Anak Muda Lawan Budaya “Rebahan”

  • 24 Sep 2025 02:31 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta: Budaya “rebahan” menjadi fenomena sosial yang lekat dengan generasi muda, terutama sejak pandemi COVID-19. Namun, kini muncul berbagai gerakan anak muda yang berusaha melawan kebiasaan pasif ini dengan aksi nyata. Salah satunya adalah BergerACT, komunitas olahraga yang resmi berdiri pada 1 Oktober 2024.

“Awalnya cuma kumpul buat lari bareng di HI saat CFD, lalu coba badminton, golf, hingga driving range di Jakarta. Eh, ternyata banyak yang ikutan, akhirnya jadi komunitas beneran,” ujar Hera, pencetus komunitas BergerACT dalam wawancara radio 92,8 FM Pro 4 FM RRI Jakarta, Selasa 23 September 2025.

Komunitas BergerACT mengajak anak muda bergerak lewat olahraga bersama sebagai upaya melawan budaya rebahan. (Foto: Dok. narasumber)

Seiring waktu, komunitas ini berkembang pesat dengan lebih dari 1.000 anggota aktif di grup golf. “Yang gabung beragam, ada yang baru belajar sampai yang sudah pro. Dari driving bareng, akhirnya kami bikin gobar di lapangan, dan pesertanya bisa sampai ratusan orang,” kata Hera. Jakarta dan Bandung kini menjadi dua kota utama kegiatan BergerACT.

Gerakan melawan rebahan tak hanya hadir lewat olahraga, tetapi juga lewat ruang digital. Penelitian di UIN Alauddin Makassar mengungkap mahasiswa generasi Z yang menjadi content creator menggunakan kreativitas digital sebagai cara menolak rebahan. Strateginya antara lain mengikuti tren viral, menentukan tema konten yang sedang ngetren, hingga konsisten membuat konten kreatif. “Content creator bisa menjadi contoh positif dengan melatih public speaking dan mendorong kreativitas mahasiswa lain,” tulis Rahmawani dalam penelitiannya

Namun, riset itu juga mencatat dampak negatif, seperti perilaku berbicara kasar dan perubahan gaya hidup yang kurang sehat. Meski demikian, sebagian besar informan menilai efek positif lebih dominan karena membuka ruang inspirasi dan ekspresi.

Sementara itu, penelitian UGM menyoroti lahirnya istilah remaja jompo akibat kebiasaan rebahan berkepanjangan selama pandemi. “Pengalaman pembelajaran daring menciptakan budaya mager, berakibat pada penurunan kesehatan tubuh karena kurang bergerak,” tulis BJ Sujibto dalam jurnalnya. Kondisi ini memperlihatkan pentingnya gerakan kolektif anak muda untuk keluar dari zona rebahan.

Hera menekankan, BergerACT hadir bukan sekadar soal olahraga, melainkan membangun kebiasaan sehat dan pertemanan baru. “Kita pengin anak muda nggak rebahan aja, tapi bergerak, olahraga, dan dapat teman baru. That’s why namanya BergerACT,” ujar Hera.

Dengan kegiatan rutin seperti driving di Topgolf Fatmawati hingga mini gobar bulanan, komunitas ini berharap bisa menularkan energi positif. “Harapannya makin banyak anak muda yang termotivasi untuk bergerak, melakukan aktivitas positif, dan menemukan circle sehat lewat olahraga,” ucap Hera.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....