TB Mudah Menular Lewat Udara, Ventilasi Rumah Jadi Faktor Penting
- 29 Mei 2026 15:08 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Tuberkulosis (TB) masih menjadi ancaman kesehatan serius di Indonesia. Ahli gizi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Widya Putri, mengingatkan bahwa penyakit TB sangat mudah menular melalui udara, terutama pada lingkungan rumah dengan ventilasi buruk dan minim pencahayaan.
Widya menjelaskan bahwa TB merupakan penyakit infeksi akibat bakteri Mycobacterium tuberculosis yang penularannya terjadi melalui percikan droplet saat penderita batuk, bersin, berbicara, tertawa, hingga bernyanyi.
“Droplet yang mengandung bakteri TB dapat bertahan di udara selama beberapa jam, terutama di ruangan tertutup dengan ventilasi buruk dan pencahayaan yang minim,” ujar Widya saat dialog bersama RRI jakarta, Jumat, 29 Mei 2026.
Ia mengatakan seseorang dapat tertular apabila menghirup udara yang telah terkontaminasi bakteri tersebut. Karena itu, kondisi lingkungan rumah menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah penyebaran TB.
Menurut Widya, rumah yang tidak mendapatkan cukup cahaya matahari dan memiliki sirkulasi udara buruk berpotensi meningkatkan risiko penularan, terutama bagi anak-anak dan lansia yang daya tahan tubuhnya lebih lemah.
“Kalau tinggal satu rumah dengan pasien TB, risiko penularannya lebih besar, apalagi jika ventilasi rumah kurang baik,” katanya.
| Baca juga: KPAI Desak Pemerintah Terapkan Cukai MBDK |
Widya juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta menerapkan pola hidup sehat untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Ia menyarankan masyarakat mengonsumsi makanan bergizi seimbang, cukup istirahat, rutin minum air putih, serta membiasakan mencuci tangan dengan sabun.
Selain faktor lingkungan, status gizi juga berpengaruh terhadap risiko infeksi TB. Menurutnya, orang dengan kondisi gizi buruk lebih rentan terserang penyakit karena sistem kekebalan tubuh yang menurun.
Indonesia sendiri masih menghadapi tingginya angka kasus TB. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia menempati peringkat kedua negara dengan kasus TB terbanyak di dunia setelah India.
“Kasus TB di Indonesia masih sangat tinggi sehingga diperlukan perhatian bersama, baik dari sisi pengobatan maupun pencegahan,” ujarnya.
Widya menjelaskan pasien TB yang baru menjalani pengobatan biasanya dianjurkan melakukan isolasi selama 14 hari pertama untuk mengurangi risiko penularan kepada orang lain. Setelah menjalani pengobatan secara rutin dan teratur, risiko penularan akan menurun.
Ia pun mengimbau masyarakat agar tidak takut atau malu memeriksakan diri apabila mengalami gejala TB seperti batuk berkepanjangan, penurunan berat badan, dan tubuh mudah lelah.
“TB itu penyakit yang bisa disembuhkan. Yang penting pasien patuh minum obat dan rutin kontrol,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....