GERD Makin Banyak Menyerang Usia Produktif, Ini Penyebab dan Cara Mencegahnya
- 03 Jun 2026 14:50 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- GERD Ancam Usia Produktif, Obat Herbal Jadi Solusi Aman Atasi Gangguan Lambung
RRI.CO.ID, Jakarta – Gangguan lambung dan gastroesophageal reflux disease atau GERD masih menjadi masalah kesehatan yang banyak dialami masyarakat Indonesia. Kondisi yang ditandai naiknya asam lambung ke kerongkongan ini semakin sering ditemukan pada kelompok usia produktif akibat perubahan gaya hidup modern, pola makan tidak teratur, stres berkepanjangan, serta kurangnya waktu istirahat.
Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menunjukkan sekitar 9,35 persen masyarakat perkotaan mengalami gejala GERD. Kondisi tersebut dapat menimbulkan sensasi panas di dada, nyeri ulu hati, hingga rasa tidak nyaman setelah makan.
Data kesehatan internasional juga menunjukkan bahwa GERD merupakan gangguan kronis yang tidak boleh dianggap sepele. Laman Health.com menjelaskan bahwa GERD terjadi ketika asam lambung berulang kali naik ke kerongkongan sehingga memicu berbagai keluhan, mulai dari heartburn, nyeri dada, hingga gangguan menelan.
1. Gaya hidup modern meningkatkan risiko gangguan lambung
Sejumlah penelitian yang dipublikasikan sepanjang 2024 hingga 2025 menunjukkan perubahan gaya hidup menjadi salah satu faktor utama meningkatnya kasus GERD. Kebiasaan makan tidak teratur, konsumsi makanan tinggi lemak, merokok, hingga kualitas tidur yang buruk diketahui memperbesar risiko gangguan pencernaan.
Menurut informasi yang dirangkum dari Health.com, pola makan tinggi lemak dan kebiasaan merokok termasuk faktor yang dapat meningkatkan risiko GERD. Selain itu, obesitas, kurang aktivitas fisik, serta stres psikologis juga berkontribusi terhadap munculnya gejala refluks asam lambung.
Bahkan sejumlah survei regional melaporkan prevalensi gejala GERD dapat mencapai lebih dari 55 persen pada kelompok masyarakat tertentu yang memiliki kebiasaan mengonsumsi makanan pedas dan menerapkan pola makan tidak teratur.
Gangguan ini tidak hanya memengaruhi sistem pencernaan. Penelitian internasional juga menunjukkan bahwa penderita GERD memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan tidur, kecemasan, dan depresi dibandingkan populasi umum.
2. Penanganan GERD perlu dilakukan secara tepat
Lembaga kesehatan di bawah National Institutes of Health Amerika Serikat menjelaskan bahwa GERD merupakan gangguan kronis yang terjadi ketika otot di bagian bawah kerongkongan tidak menutup dengan baik. Akibatnya, isi lambung dapat naik kembali ke kerongkongan dan menimbulkan gejala seperti rasa terbakar di dada, regurgitasi, batuk kering, hingga kesulitan menelan.
Diagnosis GERD umumnya dilakukan melalui pemeriksaan gejala dan evaluasi medis. Sementara itu, Mayo Clinic menyebutkan dokter dapat melakukan pemeriksaan lanjutan seperti endoskopi, pemantauan kadar asam lambung, hingga manometri kerongkongan untuk memastikan kondisi pasien.
Penanganan GERD biasanya diawali dengan perubahan gaya hidup. Langkah yang dianjurkan antara lain menjaga berat badan ideal, menghentikan kebiasaan merokok, memperbaiki pola makan, serta meningkatkan kualitas tidur.
Selain terapi medis, sejumlah pendekatan pelengkap juga menunjukkan hasil yang menjanjikan. National Institutes of Health menyebut latihan pernapasan diafragma, akupunktur, dan alginat yang berasal dari rumput laut dapat membantu mengurangi gejala GERD pada sebagian pasien.
3. Masyarakat diminta cermat memilih produk herbal
Direktur PT Hollis Media Bariklana, Akhmad Rois, menilai edukasi mengenai kesehatan lambung menjadi semakin penting di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap produk herbal. Ia mengingatkan bahwa tidak semua produk herbal aman dikonsumsi oleh penderita gangguan lambung.
“Tak semua obat herbal aman untuk lambung. Pada kondisi lambung yang sensitif, masyarakat harus memilih produk herbal dengan formulasi yang tepat, teruji, dan memiliki izin resmi. Axekafit dirancang untuk dikonsumsi setelah makan sehingga lebih ramah bagi lambung,” ujar Akhmad dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, 3 Juni 2026.
Menurut dia, masih banyak masyarakat yang beranggapan semua produk herbal dapat dikonsumsi secara bebas tanpa mempertimbangkan komposisi maupun dosisnya. Padahal, penggunaan yang tidak tepat justru berisiko memperburuk kondisi lambung.
“Salah satu kesalahan yang kerap terjadi adalah anggapan bahwa semua produk herbal pasti aman dikonsumsi secara bebas. Padahal tanpa komposisi yang jelas dan dosis yang sesuai, obat herbal justru berisiko memperparah iritasi lambung,” ucapnya.
| Baca juga: Overthinking Meningkat saat Kesepian? |
Akhmad menjelaskan salah satu produk herbal yang diformulasikan untuk membantu menjaga kesehatan lambung adalah Axekafit. Produk tersebut mengandung kombinasi temulawak, kunyit, mengkudu, kayu manis, dan kunir putih yang secara tradisional dikenal bermanfaat bagi sistem pencernaan.
Ia mengatakan produk tersebut telah terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan serta diproduksi sesuai standar yang berlaku. Masyarakat juga diimbau memperhatikan keaslian produk sebelum membeli.
4. Edukasi dan pola hidup sehat menjadi kunci pencegahan
Akhmad menegaskan bahwa menjaga kesehatan lambung tidak hanya bergantung pada penggunaan obat atau suplemen. Perubahan gaya hidup tetap menjadi faktor utama dalam mencegah munculnya gejala GERD.
“Kami ingin masyarakat semakin sadar bahwa menjaga kesehatan lambung tidak hanya bergantung pada obat, tetapi juga pada gaya hidup. Pola makan teratur, pengelolaan stres, serta pemilihan produk herbal yang aman adalah kunci menjaga kesehatan lambung dalam jangka panjang,” katanya.
Ia juga menilai edukasi konsumen perlu dilakukan secara berkelanjutan. Kolaborasi antara pelaku industri, tenaga kesehatan, dan media dinilai penting agar masyarakat memperoleh informasi yang benar mengenai kesehatan lambung.
“Edukasi konsumen merupakan tanggung jawab bersama antara pelaku industri, tenaga kesehatan, dan media,” kata Akhmad.
Dengan meningkatnya kasus gangguan lambung dan GERD pada usia produktif, para ahli mengingatkan pentingnya deteksi dini serta perubahan gaya hidup sehat. Langkah sederhana seperti makan teratur, mengelola stres, menghindari rokok, dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu mengurangi risiko komplikasi yang lebih serius.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....