Ini Alasan Bau Pesing Bisa Muncul dan Sulit Hilang
- 22 Sep 2026 15:39 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Halte Transjakarta IRTI Monas di Gambir, Jakarta Pusat, mengalami masalah bau pesing yang disebabkan oleh kebiasaan buang air kecil sembarangan di lokasi tersebut.
- Bau pesing tersebut tercium pada Sabtu, 19 September 2026, dan kemudian dilaporkan oleh para pejalan kaki yang merasa terganggu.
- Petugas melakukan pembersihan halte setelah menerima keluhan, yang dilakukan dua hari setelah insiden pertama kali dilaporkan oleh media Kompas.
RRI.CO.ID, Jakarta - Bau pesing yang tak sedap sering kali ditemukan di lokasi yang menjadi sasaran buang air kecil sembarangan, termasuk fasilitas umum. Salah satu tempat yang menjadi sorotan baru-baru ini adalah Halte Transjakarta IRTI Monas, Gambir, Jakarta Pusat.
Menurut Kompas, bau pesing di sekitar halte tersebut tercium pada Sabtu, 19 September 2026. Kemudian dibersihkan oleh petugas dua hari kemudian usai menerima keluhan dari para pejalan kaki.
Founder Koalisi Pejalan Kaki atau Kopeka, Ahmad Syafrudin dalam wawancara radio Pro1 RRI Jakarta mengatakan pengelola halte IRTI Monas perlu menyediakan toilet umum yang bersih dan higienis bagi masyarakat.
“Kasus di IRTI itu, ya, pengelola IRTI lah yang bertanggung jawab itu untuk mengawasi sekitarnya, termasuk bagaimana membuat WC umum, sehingga para pihak yang ingin pipis, ya silakan ke WC umum tadi gitu loh. Cuma WC umum harus dikelola seperti profesional ya, sehingga higienis dan juga bersih. Secara sanitasi memenuhi syarat gitu,” ujar Ahmad pada Selasa, 22 September 2026.
Lalu, sebenarnya apa penyebab urine bisa berbau menyengat dan kenapa baunya susah hilang?
Dilansir dari laman kesehatan mayoclinic.org, urine sebagian besar terdiri dari air dan ditambah beberapa zat sisa metabolisme, salah satunya urea. Semakin sedikit kandungan air yang ada di dalam urine atau berwarna pekat, semakin kuat juga baunya, karena adanya gas yang disebut amonia.
Bau juga cenderung semakin menyengat seiring waktu urine menempel di suatu permukaan. Aroma yang awalnya tidak terlalu kuat bisa berubah menjadi lebih tajam dan menyengat apalagi di tempat dengan sirkulasi udara yang buruk.
Selain itu, menurut rooterplus.com, jenis permukaan yang terkena urine juga menentukan seberapa sulit bau itu bisa dihilangkan. Jika cairan terserap di celah-celah atau bagian yang sulit dijangkau, sisa urine bisa tetap ada walaupun permukaan luarnya sudah tampak bersih.
Kemudian, sirkulasi udara juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kuat atau tidaknya bau di suatu ruangan atau area tertutup. Ruangan dengan minim keluar masuk udara, akan membuat aroma bertahan lebih lama sehingga terasa lebih menyengat.
Oleh karena itu, sekadar membersihkan permukaan saja terkadang belum cukup untuk menghilangkan bau pesing. Pembersihan perlu menjangkau bagian yang menjadi sumber bau, terutama pada celah atau area yang berpotensi terkena urine secara berulang kali.
Selain faktor lingkungan, aroma urine seseorang juga bisa dipengaruhi hal lain, seperti pola makan, konsumsi obat tertentu, dan tingkat hidrasi tubuh, kata mayoclinic. Misalnya, kurang minum air putih bisa membuat urine lebih pekat sehingga baunya pun lebih tajam karena konsentrasi zat sisa meningkat.
Meskipun bau pesing di fasilitas umum biasanya lebih berkaitan dengan kebersihan lingkungan, perubahan bau urine pada tubuh seseorang terkadang bisa menjadi tanda dari kondisi kesehatan tertentu. Bila perubahan bau ini terjadi terus-menerus dan disertai gejala lain seperti nyeri saat buang air kecil, demam, atau urine bercampur darah, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter untuk mengetahui penyebab pastinya.
(Nadya Nur Aulia, peserta magang RRI Jakarta berkontribusi menyusun artikel ini)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....