Kilau Kenangan, Puisi yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi
- 27 Jul 2026 10:11 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Kilau Kenangan, Puisi yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi
RRI.CO.ID, Jakarta : Siapa sangka, lagu-lagu lawas yang masih kita dengarkan hingga hari ini ternyata menyimpan jiwa sebuah puisi. Di balik lirik yang sederhana, ada kisah cinta, rindu, doa, bahkan perjuangan yang ditulis dengan bahasa yang begitu indah. Itulah mengapa setiap 26 Juli, saat Indonesia memperingati Hari Puisi Indonesia bertepatan dengan hari lahir Chairil Anwar, banyak orang kembali mengenang bagaimana puisi pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka.
Hal itu juga menjadi tema yang diangkat dalam program Kilau Kenangan di RRI Kanal Kenangan, Minggu malam. Dipandu penyiar Amelia Adriati, pendengar diajak menelusuri perjalanan puisi yang hidup bukan hanya di lembaran kertas, tetapi juga dalam lagu-lagu era 1960-an hingga 1990-an. Amelia mengingatkan bahwa sebelum hadirnya media sosial, banyak orang memilih mengungkapkan rasa melalui surat dan bait-bait puisi yang ditulis dengan penuh ketulusan.
Banyak karya musik legendaris lahir dari puisi para sastrawan besar. Lagu Sajadah Panjang yang dipopulerkan Bimbo berangkat dari puisi karya Taufiq Ismail. Begitu pula Derai-Derai Cemara, hasil musikalisasi puisi Chairil Anwar yang kemudian dikenal luas lewat Banda Neira. Dari sana terlihat bahwa puisi tidak hanya dibaca, tetapi juga dinyanyikan dan diwariskan lintas generasi.
Nama Chairil Anwar memang tak bisa dipisahkan dari sejarah sastra Indonesia. Lewat karya-karya seperti Aku dan Krawang-Bekasi, ia menghadirkan puisi yang berani, jujur, dan penuh semangat zaman. Bersama Sapardi Djoko Damono, W.S. Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, hingga Taufiq Ismail, mereka membuktikan bahwa puisi mampu menjadi cermin kehidupan, kritik sosial, sekaligus ungkapan cinta yang tak lekang oleh waktu.
Yang membuat siaran malam itu terasa hangat adalah cerita para pendengar. Salah satunya datang dari Dev di Cawang yang mengaku pernah menyimpan puisi untuk perempuan yang dicintainya, tetapi tak pernah berani memberikannya. Perempuan itu akhirnya menikah dengan orang lain. Hingga kini, buku harian berisi puisi tersebut masih ia simpan, bukan untuk disesali, melainkan sebagai pengingat bahwa setiap orang pernah memiliki kisah yang membuatnya tumbuh menjadi lebih dewasa.
Cerita Dev rupanya mewakili banyak orang. Kolom pesan program Kilau Kenangan dipenuhi kenangan tentang surat cinta, puisi masa sekolah, hingga lagu-lagu lama yang selalu mengingatkan pada seseorang. Bagi sebagian pendengar, puisi bukan sekadar rangkaian kata, melainkan rekaman emosi yang tetap hidup meski puluhan tahun telah berlalu.
Malam itu, Amelia Adriati menutup siaran dengan kalimat sederhana namun membekas: "Puisi tidak selalu ditulis di atas selembar kertas. Kadang ia hidup dalam sebuah lagu, dalam pelukan keluarga, atau dalam kenangan yang terus kita simpan." Barangkali di situlah letak keindahan puisi yang sesungguhnya. Ia mungkin tak selalu dibacakan, tetapi selalu menemukan jalan untuk tinggal di hati setiap orang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....