Gizi Buruk dan TB Miliki Hubungan Dua Arah, Masyarakat Diminta Waspada

  • 29 Mei 2026 15:06 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Ahli gizi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Widya Putri, A.Md, Gz, mengatakan gizi buruk dan tuberkulosis (TB) memiliki hubungan dua arah yang saling memengaruhi. Kondisi gizi buruk dapat meningkatkan risiko seseorang terkena TB, sementara infeksi TB juga dapat memperburuk status gizi pasien.

Dalam dialog di Pro 1 RRI Jakarta bertema Gizi Buruk dan Pasien TB, Widya menjelaskan bahwa TB merupakan penyakit infeksi yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis dan masih menjadi persoalan kesehatan serius di Indonesia.

“Malnutrisi atau gizi buruk dapat meningkatkan risiko terjadinya TB, sementara infeksi TB sendiri dapat memperburuk keadaan status gizi pasien,” ujar Widya saat dialog bersama RRI, Jumat, 29 Mei 2026.

Menurut Widya, pasien TB mengalami peningkatan kebutuhan energi dan protein akibat proses infeksi kronis. Selain itu, efek samping obat anti tuberkulosis (OAT) seperti mual dan muntah juga dapat menurunkan nafsu makan pasien sehingga memicu penurunan berat badan hingga gizi buruk.

Ia menambahkan, Indonesia masih menghadapi angka kasus TB yang tinggi. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia menempati peringkat kedua kasus TB terbanyak di dunia setelah India.

“Setiap tahun ada sekitar satu juta kasus TB baru di Indonesia. Karena itu kita masih sangat berperang dalam menangani kasus tuberkulosis,” katanya.

Widya menjelaskan TB dapat menyerang semua kelompok usia, mulai dari bayi, anak-anak, orang dewasa hingga lansia. Namun bayi dan lansia menjadi kelompok yang lebih rentan karena memiliki daya tahan tubuh lebih rendah.

Penularan TB sendiri terjadi melalui udara atau airborne transmission. Bakteri dapat menyebar saat penderita batuk, bersin, berbicara, tertawa, maupun bernyanyi. Droplet yang mengandung bakteri dapat bertahan di udara selama beberapa jam, terutama di ruangan tertutup dengan ventilasi buruk dan minim cahaya matahari.

“Kalau tinggal satu rumah dengan pasien TB, risiko penularannya lebih besar, terutama jika ventilasi rumah kurang baik,” ucapnya.

Untuk mencegah penularan, Widya mengingatkan pentingnya menjaga daya tahan tubuh melalui pola hidup sehat dan konsumsi makanan bergizi seimbang. Ia juga mengimbau masyarakat memperhatikan kebersihan lingkungan rumah serta memastikan sirkulasi udara dan pencahayaan berjalan baik.

Menurutnya, pasien TB juga perlu disiplin menjalani pengobatan karena terapi TB membutuhkan waktu cukup panjang, mulai dari enam hingga 12 bulan. Pada 14 hari pertama pengobatan, pasien biasanya dianjurkan menjalani isolasi mandiri untuk mengurangi risiko penularan.

Widya turut menyoroti masih adanya stigma negatif terhadap penderita TB di masyarakat. Banyak pasien merasa malu atau takut dijauhi lingkungan sehingga enggan memeriksakan diri dan menjalani pengobatan.

“TB itu penyakit yang sudah ada obatnya dan bisa sembuh. Jadi tidak perlu malu untuk berobat. Kalau tidak segera diobati, penularannya akan terus terjadi,” ujarnya.

Ia berharap masyarakat lebih terbuka terhadap edukasi mengenai TB dan mendukung pasien agar tetap menjalani pengobatan hingga tuntas.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....