Imagina Fest 2026 Dorong Literasi Keluarga lewat Kegiatan Edukatif

  • 04 Jul 2026 09:22 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Imagina Fest 2026 diikuti hampir 150 peserta dan menyelenggarakan berbagai aktivitas edukatif seperti lomba mewarnai, menggambar, merakit brick, pameran karya kreatif, dan board game edukatif di Grand Depok City.
  • Festival ini menggunakan pendekatan experiential learning, game-based learning, dan family-centered approach untuk mengajarkan bahwa literasi dapat berkembang melalui pengalaman, permainan, dan interaksi hangat dalam keluarga.
  • Kepala Bidang Perpustakaan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Depok menekankan bahwa gerakan literasi membutuhkan kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, komunitas, dan keluarga untuk kesuksesan jangka panjang.

RRI.CO.ID, Jakarta – Imagina Fest 2026 bertajuk Coloring Dreams, Building Future diikuti hampir 150 peserta di Lapangan Cluster Gardenia Blok R2, Grand Depok City, Kota Depok, Minggu, 28 Juni 2026. Festival literasi keluarga ini diselenggarakan Rumah Baca Alif di bawah naungan Yayasan Masyarakat Peduli Anak Indonesia bersama Rumah Keluarga dan Konseling Indonesia, Komunitas Board Games Kota Depok, Komunitas Anak Muda SPECTRA, serta didukung Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Depok.

Kegiatan tersebut menghadirkan berbagai aktivitas edukatif yang melibatkan anak, orang tua, guru, dan masyarakat. Sejumlah kegiatan yang diselenggarakan antara lain lomba mewarnai, lomba menggambar, merakit brick bersama orang tua, pameran karya kreatif, permainan keluarga, dan board game edukatif.

Imagina Fest 2026 di Grand Depok City, Kota Depok, Minggu, 28 Juni 2026. Festival literasi keluarga ini mengajak anak dan orang tua belajar melalui permainan, seni, dan kolaborasi. (Foto: Dok. Julie Rostina)

Beragam kegiatan seperti lomba mewarnai, lomba menggambar, merakit brick bersama orang tua, creative exhibition, family fun games, hingga board game edukatif menjadi daya tarik utama selama festival. Arena permainan dipenuhi keluarga yang antusias mengikuti berbagai permainan seperti Battle of Number, HOPE, HI-FIVE, Ular Tangga Budaya, DeepTalks Family, Chicken ChaCha, Math Cat, Take 5, Concept Kids, dan Kata Emak. Melalui pendekatan experiential learning, game-based learning, dan family-centered approach, peserta diajak memahami bahwa literasi dapat tumbuh melalui pengalaman, permainan, komunikasi, serta interaksi yang hangat di dalam keluarga.

Kepala Bidang Perpustakaan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Depok, Joko Sutrisno, mengatakan penguatan budaya literasi memerlukan keterlibatan berbagai pihak. "Gerakan literasi membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan keluarga agar dapat berjalan secara berkelanjutan," ujar Joko.

Selama kegiatan berlangsung, peserta mengikuti berbagai permainan edukatif seperti Battle of Number, HOPE, HI-FIVE, Ular Tangga Budaya, DeepTalks Family, Chicken ChaCha, Math Cat, Take 5, Concept Kids, dan Kata Emak. Permainan tersebut digunakan sebagai media pembelajaran yang mendorong anak dan orang tua berinteraksi dalam suasana belajar yang lebih terbuka.

Anak-anak bersama orang tua mengikuti kegiatan board game edukatif pada Imagina Fest 2026 di Kota Depok. Festival ini mendorong tumbuhnya budaya literasi keluarga melalui pendekatan belajar yang kreatif. (Foto: Dok. Julie Rostina)

Direktur Yayasan Masyarakat Peduli Anak Indonesia, Julie Rostina, mengatakan literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis. "Literasi juga mencakup kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, berkreasi, dan membangun karakter," ucap Julie.

Menurut Julie, Yayasan Masyarakat Peduli Anak Indonesia akan terus mengembangkan program literasi keluarga melalui kegiatan berbasis seni, permainan, teknologi, dan pembelajaran komunitas. Program tersebut diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap kegiatan literasi yang mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

(Foto: Dok. Julie Rostina)

Salah seorang orang tua peserta, Dwi Risna, menilai kegiatan tersebut menjadi alternatif mengisi waktu libur anak dengan aktivitas yang memiliki unsur edukasi. "Anak-anak dapat belajar sambil bermain, sedangkan orang tua juga dapat mendampingi mereka selama kegiatan berlangsung," kata Dwi.

Peserta lainnya, Karina, mengatakan kegiatan tersebut memberikan ruang bagi anak untuk belajar mengekspresikan diri dan berinteraksi dengan peserta lain. "Bagi saya, proses belajar dan pengalaman yang diperoleh anak lebih penting daripada hasil perlombaan," ujarnya.

Penyelenggara berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan untuk memperkuat budaya literasi keluarga. Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat diharapkan dapat memperluas pelaksanaan kegiatan literasi di berbagai daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....