Penyakit Kolestrol Tidak Memandang Berat Badan, Kurus atau Gemuk Tetap Berisiko
- 23 Jul 2026 17:26 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Anggapan bahwa orang bertubuh langsing terbebas dari kolesterol tinggi dan penyakit kardiovaskular ternyata tidak benar adanya. Kolesterol jahat atau LDL-C dapat menimpa siapa saja, terlepas dari bentuk tubuhnya.
Seseorang dengan berat badan normal, tetap dapat memiliki lemak visceral berlebih maupun faktor risiko yang berkaitan dengan resistensi insulin, genetik, dan pola makan. Terlebih lagi dislipidemia sering berkembang tanpa gejala yang terlihat.
Sejumlah studi kohort berskala besar di Amerika Serikat, Eropa, dan wilayah lainnya menunjukkan bahwa orang dewasa dengan berat badan normal tetapi memiliki faktor risiko metabolik menghadapi risiko penyakit kardiovaskular sekitar dua hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan individu dengan berat badan serupa yang metaboliknya sehat. Temuan tersebut antara lain tercantum dalam Nurses’ Health Study serta kajian yang dipublikasikan dalam jurnal Diabetologia pada 2019 dan Endocrinology & Metabolism pada 2020.
Dr. dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Perhimpunan dokter spesialis kardiovaskular Indonesia (PERKI) mengatakan, risiko ini perlu mendapat perhatian khusus di kalangan orang Asia. Dibandingkan populasi Barat, orang Asia cenderung mengalami penumpukan lemak visceral pada berat badan yang lebih rendah.
“Sebuah studi diabetes pada populasi Asia yang dikutip dalam jurnal internasional Metabolism pada 2016 juga menunjukkan bahwa orang dewasa Asia dengan diabetes sekitar lima kali lebih berpeluang memiliki tubuh langsing dibandingkan mengalami obesitas,” ujar Susetyo Atmojo dalam acara edukasi kesehatan bersama Daewoong Pharmaceutical Indonesia di Jakarta, Kamis, 23 Juli 2026.

Program edukasi kesehatan ini diselenggarakan untuk meluruskan anggapan bahwa orang bertubuh langsing terbebas dari kolesterol tinggi dan penyakit kardiovaskular, sekaligus menyampaikan informasi kesehatan yang akurat kepada masyarakat.
Karena itu, Daewoong dan PERKI mengingatkan masyarakat agar tidak menilai kondisi kesehatannya hanya berdasarkan bentuk tubuh. Kadar kolesterol perlu dipantau secara berkala melalui pemeriksaan darah.
Susetyo menyampaikan temuan tersebut memperlihatkan bahwa berat badan maupun penampilan fisik tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran kesehatan metabolik. Pemeriksaan profil lipid secara rutin tetap diperlukan untuk mengetahui kadar kolesterol dan mendeteksi risiko kardiovaskular sejak dini.
“Tubuh langsing tidak selalu berarti kadar kolesterol berada dalam kondisi sehat. Seseorang dapat memiliki indeks massa tubuh atau BMI yang normal, tetapi menyimpan lemak visceral berlebih di sekitar organ tubuh. Kondisi ini sering disebut sebagai obesitas pada berat badan normal,” katanya.

Ia menjelaskan, penumpukan lemak visceral dapat memicu resistensi insulin serta meningkatkan kadar kolesterol LDL dan trigliserida. Pemeriksaan darah merupakan satu-satunya cara untuk mengetahui kadar LDL-C secara akurat. Karena itu, pemeriksaan secara berkala sangat penting.
Dr. Susetyo menerangkan bahwa pedoman terkini merekomendasikan pasien dengan risiko kardiovaskular sangat tinggi untuk menurunkan kadar LDL-C hingga di bawah 55 mg/dL, sekaligus mencapai penurunan sedikitnya 50% dari kadar awal.
“Pada kelompok pasien tersebut berlaku prinsip ‘semakin rendah, semakin baik’. Berbagai bukti klinis menunjukkan bahwa semakin rendah kadar LDL-C yang dicapai, semakin rendah pula risiko serangan jantung, stroke, dan kematian akibat penyakit kardiovaskular,” ucapnya.
Ia juga menegaskan bahwa dislipidemia sering kali tidak menimbulkan keluhan yang dapat dirasakan secara langsung. Oleh karena itu, orang dengan riwayat keluarga penyakit kardiovaskular, diabetes, atau hipertensi perlu menjalani pemeriksaan profil lipid secara rutin untuk memantau kadar kolesterol dan risiko kardiovaskularnya.
Sementara itu, dr. Wicak Prasetiadi, Head of Brand and Marketing Daewoong mengatakan, dalam penanganannya, terapi kombinasi yang bekerja melalui dua jalur menjadi salah satu pilihan untuk mengatasi keterbatasan terapi tunggal dan mengoptimalkan penurunan LDL-C. Pendekatan ini menggabungkan statin, yang menghambat pembentukan kolesterol di hati, dengan ezetimibe, yang mengurangi penyerapan kolesterol di usus.

Kombinasi kedua zat aktif tersebut dalam satu tablet dapat memberikan efek penurunan LDL-C yang kuat sekaligus mengurangi kebutuhan penggunaan statin dosis tinggi. Bentuk kombinasi dosis tetap juga memudahkan pasien dalam mengonsumsi obat dan membantu menjaga kepatuhan terhadap terapi. Hal ini penting bagi pasien yang membutuhkan perlindungan kardiovaskular dalam jangka panjang.
“Sesi ini bertujuan meluruskan anggapan bahwa orang bertubuh langsing terbebas dari risiko penyakit kardiovaskular. Sebagai mitra tepercaya dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Indonesia, Daewoong akan terus memperluas edukasi mengenai pencegahan dan penanganan penyakit kardiovaskular agar masyarakat semakin memahami pentingnya pemeriksaan rutin dan penanganan yang tepat untuk menjaga kesehatan jantung,” ujar dr. Wicak Prasetiadi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....