Komunitas Pasien Cuci Darah Minta Pengembangan Dialisis Mandiri Dipercepat
- 11 Jun 2026 12:45 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Ketua Umum Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia atau KPCDI, Tony Richard Samosir, mendorong perluasan akses dan edukasi mengenai Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis atau CAPD sebagai salah satu pilihan terapi bagi pasien penyakit ginjal kronis di Indonesia. Hal tersebut disampaikan dalam forum diskusi bertajuk “Mengapa CAPD Belum Setara: Kendala Sistem atau Kepentingan Layanan?” di Jakarta, Rabu, 10 Juni 2026.
Tony menjelaskan bahwa CAPD merupakan metode dialisis yang dilakukan secara mandiri melalui rongga perut di rumah. Sementara itu, hemodialisis dilakukan menggunakan mesin di fasilitas kesehatan dan selama ini menjadi metode yang paling banyak digunakan pasien di Indonesia.
Menurut Tony, CAPD dan hemodialisis memiliki fungsi yang sama penting dalam membantu pasien penyakit ginjal kronis menjalani terapi pengganti ginjal. Karena itu, pasien perlu memperoleh informasi yang setara agar dapat memilih terapi yang sesuai dengan kondisi kesehatan dan kebutuhan hidup mereka.
Data Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia menunjukkan sekitar 11 persen pasien dialisis di dunia menggunakan CAPD dan 89 persen menjalani hemodialisis. Namun di Indonesia, lebih dari 98 persen pasien masih menjalani hemodialisis, sedangkan pengguna CAPD tercatat kurang dari 2 persen.
Pertumbuhan jumlah pasien baru juga menunjukkan perbedaan yang cukup besar antara kedua metode tersebut. Jumlah pasien hemodialisis bertambah sekitar 60.000 orang setiap tahun, sementara pasien CAPD hanya bertambah sekitar 700 hingga 1.000 orang per tahun.
Tony mengapresiasi kebijakan pemerintah yang telah memberikan dasar pengembangan layanan CAPD melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 812 Tahun 2010. Meski demikian, ia menilai implementasi kebijakan tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan di berbagai fasilitas kesehatan.
"Regulasi sudah tersedia dan menjadi fondasi penting. Tantangannya saat ini adalah bagaimana implementasi dan pemanfaatannya dapat semakin optimal," ujar Tony.
Ia mengatakan salah satu kendala utama pengembangan CAPD adalah masih beragamnya tingkat pemahaman masyarakat mengenai pilihan terapi dialisis. Banyak pasien belum memperoleh informasi yang lengkap mengenai seluruh metode terapi yang tersedia sebelum menentukan pilihan pengobatan.
Tony menambahkan perpindahan dari hemodialisis ke CAPD memerlukan edukasi dan pendampingan yang memadai. Pasien perlu memahami manfaat, risiko, serta prosedur pelaksanaan terapi agar dapat menjalankannya secara aman dan mandiri di rumah.
"Kunci utamanya adalah edukasi dan komunikasi yang baik antara tenaga kesehatan dan pasien sehingga keputusan terapi dapat diambil secara tepat dan nyaman," ucapnya.
Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia juga memaparkan hasil survei terhadap 340 pasien dialisis. Hasilnya menunjukkan sekitar 70 persen responden menilai CAPD memberikan fleksibilitas waktu yang lebih baik sehingga mereka tetap dapat bekerja dan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Selain itu, sekitar 90 persen pengguna CAPD menyatakan ingin melanjutkan terapi tersebut. Lebih dari 60 persen responden juga mengaku pengeluaran nonmedis menjadi lebih efisien karena berkurangnya biaya transportasi, konsumsi, dan pendamping selama menjalani pengobatan.
Meski sebagian pasien sempat mengkhawatirkan risiko infeksi, mayoritas mengaku lebih percaya diri setelah mendapatkan pelatihan dan pendampingan. Temuan tersebut menunjukkan pentingnya penguatan edukasi agar seluruh pasien memperoleh informasi yang komprehensif mengenai pilihan terapi dialisis.
Tony menegaskan kebutuhan layanan dialisis akan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah pasien penyakit ginjal kronis di Indonesia. Karena itu, pengembangan CAPD dinilai dapat menjadi solusi pelengkap untuk memperluas jangkauan layanan, terutama bagi pasien yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan.
"Hemodialisis dan CAPD bukan untuk dipertentangkan. Keduanya memiliki peran yang sama pentingnya dalam memberikan pilihan terapi terbaik bagi pasien," ucap Tony.
Sebagai organisasi pasien, Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia mendorong kolaborasi antara pemerintah, fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, organisasi profesi, dan komunitas pasien. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat edukasi, monitoring program, evaluasi pembiayaan layanan, serta perluasan pelatihan bagi pasien yang ingin menjalani terapi CAPD secara mandiri.
"Bagi kami yang terpenting adalah setiap pasien memiliki kesempatan yang sama untuk mengetahui dan mengakses pilihan terapi yang tersedia. Dengan demikian, layanan dialisis di Indonesia dapat semakin inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi pada kebutuhan pasien," ujar Tony.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....