Kilau Kenangan: Tradisi Lebaran Sarat Makna Kebersamaan
- 16 Mar 2026 07:13 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Lebaran di Indonesia tidak pernah sekadar menjadi penanda berakhirnya bulan Ramadan. Ia berubah menjadi perayaan budaya yang penuh cerita, kebersamaan, dan kenangan. Setelah sebulan berpuasa, masyarakat menyambut Idul Fitri dengan tradisi yang membuat keluarga kembali berkumpul, saling bermaafan, dan merasakan hangatnya silaturahmi.
Suasana inilah yang diangkat dalam program Kilau Kenangan di Radio Republik Indonesia Jakarta pada Minggu 15 Maret 2025 selama jam siaran dari Pukul 21.00 - 24.00 WIB. Selama tiga jam siaran malam, penyiar Deasy Isma mengajak pendengar bernostalgia melalui lagu-lagu kenangan sekaligus membahas berbagai fakta menarik tentang tradisi Lebaran di Indonesia. Percakapan santai di udara radio itu membuat banyak orang teringat pada masa kecil, pada suasana Lebaran yang sederhana namun penuh kebahagiaan.
Baca Juga:
Salah satu tradisi paling ikonik adalah mudik, yaitu perjalanan pulang ke kampung halaman menjelang Lebaran. Tradisi ini diyakini telah ada sejak masa kerajaan di Nusantara, ketika para perantau kembali ke daerah asal untuk bertemu keluarga. Istilah mudik sendiri populer sejak era 1970-an dan kerap dimaknai sebagai “mulih disik”, ungkapan Jawa yang berarti pulang sebentar dari perantauan.
Lebaran juga identik dengan ketupat yang menjadi hidangan khas di banyak rumah tangga. Dalam sejarahnya, ketupat diperkenalkan oleh tokoh Wali Songo, Sunan Kalijaga, sebagai media dakwah. Makna “kupat” diartikan sebagai “ngaku lepat”, yakni mengakui kesalahan dan saling memaafkan, sejalan dengan semangat Idul Fitri sebagai hari kemenangan spiritual.
Selain itu, berbagai daerah di Indonesia memiliki tradisi Lebaran yang unik. Di Bali, masyarakat Muslim mengenal tradisi “Ngejot”, yakni berbagi makanan dengan tetangga, termasuk yang berbeda agama, sebagai simbol persaudaraan. Sementara di Keraton Yogyakarta dan Surakarta terdapat tradisi Grebeg Syawal, arak-arakan gunungan hasil bumi yang kemudian dibagikan kepada masyarakat sebagai lambang keberkahan.
Interaksi dengan pendengar menjadi bagian penting dalam program Kilau Kenangan. Salah satu cerita datang dari Ibu Dena Arifah di BSD yang mengenang tradisi masa kecil menjelang Lebaran. Ia bercerita bagaimana seluruh keluarga bergotong royong membersihkan dan mengecat rumah tanpa bantuan tukang. Bahkan ketika membeli baju Lebaran, orang tua sering kali hanya mengukur tubuh anak dengan tali rafia. Meski hasilnya sering kebesaran, kebahagiaan yang dirasakan tetap tak tergantikan.
Tak kalah dinanti adalah tradisi berbagi uang Lebaran atau THR kepada anak-anak dan kerabat yang lebih muda. Tradisi ini bukan hanya soal pemberian materi, tetapi juga simbol berbagi kebahagiaan. Dari mudik hingga berbagi rezeki, rangkaian tradisi Lebaran menunjukkan bahwa Idul Fitri di Indonesia bukan sekadar perayaan, melainkan perwujudan nilai kebersamaan dan persaudaraan yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....