Hantavirus Bukan Covid Baru, tapi Ancamannya Tetap Mematikan
- 11 Mei 2026 13:34 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- WHO menegaskan hantavirus bukan ancaman pandemi global seperti Covid-19.
- Penularan utama berasal dari tikus, urine, kotoran, atau debu yang terkontaminasi.
- Indonesia telah mencatat 23 kasus hantavirus tipe HFRS di sembilan provinsi.
RRI.CO.ID, Jakarta – Kekhawatiran publik terhadap hantavirus meningkat setelah muncul laporan kasus di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar di wilayah Tenerife, Spanyol. Trauma pandemi Covid-19 membuat banyak orang cemas ketika mendengar adanya virus baru yang dikaitkan dengan kapal pesiar dan kematian penumpang.
Namun, epidemiolog sekaligus Ahli Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, menilai kepanikan publik terhadap kasus hantavirus ini tidak sepenuhnya didasarkan pada fakta epidemiologi. Dalam wawancara bersama radio 91,2FM Pro1 RRI Jakarta pada Senin, 11 Mei 2026, ia menegaskan hantavirus bukan penyakit baru dan tidak memiliki karakteristik pandemi seperti SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.
“Ini bukan the next pandemic. Hantavirus sudah ditemukan sejak 1976 di Korea Selatan dan kemampuan penularannya antarmanusia sangat rendah,” ujar Dicky. Ia menjelaskan, angka reproduksi hantavirus umumnya berada di bawah satu, jauh dibanding Covid-19 atau campak yang memiliki kemampuan penularan sangat tinggi.
Meski demikian, hantavirus tetap menjadi perhatian serius karena tingkat kematiannya tinggi. Dicky menyebut case fatality rate atau angka kematian kasus dapat mencapai 40 hingga 60 persen pada beberapa strain tertentu, terutama tipe Andes yang ditemukan di Amerika Selatan.
Kondisi itulah yang membuat kasus di kapal pesiar MV Hondius menjadi sorotan dunia. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO pada Jumat, 9 Mei 2026, virus yang ditemukan di kapal tersebut merupakan strain Andes, dengan tiga korban meninggal dunia dan beberapa penumpang lain masih menjalani perawatan.
WHO melalui Direktur Jenderalnya, Tedros Adhanom Ghebreyesus, meminta masyarakat tetap tenang. Dalam pernyataannya kepada warga Tenerife, WHO menegaskan risiko penyebaran global hantavirus masih rendah dan tidak sebanding dengan situasi pandemi Covid-19.
“Ini bukan Covid baru. Risiko kesehatan masyarakat dari hantavirus saat ini tetap rendah,” kata Tedros dalam pernyataan resminya pada 9 Mei 2026. WHO juga memastikan proses evakuasi penumpang dilakukan ketat dan tidak menimbulkan ancaman bagi masyarakat sekitar.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan melalui akun Instagram resmi @kemenkes_ri menyebut virus Hanta tipe HPS belum pernah ditemukan. Seluruh kasus yang terdeteksi di Indonesia merupakan tipe HFRS yang menyerang ginjal, bukan paru-paru seperti kasus di kapal pesiar MV Hondius.
Data Kementerian Kesehatan mencatat hingga Mei 2026 terdapat 23 kasus konfirmasi hantavirus di sembilan provinsi, termasuk DKI Jakarta, Jawa Barat, dan DI Yogyakarta. Meski demikian, pemerintah menyatakan masyarakat tidak perlu panik karena sebagian besar kasus fatal dipengaruhi infeksi penyerta dan bukan murni akibat virus Hanta.
Dicky menjelaskan sumber utama penularan berasal dari tikus rumah, tikus got, maupun tikus pelabuhan. Virus dapat masuk ke tubuh manusia melalui debu yang terkontaminasi urine atau kotoran tikus, makanan yang tercemar, hingga gigitan tikus.
“Kalau tidak ada kontak dengan tikus atau kotorannya, sebenarnya tidak ada risiko besar. Yang berisiko itu pekerja gudang, pembersih sampah, tentara di hutan, atau orang yang sering berada di area lembap dan kotor,” ucapnya.
Gejala hantavirus juga sulit dibedakan dari penyakit virus lain karena menyerupai flu biasa. Demam, nyeri kepala, batuk, dan sesak napas menjadi gejala awal yang umum muncul sehingga diagnosis harus dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium PCR.
Menurut Dicky, langkah paling efektif untuk mencegah hantavirus justru berasal dari kebiasaan sederhana yang sering diabaikan masyarakat. Ia menekankan pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat atau PHBS, termasuk membersihkan rumah dengan metode wet cleaning atau pembersihan basah agar debu tidak beterbangan dan terhirup.
“Virus ini sebenarnya mudah mati dengan sabun atau cairan pembersih. Yang penting jangan membersihkan debu secara kering karena partikelnya bisa terhirup,” ujarnya.
Kementerian Kesehatan juga mengimbau masyarakat rutin mencuci tangan, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, serta menutup akses masuk tikus ke rumah. Pemerintah saat ini menyiagakan 198 rumah sakit rujukan penyakit infeksi emerging dan memperkuat pengawasan di pintu masuk negara sebagai langkah antisipasi.
Kata Kunci / Tags
Audio
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....