Dokter Sarankan Pakaian Tertutup saat Terjadi Hujan Abu Vulkanik
- 09 Sep 2026 17:36 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Masyarakat diimbau menggunakan pakaian tertutup, saat terjadi penyebaran abu vulkanik
- Penggunaan pakaian yang menutupi sebagian besar tubuh menjadi penting, terutama ketika masyarakat harus melakukan aktivitas di area yang dipenuhi abu vulkanik
RRI.CO.ID, Jakarta - Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin, Dr. Arini Astasari Widodo, mengimbau masyarakat menggunakan pakaian tertutup, saat terjadi penyebaran abu vulkanik. Hal itu untuk mengurangi paparan langsung pada kulit.
"Gunakan pakaian yang dapat meminimalkan permukaan kulit yang terbuka. Seperti baju lengan panjang, celana panjang, dan sepatu tertutup," ujar Arini, sebagaimana dikutip dari Antara, Selasa, 8 September 2026.
Menurut Arini, penggunaan pakaian yang menutupi sebagian besar tubuh menjadi penting, terutama ketika masyarakat harus melakukan aktivitas di area yang dipenuhi abu vulkanik. Ia menyarankan agar masyarakat tetap mengenakan pakaian tertutup, selama kondisi itu berlangsung, khususnya saat membersihkan abu yang menempel di lingkungan sekitar.
Anjuran itu juga sejalan dengan rekomendasi Survei Geologi Amerika Serikat (USGS). Yang menyarankan penggunaan baju lengan panjang dan celana panjang, untuk mengurangi kontak abu vulkanik dengan kulit.
Perlindungan tidak hanya diperlukan pada kulit. Arini juga mengingatkan masyarakat, agar memperhatikan kesehatan mata dan saluran pernapasan, dengan menggunakan perlengkapan pelindung, seperti topi dan sarung tangan.
"Jika harus berada di luar ketika abu masih berada di udara, gunakan masker yang memiliki filtrasi baik dan pelindung mata. Sebisa mungkin kurangi aktivitas di luar ruangan ketika hujan abu sedang cukup berat," kata anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika Indonesia (Perdoski) itu.
Ia menjelaskan, penggunaan tabir surya atau sunscreen tetap diperlukan, meskipun kondisi atmosfer dipenuhi awan maupun abu vulkanik. Menurutnya, keberadaan abu di udara, tidak sepenuhnya menghilangkan paparan radiasi ultraviolet.
Sebelum beraktivitas di luar rumah, sunscreen sebaiknya digunakan pada kulit yang telah dibersihkan dan dikeringkan. Setelah itu, masyarakat dianjurkan menunggu, hingga produk itu membentuk lapisan dengan baik pada kulit.
Arini merekomendasikan sunscreen dengan perlindungan broad-spectrum, dan minimal SPF 30. Pemilihan tekstur dapat disesuaikan dengan kenyamanan masing-masing pengguna, terutama agar produk tidak terasa terlalu lengket.
"Yang penting, jangan mengoleskan ulang sunscreen, dengan cara menggosoknya di atas kulit yang sudah dipenuhi abu, karena abu dapat ikut bergesekan dengan kulit. Bila kulit sudah banyak terkena abu, sebaiknya bilas atau bersihkan secara lembut terlebih dahulu, keringkan, baru aplikasikan kembali sunscreen," kata Arini.
Dalam kondisi hujan abu yang cukup pekat, kata Arini, mengenakan pakaian tertutup, memakai topi, serta membatasi kegiatan di luar ruangan, menjadi langkah perlindungan yang lebih utama. Dibandingkan sekadar menambah penggunaan sunscreen.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk mengurangi paparan abu, dengan tidak menggosok kulit yang terkena abu, secara berlebihan. Pembersihan sebaiknya dilakukan dengan membilas, dan membersihkan kulit secara perlahan, agar tidak menimbulkan iritasi.
Ketika konsentrasi abu di udara meningkat, masyarakat disarankan tetap berada di dalam ruangan selama memungkinkan. Jendela dan pintu juga sebaiknya ditutup, untuk mengurangi masuknya abu ke dalam rumah.
Kelompok seperti anak-anak, lanjut usia, serta orang yang memiliki eksim atau kulit sangat sensitif, perlu mendapatkan perhatian lebih. Karena berpotensi lebih mudah mengalami iritasi.
"Dan tentunya kesehatan kulit hanya salah satu aspek. Abu vulkanik juga dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan, sehingga masyarakat sebaiknya tetap mengikuti informasi dan arahan resmi pemerintah," ucap Arini. (Ike Chelia Putri – mahasiswi magang Universitas Gunadarma)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....