Kasus Batu Saluran Kemih Meningkat, Waspadai Risiko Kerusakan Ginjal
- 25 Jul 2026 09:49 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Kasus batu saluran kemih menunjukkan tren peningkatan di berbagai negara dengan potensi komplikasi serius.
- Batu saluran kemih dapat menyebabkan infeksi berat dan kerusakan fungsi ginjal jika tidak ditangani dengan tepat.
- RS Premier Bintaro menyelenggarakan media gathering untuk membahas penanganan terkini batu saluran kemih dengan melibatkan spesialis urologi.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kasus batu saluran kemih terus menunjukkan tren peningkatan di berbagai negara. Penyakit yang kerap dianggap hanya menyebabkan nyeri ini ternyata dapat menimbulkan komplikasi serius, mulai dari infeksi berat hingga kerusakan fungsi ginjal apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat.
Hal tersebut disampaikan Spesialis Urologi RS Premier Bintaro, dr. Teguh Risesa Djufri, Sp.U, FICS, dalam kegiatan Media Gathering bertajuk Penanganan Terkini Batu Saluran Kemih yang digelar RS Premier Bintaro di Jakarta, Rabu, 22 Juni 2026.
Menurut Teguh, batu saluran kemih terbentuk akibat endapan mineral di ginjal maupun saluran kemih. Kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor, seperti gangguan metabolisme, kurangnya konsumsi cairan, pola makan tertentu, infeksi, hingga faktor genetik.
| Baca juga: KPAI Desak Pemerintah Terapkan Cukai MBDK |
Ia menjelaskan, penyakit ini lebih banyak ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan, terutama pada kelompok usia produktif 40–50 tahun. Risiko juga meningkat pada individu dengan obesitas, gaya hidup yang minim aktivitas fisik, serta masyarakat yang tinggal di wilayah beriklim panas.
“Banyak masyarakat menganggap batu saluran kemih hanya menyebabkan nyeri. Padahal jika tidak ditangani dengan baik, batu dapat menyebabkan sumbatan saluran kemih, infeksi berat, gangguan fungsi ginjal, bahkan meningkatkan risiko penyakit ginjal kronis. Oleh karena itu, diagnosis dan penanganan yang tepat sangat penting,” ujar Teguh.
Lebih lanjut Teguh menjelaskan, gejala yang paling sering muncul adalah nyeri hebat di bagian pinggang yang datang secara tiba-tiba dan dapat menjalar ke perut bagian bawah, selangkangan, hingga alat kelamin. Selain itu, penderita juga dapat mengalami mual, muntah, urine berdarah, nyeri saat berkemih, hingga demam apabila telah terjadi infeksi.
“Pada sebagian kasus, batu saluran kemih bahkan ditemukan secara tidak sengaja saat pemeriksaan kesehatan karena tidak menimbulkan keluhan,” ujarnya.
Menurutnya, untuk menegakkan diagnosis, pemeriksaan umumnya diawali dengan ultrasonografi (USG) karena tidak menggunakan radiasi dan mudah dilakukan. Apabila diperlukan, dokter akan melanjutkan pemeriksaan menggunakan Non-Contrast CT Scan (NCCT) yang menjadi standar utama dalam menentukan ukuran, lokasi, dan karakteristik batu sehingga terapi dapat dipilih secara lebih akurat.
Seiring perkembangan teknologi kedokteran, penanganan batu saluran kemih kini semakin banyak dilakukan dengan prosedur minimal invasif. Pada batu berukuran kecil, pasien dapat menjalani terapi obat untuk membantu batu keluar secara alami. Namun, apabila batu menyebabkan sumbatan, infeksi, nyeri berulang, berukuran besar, atau berpotensi merusak ginjal, tindakan aktif perlu segera dilakukan.
| Baca juga: Cara yang Bisa Dilakukan untuk Mencegah DBD |
RS Premier Bintaro menyediakan berbagai pilihan terapi, mulai dari Shock Wave Lithotripsy (SWL/ESWL) yang memecah batu menggunakan gelombang kejut tanpa sayatan, Ureteroscopy (URS) dan Retrograde Intrarenal Surgery (RIRS) yang memanfaatkan teknologi endoskopi dan laser tanpa membuat sayatan pada kulit, hingga Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL) dan Mini-PCNL untuk menangani batu ginjal berukuran besar melalui sayatan kecil.
Teguh menyatakan, perkembangan teknologi endourologi juga menghadirkan penggunaan Thulium Fibre Laser, yaitu laser generasi terbaru yang mampu menghancurkan batu secara lebih efektif dengan waktu tindakan yang lebih singkat. Teknologi tersebut juga didukung sistem suction modern yang membantu menjaga tekanan di dalam ginjal selama prosedur sehingga dapat menekan risiko infeksi dan mempercepat proses pemulihan pasien.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar dalam penanganan batu saluran kemih adalah tingginya angka kekambuhan. Karena itu, pasien tetap perlu menjalani evaluasi penyebab terbentuknya batu setelah pengobatan selesai.
“Pengobatan tidak berhenti setelah batu berhasil dikeluarkan. Kami juga melakukan evaluasi metabolik untuk mengetahui penyebab pembentukan batu sehingga kekambuhan dapat dicegah. Minum air putih yang cukup, menjaga berat badan ideal, mengurangi konsumsi garam berlebih, serta menerapkan pola makan seimbang merupakan langkah sederhana yang sangat berperan dalam mencegah batu terbentuk kembali,” kata Teguh.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....