Kepatuhan Minum Obat Jadi Kunci Kesembuhan Pasien Tuberkulosis
- 29 Mei 2026 15:10 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat secara rutin dinilai menjadi kunci utama kesembuhan penyakit tuberkulosis (TB). Ahli gizi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Widya Putri, menegaskan pengobatan TB harus dijalani secara disiplin agar proses penyembuhan berjalan optimal dan penularan dapat ditekan.
Widya menjelaskan terapi TB membutuhkan waktu cukup panjang, mulai dari enam bulan hingga satu tahun tergantung kondisi pasien. “Obat TB harus diminum rutin setiap hari dengan jadwal yang sama. Kepatuhan pasien sangat penting supaya pengobatan berhasil,” ujarnya saat dialog bersama RRI Jakarta, Jumat, 29 Mei 2026.
Ia mengatakan pada 14 hari pertama pengobatan, pasien TB biasanya dianjurkan menjalani isolasi mandiri untuk mencegah penularan kepada orang lain. Setelah pasien rutin mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter, risiko penularan akan semakin menurun.
Menurut Widya, banyak pasien TB mengalami tantangan selama menjalani terapi karena efek samping obat seperti mual, muntah, hingga penurunan nafsu makan. Kondisi tersebut dapat memicu penurunan berat badan dan memperburuk status gizi pasien.
“Pasien TB mengalami peningkatan kebutuhan energi dan protein, sementara efek samping obat sering membuat nafsu makan menurun. Kalau tidak diperhatikan, pasien bisa mengalami gizi buruk,” katanya.
Karena itu, selain pengobatan medis, pasien juga perlu mendapatkan dukungan asupan gizi yang baik. Widya menyarankan konsumsi makanan bergizi seimbang dengan cukup protein, sayur, buah, serta cairan untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh selama proses penyembuhan.
Ia juga menyoroti masih adanya stigma negatif di masyarakat terhadap penderita TB. Banyak pasien merasa malu atau takut dijauhi lingkungan sehingga enggan memeriksakan diri maupun menjalani pengobatan hingga tuntas.
“TB itu penyakit yang sudah ada obatnya dan bisa sembuh. Jadi tidak perlu malu untuk berobat,” ujarnya.
Widya menambahkan dukungan keluarga dan pendamping sangat dibutuhkan untuk memastikan pasien tetap disiplin menjalani terapi. Pendamping dapat membantu mengingatkan jadwal minum obat serta mendukung pasien melakukan kontrol rutin ke fasilitas kesehatan.
Indonesia sendiri masih menjadi salah satu negara dengan kasus TB tertinggi di dunia. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia menempati peringkat kedua kasus TB terbanyak setelah India.
Karena itu, ia mengajak masyarakat lebih peduli terhadap pencegahan dan pengobatan TB agar rantai penularan dapat dihentikan.
“Kalau pasien patuh minum obat dan menjalani pengobatan sampai selesai, peluang sembuhnya sangat besar,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....