalikan proses pembekuan darah serta kadar gula darah.

Kunyit juga menjadi salah satu rempah yang memiliki senyawa antioksidan, terutama kurkumin. Ahli diet fungsional, Jennifer Bianchini, menjelaskan kurkumin dapat membantu fungsi sistem kekebalan tubuh, mendukung proses yang berkaitan dengan peradangan. Serta mengurangi stres oksidatif, yang berpotensi merusak jaringan dan organ dalam jangka panjang.

Walaupun masih diperlukan penelitian lebih lanjut, beberapa penelitian telah menghubungkan kurkumin dengan sejumlah kondisi, seperti sindrom metabolik, artritis, dan kecemasan. Kandungan kurkumin pada kunyit umumnya berada di kisaran 2 hingga 9 persen. Secara teknis, angka tersebut membuat kandungan antioksidan kunyit lebih rendah, dibandingkan rempah seperti kayu manis dan cengkeh.

Dalam pengukuran menggunakan skor ORAC, oregano disebut menempati posisi setelah kayu manis. Shah menjelaskan, rempah itu mengandung berbagai flavonoid serta antioksidan lain. “Oregano kaya akan flavonoid dan antioksidan lainnya, seperti timol dan karvakrol, bersama dengan asam fenolik lainnya," ujar Shah.

Berbagai senyawa itu dapat membantu mendukung sistem kekebalan tubuh. Sementara itu, penggunaan oregano sebagai minyak esensial, memiliki aktivitas antimikroba dan antijamur. Menurut Bianchini, sifat itu berpotensi membantu tubuh menghadapi infeksi, serta flu biasa.

Oregano juga disebut dapat mendukung kesehatan saluran pencernaan. Dengan membantu menghambat bakteri yang tidak menguntungkan, sekaligus menjaga keseimbangan mikroorganisme dalam usus.

Jahe dikenal sebagai rempah yang memberikan rasa hangat sekaligus menyegarkan. Bahan itu dapat digunakan dalam beragam sajian dan minuman, seperti teh, pai, smoothie, maupun tumisan.

“Baik jahe segar maupun bubuk menawarkan manfaat. Tetapi jahe segar membawa senyawa aromatik tambahan yang disukai orang, untuk digunakan dalam masakan sehari-hari,” kata Crowe.

Gingerol merupakan salah satu senyawa utama, yang berperan dalam karakteristik jahe. Bianchini menjelaskan, senyawa itu memberikan rasa hangat dan khas pada jahe. Ketika dikeringkan, gingerol dapat berubah menjadi shogaol, yang dalam sejumlah pengujian laboratorium menunjukkan aktivitas lebih kuat.

Hasil sejumlah penelitian juga menunjukkan kemungkinan gingerol dan shogaol, mempunyai sifat antitumor serta anti-inflamasi. Namun, temuan itu tidak serta-merta menunjukkan efek yang sama pada manusia.

Bianchini mengatakan, penggunaan jahe dalam jumlah yang lazim, ditemukan pada resep makanan umumnya aman. “Tetapi ketika anda mengonsumsinya dalam bentuk suplemen dengan dosis terkonsentrasi, anda mungkin perlu mengambil tindakan pencegahan. Dosis tinggi dapat menyebabkan gangguan pencernaan atau mengganggu beberapa obat," ucapnya. (Ike Chelia Putri – mahasiswi magang Universitas Gunadarma)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....